ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: GAYATRI DAN PUTARAN KEHIDUPANNYA PART 1



            Bukkk  ... tombak yang menyangga tubuh Dewangkara terjatuh dengan suara yang cukup kencang dan membuat tubuh Dewangkara yang sejak tadi bertahan di posisi berlututnya kini jatuh ke atas tanah, pertanda bahwa nyawa Dewangkara telah pergi meninggalkan tubuhnya. 


“Dewangkara!”


            “Dewangkara!!!”


            “Kumohon buka matamu, Dewangkara!!”


            Gayatri berulang kali mengguncang tubuh Dewangkara. Akan tetapi usahanya itu tidak membuahkan hasil yang diinginkan oleh Gayatri. Suara Gayatri tidak lagi bisa didengar oleh Dewangkara. Sentuhan Gayatri tidak lagi bisa dirasakan oleh Dewangkara. Semua karena nyawa yang berada dalam tubuh Dewangkara telah pergi dan meninggalkan tubuhnya.


            “Dewangkara ... aku mohon padamu, buka matamu!! Kita harus pergi dari sini, besok kita masih harus menikah. Bukankah kau sudah janji padaku, Dewangkara???”


            Di depan tubuh Dewangkara yang kini mula kaku, Gayatri terus menangis berulang kali berusaha untuk membangunkan Dewangkara. Akan tetapi bagaimana pun mencoba, usaha Gayatri itu tetap akan berakhir sia-sia karena Dewangkara telah kehilangan nyawanya.


            “Kukira ... Paman hanya bercanda padaku. Nyatanya ... apa yang Paman katakan padaku adalah benar.”


            Telinga Gayatri mendengar suara yang berbicara di arah belakangnya.  Tanpa banyak bicara, Gayatri langsung menolehkan kepalanya untuk melihat pemilik suara itu.


            “Kau???” Mengenali pemilik suara itu, Gayatri langsung memandang tajam ke arah pemilik suara itu. “Mau apa kau di sini, Danapati?”


            Danapati melemparkan senyum kemenangannya pada Gayatri yang memandangnya dengan tajam dan wajah basah oleh air mata. “Tentu saja menikmati pemandangan paling indah yang selalu aku impikan dalam hidupku. Kau mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya selalu dibandingkan dengan orang lain dan selalu kalah dari orang itu, Gayatri?? Itulah hubunganku dengan Dewangkara.”


            “Jadi ... kau kemari hanya ingin melihat bagaimana kematian Dewangkara??” Gayatri bertanya masih dengan tatapan tajamnya.


            Danapati mendekat ke arah Gayatri untuk memandang tubuh Dewangkara yang mulai membujur kaku karena kematiannya. “Itu benar. Aku datang kemari untuk melihat kematian menyakitkan yang datang pada sainganku. Tapi siapa yang akan menyangka, aku juga bertemu denganmu di sini, Gayatri. Kau benar-benar gadis yang menarik. Kau tanpa takut masuk ke Lamajang hanya untuk bertemu dengan Dewangkara. Sayang sekali ... Dewangkara yang kau cintai itu telah pergi bahkan sebelum kalian mengikat janji pernikahan.”


            “...” Gayatri tidak membalas ucapan Danapati itu dan mengabaikannya seolah Danapati tidak ada.


            “Gayatri??” Biantara yang sejak tadi berkeliling dan sempat kehilangan Gayatri kemudian menemukan Gayatri bersama dengan Danapati yang mengenakan pakaian bayangkara. Biantara langsung menghampiri Gayatri demi menjaga nonanya. “Gayatri, dari mana saja ka-“


            Ucapan Biantara terhenti begitu melihat sosok yang tergeletak di tanah tepat di depan Gayatri. Mata Biantara membulat besar dan mulutnya bergetar karena tidak bisa percaya dengan kedua matanya yang membuatnya melihat sosok yang dikaguminya itu telah kehilangan nyawanya dengan cara yang menyakitkan.


            “Benar, Biantara. Ini Dewangkaraku.” Gayatri mendekat ke tubuh Dewangkara dan kemudian berusaha untuk membopong tubuh Dewangkara yang mulai membujur kaku.


            “Apa yang akan kau lakukan, Gayatri?” Danapati mengerutkan keningnya melihat tindakan dari Gayatri. “Ke mana kamu akan membawa pergi tubuh Dewangkara yang telah kehilangan nyawanya itu??”


            “Dewangkara adalah suamiku. Meski dia telah pergi, aku akan membawa tubuh suamiku ini dan menguburkannya di makam keluargaku.” Gayatri mencoba berjalan dengan membawa tubuh Dewangkara yang kaku dan berat.


            “Dia bukan suamimu, Gayatri!!” Danapati tiba-tiba menaikkan nada bicaranya kepada Gayatri dan membuat Biantara tersentak dari rasa terkejutnya. “Kau dan Dewangkara belum menikah!! Jadi kau tidak perlu bersusah payah membawa tubuh itu dan menguburkannya di makam keluargamu. Sebaliknya ... harusnya kamu melihatku dan bukan tubuh yang sudah kehilangan nyawanya itu.”


            Gayatri menghentikan langkah kakinya karena terkejut mendengar ucapan dari Danapati. “Apa yang kau maksud, Danapati?”


            Danapati mendekat ke arah Gayatri dan Biantara yang merasa Danapati akan melakukan tindakan yang berbahaya kepada Gayatri, langsung memasang badannya sbagi penghalang bagi Gayatri.


            “Apa yang ingin Kangjeng lakukan??” tanya Biantara.


            “Tenang saja ... aku tidak akan melukai Nonamu itu, Biantara. Sebaliknya ... aku akan memberikan apa yang begitu diinginkan oleh Nonamu itu.” Danapati membalas ucapan Biantara sebelum membalas pertanyaan dari Gayatri. Akan tetapi Biantara yang masih merasa bahwa Danapati berbahaya, tetap berada di posisinya menghalangi Danapati dari Gayatri.


            “Setelah ini ... aku akan menikahi putri dari Maharaja dan memiliki status sebagai menantu Maharaja. Tidak lama kemudian, aku bisa meminta Paman dan Maharaja untuk menjadikanmu selirku, Gayatri. Dengan begitu keinginanmu untuk menikah akan terpenuhi, Gayatri.”


            Gayatri membulatkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya dari mulut Danapati. “Itu tidak akan terjadi, Danapati!”


            “Kenapa tidak??” Danapati berbicara dengan senyuman di wajahnya. “Pamanku tidak lama lagi akan menjadi Rakryan Mahapatih di negeri ini dan juga orang yang paling dipercayai oleh Maharaja. Permintaan kecil dariku itu tidak akan sulit bagi Paman untuk mewujudkannya, Gayatri.”


            Gayatri mengalihkan pandangannya ke arah Biantara yang berdiri di depannya sebagai penghalang Danapati. “Biantara.”


            “Ya??”


            “Bisakah aku meminta sesuatu padamu?” tanya Gayatri.


            “Silakan.”


            “Aku ingin kau memukul pria di depanmu itu dengan pukulan yang menyakitkan. Aku ingin kau memberi pelajaran padanya untuk menjaga mulutnya itu. Bisa kau melakukannya, Biantara??”


            “Ya, Kangjeng. Saya bisa melakukannya.”


            Buk. Danapati yang masih bingung dan tidak percaya dengan permintaan dari Gayatri pada Biantara, langsung menerima pukulan yang menyakitkan tepat di wajahnya yang dilayangkan oleh Biantara yang berada dekat dengannya.


            “Beraninya kau memukulku, Raksaka????” Danapati yang terhempas sedikit sembari memegang wajahnya yang terasa sakit karena pukulan Biantara, langsung berteriak penuh amarah kepada Biantara.


            “Maafkan aku, Kangjeng. Tapi ini adalah perintah dari Kangjeng yang saya layani. Saya tidak punya pilihan lain karena sudah jadi tugas saya sebagai raksaka untuk menuruti perintah Kangjeng saya.”


            Adu pukul kemudian terjadi di antara Biantara dan Danapati. Buk. Buk. Buk. Dan kebanyakan pukulan Biantara yang berhasil membuat Danapati kewalahan.


            “Tunggu aku di gerbang!  Aku akan menyelesaikan pelajaran ini dengan cepat!!” Di tengah adu pukulnya dengan Danapati, Biantara berteriak pada Gayatri yang terus berjalan membawa tubuh Dewangkara.


            “...”


            Gayatri tidak membalas ucapan dari Biantara karena tenaganya yang berharga digunakan untuk membawa tubuh Dewangkara yang tertancap dengan banyak anak panah. Sekali lagi ... air mata Gayatri jatuh melihat tubuh Dewangkara yang penuh dengan anak panah sembari membayangkan rasa sakit yang dialami oleh Dewangkara.


            Buk.


            Setelah berjalan cukup jauh dari tempat Biantara dan Danapati yang saling adu pukul, Gayatri yang merasa kelelahan karena semalaman melakukan perjalanan, kini terjatuh bersama dengan tubuh Dewangkara. Gayatri memandang wajah Dewangkara yang memucat dan menyentuhnya. Gayatri kemudian teringat dengan ucapan Danapati yang akan membuatnya menjadi selirnya setelah pernikahannya dengan putri Maharaja.


            “Suamiku hanya satu dan orang itu adalah kau, Dewangkara. Hanya kau satu-satunya orang yang aku cintai dan itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Seperti ucapanku sebelumnya, aku tidak akan menikah dengan orang lain selain kau, Dewangkara.”


            Gayatri mencoba bangkit dari jatuhnya dan mendekat ke arah Dewangkara. Gayatri kemudian memperhatikan banyak panah yang menancap di tubuh Dewangkara dan matanya terhenti pada satu panah yang menancap tepat di jantung Dewangkara. Gayatri mencabut anak panah itu dan kemudian memandang anak panah yang berlumuran darah dari darah Dewangkara.


            “Jika dalam kehidupan ini kau dan aku tidak bisa bersama, maka aku akan pergi menyusulmu ke alam baka agar tetap bisa bersamamu, Dewangkara.”  Gayatri tersenyum memandang tubuh Dewangkara yang kaku dan tidak lama kemudian, jleb .... Gayatri menusukkan anak panah dari tubuh Dewangkara tepat ke jantungnya sendiri.


            Sembari merasakan kematian datangnya padanya, Gayatri menatap wajah dari Dewangkara dengan air mata yang masih terus berjatuhan. Dengan kematianku ini, kuharap kau dan aku akan bertemu lagi di kehidupan selanjutnya dan di sana, kita akan bersama. Seperti ucapanku dan janjiku padamu, aku tidak akan menikah dengan siapapun kecuali kau, Dewangkara.