
Klik.
Bunyi jentikan jari itu terdengar lagi dan kali ini begitu membuka mataku, aku langsung menemukan tiga dewa Amaraloka yang sedang berdiri tepat di depanku. Melihat ketiga sosok itu, aku tahu bahwa aku telah selesai melakukan perjalanan sebagai penonton dari putaran kehidupan Gayatri.
“Bagaimana? Apa kau sudah melihat semuanya, Raditya?”
Tes ... tes ... tes.
Aku hendak menjawab pertanyaan dari Hyang Tarangga itu, tapi mulutku terhenti karena aku merasa sesuatu yang membasahi wajahku. Aku mengusap wajahku dan menemukan wajahku basah oleh air mataku sendiri. Ini .. air mataku. Air mata itu membuatku ingat bagaimana aku selalu menangis ketika melihat kematian dari reinkarnasi Gayatri dengan cara yang mengenaskan.
“Apa kau sudah melihatnya, Raditya?” Hyang Tarangga bertanya lagi padaku.
“Ya, Hyang Tarangga. Aku sudah melihatnya. Aku sudah melihat bagaimana Gayatri dan reinkarnasinya selalu memilih mati ketika reinkarnasi Dewangkara mati di hadapannya.”
“Dan itulah yang akan terjadi pada Cintya ketika kau mati, Raditya. Cintya akan memilih untuk mati lagi, menyusulmu ke alam baka dan berniat untuk mengulangi semuanya di kehidupan berikutnya. Sayangnya ...”
Aku menatap heran kepada Hyang Tarangga karena tiba-tiba Hyang Tarangga menghentikan ucapannya yang belum selesai.
“Apa yang disayangkan, Hyang Tarangga?” tanyaku.
“Jika dalam kehidupan ini Cintya gagal lolos dari hukumannya, maka dia tidak akan pernah bisa berjodoh lagi denganmu dan Dewangkara di kehidupan berikutnya.” Hyang Yuda menggantikan Hyang Tarangga menjawab pertanyaanku.
Deg. Jantungku berdetak mendengar ucapan Hyang Yuda. “Apa maksudnya itu, Hyang Yuda? Hyang Tarangga? Kenapa di kehidupan berikutnya aku dan Nona Cintya tidak akan berjodoh?”
Kali ini Hyang Tarangga menjawab pertanyaanku. “Bunuh diri membuat tali perjodohan yang telah ditemtukan terputus, Raditya. Selain karena bunuh diri adalah dosa yang besar, hukuman itu diberikan untuk membuat kembali tali perjodohan yang terputus. Pawestri Manohara harus menjalani kesengsaraan hidup selama empat putaran kehidupan untuk membayar dosanya sekaligus kembali pada Hyang Yuda. Hal yang sama berlaku untuk Gayatri. Sayangnya ... Gayatri dan setiap putaran kehidupannya selalu mengambil pilihan yang sama yang membuatnya selalu gagal untuk kembali padamu di kehidupan berikutnya, Raditya.”
“ ... “ Aku membeku mendengar ucapan Hyang Tarangga. Setelah berbagai adegan menyedihkan yang aku lihat berulang kali, otakku sulit mencerna ucapan Hyang Tarangga saat ini.
“Dalam setiap putaran kehidupan milik Gayatri umurnya tidak akan pernah panjang. Mungkin satu tahun, mungkin dua tahun, setelah reinkarnasi Dewangkara tewas, reinkarnasi Gayatri juga akan kehilangan nyawanya. Gayatri dan putaran kehidupannya hanya perlu bertahan hidup sedikit lebih lama dan belajar menerima kenyataan bahwa terkadang mencintai seseorang tidak harus memiliki dan bersama. Dewangkara mencintai Gayatri. Dalam hidup Dewangkara ada dua pilihan yang diberikan padanya, hidup bahagia dengan Gayatri dan menyesal sepanjang hidupnya atau mati terpisah dengan Gayatri tapi tidak pernah merasakan penyesalan. Dewangkara memilih pilihan kedua karena yakin dalam kehidupan berikutnya dia akan kembali bertemu dengan Gayatri karena cintanya pada Gayatri. Dewangkara juga yakin pada Gayatri bahwa meski dirinya pergi, Gayatri akan hidup dengan baik sembari menunggu kematian datang padanya dan membuatnya bersatu kembali dengan Dewangkara. Itulah yang diyakini oleh Dewangkara ketika membuat pilihan berbahaya itu ... “
Aku terus mendengar penjelasan panjang dari Hyang Tarangga dan setiap penjelasan dari Hyang Tarangga benar-benar tepat. Penjelasan panjang itu tadinya ingin kubantah, ingin kusangkal dengan sekuat tenagaku. Aku merasa hukuman itu terlalu berat untuk Gayatri dan setiap putaran kehidupannya. Akan tetapi perasaan itu hilang ketika aku mendengar penjelasan dari Hyang Tarangga. Apa yang dikatakan dan dilakukan Hyang Tarangga, semuanya adalah demi membuat Gayatri kembali pada Dewangkara dan itu adalah hadiah untuk Dewangkara yang telah memilih mengorbankan nyawanya menyelamatkan banyak orang sebagai ganti kehilangan kebahagiaan miliknya sendiri.
“Maafkan aku, Hyang Yuda. Maafkan aku, Hyang Tarangga. Aku sempat mengira kalian para dewa berlaku tidak adil karena membuat Gayatri dan setiap putaran kehidupannya menderita karena kehilangan. Aku tidak pernah menyangka ujian itu dimaksudkan untuk membuat Gayatri kembali pada Dewangkara.”
“Cih!” Hyang Marana menatapku dengan tatapan kesal. “Inilah yang membuatku terkadang merasa muak dengan manusia. Kalian para manusia selalu melihat dari satu sudut pandang, sering kali menganggap sesuatu yang tidak membahagiakan adalah sesuatu yang tidak adil, sering kali menganggap bahwa permintaan yang tidak dikabulkan adalah bukti bahwa kalian tidak disayangi. Nyatanya ... apapun yang kalian terima baik itu kesedihan dan kebahagiaan semuanya saling terhubung.”
Aku menganggukkan kepalaku sebelum menundukkan kepalaku karena merasa bersalah. Seperti ucapan Hyang Marana, manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas. Dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, manusia menginginkan langit. Manusia tidak pernah puas hanya dengan berpijak di bumi dengan segala kekayaannya. Bagi manusia, langit yang sulit dijangkau itu adalah sesuatu yang menggiurkan dan lebih indah dari pada tanah di mana kaki mereka berpijak dan memberikan mereka segalanya. Dan aku pun tidak jauh dari gambaran manusia yang aku gambarkan.
“Aku hanya perlu bertahan hidup demi Nona Cintya, Hyang Tarangga??”
“Ya. Kali ini aku membuat pengecualian. Aku datang kemari, memberimu mimpi masa lalu kehidupanmu, muncul di hadapanmu dan membuatmu melihat putaran kehidupan Gayatri, karena ingin membuat pengecualian dalam putaran kali ini.”
“Bisa aku bertanya kenapa Hyang Tarangga kali ini membuat pengecualian?” Aku memberanikan diri untuk bertanya pada Hyang Tarangga. Seperti ucapan Hyang Tarangga sebelumnya, hukuman Gayatri harusnya berjalan selama empat putaran kehidupannya. Jika ingin menolong Gayatri, harusnya Hyang Tarangga muncul di hadapanku dan membuat pengecualian itu setelah kegagalan Gayatri dalam putaran keempatnya. Akan tetapi, Hyang Tarangga baru muncul sekarang setelah dua putaran kehidupan dari Gayatri yang juga berakhir dengan kegagalan. Hal itu membuatku penasaran, kenapa Hyang Tarangga baru muncul sekarang?
“Apa kau ingat putaran keenam dari Gayatri, Raditya?” Hyang Tarangga berbalik mengajukan pertanyaan kepadaku.
“Ya, Hyang Tarangga. Aku ingat putaran keenam. Itu adalah putaran paling singkat dalam pertemuan reinkarnasi Dewangkara dan reinkarnasi Gayatri jika dibandingkan dengan putaran-putaran lainnya.”
“Dalam putaran keenam itu, selain reinkarnasi Dewangkara-Haedar dan reinkarnasi Gayatri-Jenar, ada seorang lagi yang mati bersama mereka.”
Aku berusaha mengingat ingatan dalam kepalaku di mana aku melihat kematian Haedar dan Jenar. Ingatanku kemudian membawaku pada seorang wanita tua yang diselamatkan oleh Haedar tapi memilih mati bersama dengan Jenar. Aku menatap Hyang Tarangga dengan mata membulat besar karena tidak percaya dengan apa yang terbersit dalam pikiranku saat ini.
“Mungkinkah itu?”
“Itu benar, aku datang kemari, muncul di hadapanmu dan membuat pengecualian untukmu dalam putaran kali ini adalah karena wanita tua itu. Sebelum tewas, wanita tua itu memanjatkan doa agar kalian bisa bersama. Itulah kenapa dalam putaran kali ini, aku selalu memantau kehidupanmu dan kehidupan Cintya. Aku datang untuk mengabulkan doa wanita tua yang sangat berterima kasih pada Haedar dan tersentuh dengan kisah dan cinta dari Jenar.”
Teka-teki akhirnya terjawab. Alasan kemunculan Hyang Tarangga, mimpi-mimpi yang menggangguku selama ini dan situasi saat ini adalah karena doa kecil dari wanita tua.
Sekali lagi ... sekali lagi ... di kehidupan berikutnya, aku akan bersamamu, Dewangkara. Tiba-tiba aku teringat dengan ucapan dari setiap putaran kehidupan Gayatri sebelum dirinya memilih untuk mati bersama dengan reinkarnasi Dewangkara.
Tes ... tes ... sekali lagi, air mataku jatuh mengalir, menyadari kenyataan bahwa seseorang telah mendengar penderitaan Gayatri dan membantu Gayatri dengan doa kecilnya.