ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: UMPAN YANG MEMATIKAN PART 3



            Beberapa hari sebelumnya ...


            Dyah Halayuda yang telah kembali dari tugasnya untuk melayat ke keluarga Rakryan Mahapatih Nambi di Lamajang tiba di ibu kota ketika malam sudah sangat larut. Dyah Halayuda memutuskan untuk masuk ke antapura keesokan harinya sekaligus menyampaikan pesan dari Rakryan Mahapatih Nambi untuk Maharaja.


            “Salam, Maharaja.” Keesokan harinya ... Dyah Halayuda sengaja datang ke antapura pagi-pagi sekali dan langsung menghadap Maharaja.


            “Pagi sekali kau datang, Dyah Halayuda.”


            “Saya harus melaporkan kunjungan saya ini kepada Maharaja secepatnya.”


            Kening Maharaja mengerut mendengar ucapan Dyah Halayuda. “Apa ada sesuatu yang tidak biasa dengan kunjunganmu ke kediaman Rakryan Mahapatih di Lamajang? Apa kematian Rama dari Rakryan Mahapatih benar-benar memukul Rakryan Mahapatih hingga hari ini dia belum kembali bersamamu, Dyah Halayuda?”


            Senyum kecil muncul di sudut bibir Dyah Halayuda. Kesempatan ini ... mengatakan padaku jika dewa keberuntungan selalu memihakku. Senyuman itu langsung dihilangkan oleh Dyah Halayuda dalam waktu singkat dan mengubah raut wajahnya yang kegirangan dengan raut wajah sedih. Dyah Halayuda bersujud lagi di depan Maharaja sebelum mengatakan laporan dari kunjungannya.


            “Mohon maafkan hamba, Maharaja.”


            “Ada apa ini, Dyah Halayuda? Kenapa tiba-tiba kamu meminta maaf padaku? Apa ada sesuatu yang terjadi??” Maharaja menangkap raut wajah sedih Dyah Halayuda sebagai tanda bahwa Maharaja memakan umpan yang baru saja dilemparkan oleh Dyah Halayuda.


            “Tidak ada yang salah dengan kematian Rama dari Rakryan Mahapatih, hanya saja ... Maharaja ...”


            Buk. Maharaja memukul tangannya ke kursi singgasananya mendengar ucapan berbelit-belit dari Dyah Halayuda.  “Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Dyah Halayuda?”


            Dyah Halayuda menundukkan kepalanya sebelum menjawab mendengar tangan Maharaja yang memukul pegangan singgasananya. “Saya telah menyelesaikan semua tugas dari Maharaja dari datang melayat dengan membawa beberapa barang dari Maharaja untuk Rakryan Mahapatih bahkan telah memberikan tombak buatan khusus itu untuk putra Rakryan Mahapatih-Dewangkara. Tapi niat baik Maharaja itu tidak diterima dengan baik oleh Rakryan Mahapatih. Dengan menggunakan kematian Ramanya, Rakryan Mahapatih mengumpulkan banyak orang di Lamajang untuk menghimpun pasukan, Maharaja.”


            “Pasukan?? Untuk apa Rakryan Mahapatih-ku itu menghimpun pasukan, Dyah Halayuda?” Maharaja yang sudah sangat kesal, kali ini meninggikan suaranya dan membuat Dyah Halayuda semakin bersorak di dalam benaknya.


            “Pa-pasukan itu dikumpulkan oleh Rakryan Mahapatih untuk melawan Maharaja. Rakryan Mahapatih mengatakan pada saya jika selama ini Rakryan Mahapatih tidak menyukai bagaimana kepemimpinan yang dibawa oleh Maharaja. Sebagai tanda dari ketidakpuasaannya, Rakryan Mahapatih mengumpulkan pasukan dengan niat ingin menurunkan Maharaja dari singgasana.”


            Buk. Maharaja memukulkan tangannya lagi dan bangkit dari kursinya dengan berteriak, “Lancang!!!! Beraninya Rakryan Mahapatih melakukan hal itu padaku setelah niat baikku padanya???”


            “Mohon maafkan saya, Maharaja. Saya tahu saya tidak seharusnya mengatakan ini dan ikut campur dengan masalah antapura. Tapi ... saya khawatir dengan keselamatan Maharaja.” Dyah Halayuda berkata dengan nada bicara begitu peduli pada Maharaja, padahal dia baru saja membuat percikan api yang besar dari Maharaja kepada Rakryan Mahapatih Nambi.


            “Kau tidak perlu meminta maaf padaku, Dyah Halayuda. Harusnya aku berterima kasih padamu karena kau peduli padaku dan memberanikan diri untuk mengatakan rencana Rakryan Mahapatih padaku.”


            Maharaja yang memakan umpan dari Dyah Halayuda kemudian memerintahkan semua Rakryan Tumenggung yang ada di ibukota untuk bersiap-siap. Maharaja juga mempersiapkan pasukan pribadinya untuk bersiap dalam beberapa hari-bersiap untuk menyerang Lamajang lebih dulu sebelum pasukan dari Rakryan Mahapatih Nambi datang ke ibu kota dan memporak-porandakan ibu kota dan antapura.


            Di sisi lain Dyah Halayuda yang berhasil memancing amarah Maharaja dengan menggunakan ketidakpercayaan dan ketidakpuasan Maharaja terhadap Rakryan Mahapatih Nambi, bersorak di dalam benaknya. Sebentar lagi ... hanya sebentar lagi saja sebelum aku mendapatkan posisi Rakryan Mahapatih di kerajaan ini dan menjadi orang yang punya kuasa besar di bawa Maharaja.


*


            Dewangkara yang sudah setengah jalan untuk kembali ke kota Tarik memilih untuk mengistirahatkan tubuh dan kudanya di tengah perjalanannya itu. Dewangkara yang mengistirahatkan kudanya di dekat sumber air, melihat beberapa orang melakukan hal yang sama seperti dirinya: beristirahat di tengah perjalanan mereka  yang entah ke mana tujuannya.


            Setelah membiarkan kudanya mendapat air minum dan beberapa rumput liar untuk dimakan, Dewangkara kemudian memilih tempat duduk yang sejuk di bawah salah satu pohon dan mulai memakan bekal yang dibuat oleh kediaman kakeknya.


            Hup. Dewangkara menjejalkan tela rebus ke dalam mulutnya dengan lahap. Dewangkara memakan makanan dengan lahap karena siang hari ini, matahari bersinar cukup menyengat dan membuat Dewangkara sedikit lebih lapar dari yang diperkirakannya.


            “Aku baru saja dengar kabar dari ibu kota ... “


            Percakapan beberapa orang yang tidak jauh dari tempat Dewangkara beristirahat, menarik perhatian Dewangkara.


            “Kabar apa?”


            Dewangkara semakin menajamkan telinganya mendengar beberapa orang yang terlihat sebagai sesama sudagar.


            “Ah benarkah??” tanya sudagar yang mendengarkan.


            “Itu benar. Apa kau belum mendengarnya??”


            Sudagar yang mendengarkan menggelengkan kepalanya. “Belum. Aku belum mendengar kabar itu.”


            “Kalau begitu ... kau pasti tentu belum mendengar kabar yang satu ini.” Sudagar yang sedang bercerita kemudian memberi isyarat pada rekannya untuk mendekatkan telinganya padanya dan kemudian berbicara sedikit lirih agar membuat sudagar yang lain tidak mendengarnya. “Aku dengar kabar .... Maharaja dan pasukannya sedang bergerak dari ibu kota sekarang menuju ke Lamajang. Jadi jika kau ingin pergi ke Lamajang, hentikan niatmu itu jika kau ingin selamat!!”


            Meski sudagar yang bercerita itu telah melirihkan suaranya, tapi rekan yang mendengar cerita itu terkejut dan membuat semua orang yang duduk beristirahat mendengar kabar itu dengan teriakannya. “Kau tidak salah?? Kenapa Maharaja membawa pasukannya ke Lamajang?”


            Apa yang terjadi?? Dewangkara yang mencuri dengar sama terkejutnya dengan rekan si pencerita itu. Kenapa Maharaja datang membawa pasukan ke Lamajang? Apa ada sesuatu yang terjadi tadi??


            “Kau ini ... “ Si pencerita menjadi sedikit kesal karena mulut rekannya itu tidak bisa menjaga rahasia dengan baik.


            “Akan lebih jika kau katakan dengan terang-terangan saja. Mungkin sudagar lain ada yang mau pergi ke Lamajang. Dengan begitu ... kau sudah menyelamatkan beberapa sudagar lain dari kematian.”


            “Itu benar.” Saudagar lain yang duduk dan ikut mendengarkan mengeluarkan pendapat mereka dan membuat si pencerita akhirnya menceritakan kabar yang didengarnya. Dewangkara yang juga ikut mendengarkan dan merasa penasaran pun, merasa ucapan itu adalah benar. Dewangkara harus tahu apa yang terjadi.


            “Baiklah ... baiklah. Aku akan mengatakannya dengan lantang. Aku mendengar kabar dari ibu kota jika Maharaja menerima kabar bahwa Rakryan Mahapatih Nambi menggunakan kematian Ramanya untuk mengumpulkan pasukan dan beberapa orang yang setuju dengannya.”


            Tidak!!  Itu tidak benar!!! Berita macam apa itu?? Dewangkara yang ikut mendengarkan berbicara di dalam benaknya sendiri dan menyangkal bahwa berita itu adalah sebuah kesalahan.  


            “Untuk apa Rakryan Mahapatih Nambi melakukan hal itu??” Salah seorang sudagar lain yang ikut mendengarkan kemudian mengajukan pertanyaan.


            “Dari yang aku dengar, Rakryan Mahapatih Nambi tidak menyukai cara Maharaja kedua dalam kepemimpinannya di kerajaan ini. Eakryan Mahapatih Nambi mengumpulkan pasukannya dan banyak orang yang sepemikiran dengannya sebagai bukti ketidakpuasannya dengan cara Maharaja kedua memimpin kerajaan ini.”


            Ini salah! Ini sebuah kesalahan!!! Rama tidak akan pernah melakukan hal itu pada Maharaja!! Aku tahu dengan baik kesetiaan Rama terhadap Maharaja meski berulang kali Maharaja menyusahkan Rama!!!  Dewangkara yang diam mendengarkan sekali lagi menyanggah kabar itu di dalam benaknya.


            “Itu benar ... aku setuju dengan apa yang dilakukan oleh Rakryan Mahapatih Nambi. Jujur saja sejak Maharaja pertama mangkat dan digantikan oleh Maharaja kedua, negeri ini menjadi sedikit tidak makmur. Banyak peraturan yang tidak jelas, masuk ke ibu kota juga lebih sulit dari yang dulu dan pajak yang kita berikan semakin tinggi saja.”


            “Itu benar.”


            “Aku setuju dengan pemikiran itu.”


            “Aku setuju dengan keputusan Rakryan Mahapatih Nambi.”


            Para sudagar yang mendengar, satu per satu mulai mengeluarkan ucapan mereka menilai kepemimpinan Maharaja kedua yang memerintah saat ini dan membandingkannya dengan kepemimpinan dari Maharaja pertama yang telah mangkat.


            “Lalu kapan pasukan Maharaja akan tiba di Lamajang??” Rekan si pencerita itu kemudian membuka mulutnya lagi.


            “Dari kabar yang aku dengar ... pasukan Maharaja berangkat pagi tadi. Pasukan itu mungkin akan tiba di Lamajang sore nanti dan dari yang aku dengar ... mereka memilih jalur yang tidak biasa untuk melancarkan serangan dadakan di Lamajang.”


            Gawat!!! Jika kabar itu benar, maka Rama dan seluruh orang di Lamajang akan berada dalam bahaya!!!


            “Bukankah itu artinya kita harus membantu Rakryan Mahapatih Nambi agar Maharaja memperbaiki caranya memerintah??”


            “Buat apa??” jawab si pencerita. “Kita hanyalah sudagar kecil yang diperas untuk membayar pajak. Mengikuti perang hanya akan menjadi beban bagi Rakryan Mahapatih Nambi.”


            Dewangkara mengabaikan cerita lebih lanjut dari kumpulan sudagar itu. Dewangkara yang telah memakan habis bekal makan siangnya kemudian menarik kudanya dan hendak kembali ke Lamajang. Tapi sebelum kembali ke Lamajang untuk memberi kabar itu pada Ramanya, Dewangkara harus mengabari Gayatri lebih dulu karena mungkin ... Gayatri telah menunggu kedatangannya.