
Dewangkara samar-samar mengingat mimpi yang dilihatnya kemarin. Mimpi itu bukan mimpi buruk seperti mimpi-mimpi yang selalu datang dalam tidurnya selama enam belas tahun ini. Mimpi itu harusnya bisa disebut dengan mimpi indah karena dalam mimpi itu hati Dewangkara justru merasa senang dan penuh dengan rasa kekaguman. Jika mimpi yang dialaminya adalah bagian dari kenangannya, entah bagaimana Dewangkara bisa melupakan semua kenangan itu selama ini dan alasan dibalik itu, membuat Dewangkara merasa cukup penasaran.
“Apakah Kangjeng tahu sesuatu mengenai pemilik nama itu?” Dewangkara mencoba bertanya untuk mencari jawaban. Meski tidak berharap banyak mengenai hubungan ingatannya dengan pemilik nama itu, Dewangkara merasa mungkin saja ada secercah harapan atau jawaban kecil yang bisa membawanya pada ingatannya yang hilang.
“Mohon maaf, Kangjeng Dewangkara. Tapi akan lebih baik jika kita tidak membahas nama itu lebih dari ini ketika di ibu kota. Saya hanya bisa mengatakan sebatas itu saja kepada Kangjeng.”
“Kenapa begitu?” Dewangkara mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Memangnya ada apa dengan pemilik nama itu?”
“Sejak enam belas tahun yang lalu Maharaja pertama mengeluarkan titah untuk tidak lagi membahas nama itu dan apa yang menimpa pemilik nama itu. Tapi jika Kangjeng merasa ingin tahu, akan lebih baik jika kita bicara mengenai nama itu di luar ibu kota.” Kali ini Hattali Yasodana mengecilkan suaranya ketika bicara kepada Dewangkara seolah semua yang berhubungan dengan nama itu bisa menjadi penyebab bahaya bagi semua orang.
“Rama, Dewangkara?? Apa yang sedang kalian bicarakan berdua???” Kedatangan Gayatri bersama dengan Biantara dan anggota rombongan yang lain kemudian membuat pembicaraan antara Hattali dan Dewangkara terhenti pada titik itu.
Dewangkara sebenarnya ingin bertanya lebih jauh lagi. Tapi melihat bagaimana ekspresi Hattali yang sedikit khawatir, Dewangkara mengurungkan niatnya. Dewangkara hanya menunda pertanyaan itu, kelak Dewangkara berniat untuk bertanya lagi.
Setelah sarapan, Dewangkara kembali bekerja menjadi pemandu bagi sudagar lain yang datang dan kali ini Gayatri bersama dengan Biantara ikut dengan Dewangkara. Alasannya sederhana, Gayatri merasa bosan di kediaman karena anggota rombongan lainnya sedang membeli beberapa kebutuhan yang akan mereka bawa kembali dua hari kemudian. Setelah berusaha membujuk Dewangkara dengan berbagai bujukan, akhirnya Dewangkara mengizinkan Gayatri ikut sepaket dengan Biantara yang selalu menjadi penjaga Gayatri.
“Biantara, untuk yang kemarin terima kasih banyak. Pasti berat harus menggendongku kembali ke kediaman.” Setelah mengantarkan sudagar ke penginapan yang telah dipesan. Dewangkara mengajak Gayatri dan Biantara berkeliling ibu kota dan kali ini melihat lokasi di mana kain-kain diolah menjadi pakaian.
“Tidak masalah, Dewangkara. Kau tidak berat sama sekali. Aku bahkan pernah mengangkat seseorang yang beratnya dua kali lipat darimu.”
“Kau benar-benar raksaka yang hebat, Biantara.”
“Kita bertemu lagi, Dewangkara.” Langkah Dewangkara bersama dengan Gayatri dan Biantara terhenti ketika dua orang muncul di depan Dewangkara dan menyapa Dewangkara.
“Kau lagi, Danapati.” Dewangkara melihat dengan kesal ke arah Danapati dan adik perempuannya yang bernama Mala. “Ada apa lagi kau menghalangi jalanku, Danapati? Apa kau ingin mengejekku lagi soal penyakit lamaku?”
“Kali ini tidak.” Danapati menjawab pertanyaan Dewangkara sembari tersenyum ke arah Dewangkara. Tidak lama kemudian Danapati mengalihkan pandangannya ke arah lain dan Dewangkara tahu ke mana mata Danapati melihat sekarang. “Gadis di belakangmu ini, siapa dia? Gadis secantik ini pasti bukan orang ibu kota?? Kenapa kau tidak mengenalkannya padaku, Dewangkara??”
Menyadari tatapan dari Danapati yang sedikit menjijikkan, Dewangkara dan Biantara secara spontan langsung berdiri di depan Gayatri dan membuat perisai dengan tubuh mereka.
“Jaga matamu itu, Danapati! Apa kau tidak cukup puas dengan banyak gadis ibu kota yang sudah kau rayu??” geram Dewangkara.
“Mereka saja yang mau denganku. Mereka mau dengan rayuanku karena tahu hubunganku dengan Pamanku yang merupakan orang kepercayaan Maharaja. Tapi gadis di belakangmu itu beda, Dewangkara. Demi dirimu yang berpenyakitan, dia berteriak padaku kemarin.”
Dewangkara samar-samar mengingat kenangan di mana Gayatri berteriak pada Danapati karena mengira sakitnya disebabkan oleh Danapati. Tidak ingin membuat masalah lebih panjang dan juga berpikir untuk melindungi Gayatri dari masalah yang mungkin akan datang nantinya karena berusaha untuk menolongnya kemarin, Dewangakara memilih mengambil solusi yang paling muda: meminta maaf kepada Danapati. “Jika kau merasa tersinggung dengan teriakan Gayatri, aku akan meminta maaf padamu sebagai gantinya. Gayatri tidak tahu apapun soal penyakitku dan salah mengira jika kemarin saat penyakitku kumat disebabkan olehmu. Bagaimana?”
“Jadi nama gadis itu adalah Gayatri?? Namanya sungguh cantik sama seperti dengan wajahnya.” Mata Danapati semakin membulat besar pertanda rasa penasarannya kepada Gayatri dan hal itu membuat Dewangkara bersama dengan Biantara memikirkan hal yang sama di saat yang sama: mereka harus melindungi Gayatri.
(1)Raka dalam bahasa Sanskerta berarti Kakak laki-laki.
“Tenang saja, Diajeng(2). Di mata Raka hingga hari ini, kaulah yang paling cantik.”
(2)Diajeng dalam bahasa Sanskerta berarti adik perempuan.
Dewangkara menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Danapati kepada adiknya-Mala. Dewangkara sebagai pria tahu jika ucapan Danapati pada gadis dan wanita tidak pernah ada yang jujur. Dewangkara tahu dengan baik hari ini Danapati akan memuji wanita A dan keesokan harinya akan memuji wanita B. Selalu begitu dan hal itu membuat Dewangkara merasa jijik ketika mendengarnya. Jika Mala lebih cantik dari wanita lain, tidak mungkin Danapati akan merayu banyak gadis di ibu kota. Aku benar jijik mendengar ucapannya yang selalu penuh tipu dan rayuan!!
Gayatri yang berada di belakang Dewangkara dan Biantara kemudian meminta pada Dewangkara dan Biantara untuk bergeser dan memberinya jalan.
“Gayatri??” Dewangkara merasa khawatir.
Gayatri hanya mengedipkan matanya pada Dewangkara sebagai tanda bahwa Dewangkara tidak perlu merasa khawatir padanya.
“Terima kasih untuk pujiannya, Kangjeng Danapati.” Gayatri maju ke depan setelah Dewangkara dan Biantara membuka perisai yang terbuat dari tubuh mereka. Setelah membalas ucapan dari Danapati, Gayatri kemudian melihat ke arah Mala dan tersenyum. “Seperti kata Kangjeng Danapati, adik dari Kangjeng memang sangat cantik.”
“Lihat, Dewangkara!!!” Mendengar Gayatri membalas ucapannya, Danapati langsung berkata pada Dewangkara dengan wajah kebanggaannya. “Gayatri setuju dengan ucapanku. Aku tidak pernah salah menilai seorang gadis, Dewangkara!”
Dewangkara hanya menatap datar ke arah Danapati.
“Jadi Diajeng setuju dengan ucapanku?” Danapati mengalihkan tatapannya dari Dewangkara kembali pada Gayatri.
“Ya.”
“Kalau begitu, apakah Diajeng Gayatri mau menjadi kekasihku?” Danapati yang memang hobi bermain-main dengan gadis cantik langsung menunjukkan niatnya kepada Gayatri tanpa basa-basi.
Di saat yang sama Dewangkara yang sudah hafal betul bagaimana tabiat dari Danapati hanya bisa menggelengkan kepalanya saja sembari membatin: Dia benar-benar pria yang menjijikkan. Hanya saja ... Dewangkara merasa penasaran dengan jawaban yang akan diberikan oleh Gayatri. Jika Gayatri menerima ajakan itu, maka Gayatri sama seperti kebanyakan gadis cantik di ibu kota yang hanya ingin menaikkan kasta keluarga mereka dengan menerima ajakan dari Danapati dan berakhir menjadi mainan dari Danapati. Jika hal itu yang akan terjadi, Dewangkara kelak harus menjauh dari Gayatri karena Dewangkara sama sekali tidak menyukai sifat wanita yang seperti itu.
Tapi apa yang Dewangkara takutkan hanyalah bayangan di dalam benaknya saja.
“Sayangnya saya harus menolak ajakan Kangjeng itu.” Gayatri menolak dengan lembut ajakan dari Danapati. “Saya tidak ingin memiliki pasangan yang membandingkan saya dengan adiknya. Posisi pasangan hidup dan adik adalah posisi yang tidak bisa dibandingkan sama halnya dengan kecantikan seseorang.”
Mendengar penolakan dari Gayatri, Danapati dan adiknya-Mala kemudian langsung pergi dari hadapan Dewangkara, Gayatri dan Biantara. Dua orang pembuat masalah di ibu kota itu akhirnya pergi setelah mendengar ucapan dari Gayatri, hanya saja ... Dewangkara merasa kepergian dua orang itu kelak akan menjadi masalah karena hubungan mereka dengan Dyah Halayuda.