
“Rama!!!” Begitu membuka matanya, Dewangkara mendapati dirinya berada di dalam kereta kuda yang bergerak. Ini??? Kereta kuda milik Rama, bukan?? Dewangkara yang mengenali kereta kuda milik Rakryan Mahapatih Nambi bergegas keluar dari dalam kereta dan menghentikan kusir yang sedang mengendalikan kuda.
“Kita mau ke mana??” Dewangkara bertanya sembari menahan rasa pusing di kepalanya karena racun bius yang diberikan oleh Rakryan Mahapatih Nambi.
“Ke Tarik, Kangjeng Dewangkara. Rakryan Mahapatih memerintahkan saya untuk membawa Kangjeng ke Tarik di mana Kangjeng Hattali tinggal.”
Kening Dewangkara mengerut mendengar ucapan kusir yang masih terus membuat kuda itu menarik kereta kuda di mana Dewangkara berada saat ini. “Lalu bagaimana dengan Lamajang? Bagaimana dengan Rama??”
“Saya tidak tahu, Kangjeng. Saya hanya mendapat tugas untuk membawa Kangjeng pergi ke Tarik.”
Terkejut mendengar ucapan dari kusir itu. Dewangkara menarik tali kekang kuda yang digenggam oleh kusir dan membuat kuda yang membawanya bergerak menuju ke Tarik, berhenti.
“Kangjeng???” Kusir yang terkejut melihat tindakan Dewangkara, hanya bisa berteriak. “Kenapa Kangjeng menghentikan kudanya???”
“Maafkan aku. Tapi aku tidak berniat untuk ke Tarik dan membiarkan Ramaku menghadapi serangan Maharaja seorang diri. Dengan kekuatan yang dimilikinya, kemenangannya saat ini mungkin hanya sekitar 4 banding 6.” Dewangkara masuk ke dalam kereta kudanya dan menemukan tombak pemberian Maharaja di dalamnya. Dewangkara membawa tombak itu, turun dari kudanya dan membawa satu dari dua kuda yang menarik kereta kuda.
“Tapi Kangjeng, Rakryan Mahapatih berpesan pada saya untuk membawa Kangjeng ke Tarik.”
Dewangkara menaiki kuda itu dan menghela nafas sebelum pergi ke arah Lamajang. “Pergilah ke Tarik dan sampaikan pesanku untuk Gayatri Yasodana dan Hattali Yasodana. Sampaikan pesanku, maafkan aku. Maaf jika aku tidak bisa kembali dalam keadaan hidup. Maaf untuk janji yang tidak bisa aku tepati dan maaf, aku tidak bisa menjalani kehidupanku bersamamu di kehidupan ini. Bisa kau menyampaikannya?”
Si kusir untuk sejenak merasa ragu. Tapi kusir kemudian turun dari kereta kuda dan naik ke kuda terakhir yang menarik kereta kudanya. “Saya akan menyampaikannya, Kangjeng.”
“Terima kasih. Lalu pesan terakhirku untuk Gayatri.”
“Apa itu, Kangjeng?”
“Katakan padanya jika Dewangkara putra Rakryan Mahapatih Nambi mencintai Gayatri putri Hattali Yasodana.” Dewangkara menghela nafas panjangnya setelah mengatakan kalimat itu untuk menguatkan tekadnya. “Kau bisa pergi sekarang.”
“Baik, Kangjeng.”
Kusir itu kemudian menendang kuda yang ditungganginya ke arah Tarik dengan kencang. Dewangkara melihat ke arah kusir yang terus menjauh darinya dengan wajah sedih sembari membayangkan wajah sedih dari Gayatri ketika menerima pesan itu. Maafkan aku, Gayatri. Harusnya aku kembali padamu untuk menepati janjiku padamu. Tapi setelah berulang kali aku memikirkannya, ucapan Rakryan Tumenggung Sena itu selalu muncul di dalam benakku.
“Aku tidak akan memilih di antara keduanya.”
“Lalu apa yang akan lakukan? Kamu tidak akan bisa selamanya berdiri di antara keduanya. Suatu saat keduanya akan memaksamu untuk memilih.”
“Aku memang tidak memilih keduanya, tapi aku akan membuat pilihanku sendiri tidak berdasarkan kesetiaan dan hubungan kasih sayang yang kumiliki. Aku hanya akan memihak pada kebenaran. Aku akan melindungi pihak yang benar meski itu artinya aku melanggar sumpah kesetiaanku, meski itu artinya aku harus melepaskan hubunganku itu.”
“Jika saya berada di posisi Mahisa Anabrang saya akan memilih untuk menangkap hidup–hidup Adipati Tuban dan membiarkan Maharaja yang menghukumnya secara langsung. Hukuman yang diberikan langsung oleh Maharaja tidak akan menyakiti siapapun termasuk Guru.”
“Saya akan berdiri di sisi yang benar, Maharaja. . .”
Selama beberapa waktu aku menghabiskan hidupku bersamamu, tinggal di Tarik, bekerja bersamamu dengan Biantara dan Rama Hattali, aku merasa sangat bahagia. Tempat itu damai, tempat itu nyaman. Jika bisa ... aku ingin menghabiskan semua hidupku di sana, memiliki anak bersamamu dan menghabiskan hari tuaku bersamamu. Jika bisa ... aku ingin mati di tempat nyaman itu. Jika bisa ... aku ingin melakukannya. Jika bisa ... aku benar-benar ingin melakukannya. Sayangnya ... Dewangkara memutar kudanya dan bersiap untuk kembali ke Lamajang. Dewangkara mengeratkan tombak yang tergantung di punggungnya dan menarik nafas panjang membulatkan tekadnya lagi.
Sayangnya ... kebahagiaan itu terasa tidak nyata ketika aku tahu bahwa ada sesuatu yang harus aku lakukan lebih dulu. Dewangkara menendang kudanya dan membuat kudanya berlari dengan kecepatan terbaiknya menuju kembali ke Lamajang. Dewangkara terus memacu kudanya untuk berlari kencang dengan ucapan Rakryan Tumenggung Sena yang terus berputar di dalam benaknya.
Lima tahun yang lalu, aku tidak bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah dalam kasus guruku.
Pikiranku membawaku pada sebuah pengandaian. Aku berpikir seandainya saja Mahisa Anabrang memiliki sedikit welas di hatinya, mungkin nasib tragis guruku akan memiliki akhir yang berbeda. Tapi ... jauh dalam pikiranku, aku selalu menyalahkan diriku sendiri karena saat itu, aku sendiri punya kesempatan untuk menyelamatkan guruku.
Lima tahun yang lalu ... harusnya aku melakukan hal ini. Melihat getaran di tangan guruku saat itu, harusnya aku berlari mendekatinya dan menghentikannya.
Jika saat itu aku melakukan hal itu, akankah Guruku menghentikan niatnya untuk membunuh Mahisa Anabrang? Jika saat itu aku melakukan hal itu, akankah kisah tragis dari guruku memiliki akhir yang berbeda? Jika saat itu aku melakukan hal itu, akankah situasi buruk ini menjauh dari hidup Guruku?
Butuh lima tahun lamanya bagiku untuk menemukan jawaban yang tepat ini. Sekarang ... aku sudah berdiri di sisi yang benar, Rangga. Kali ini ... aku tidak akan gagal lagi, aku tidak akan menyesal lagi. Semua perasaan bersalah yang selama ini kurasakan akhirnya akan pergi.
Dewangkara memandang ke depan dan berharap bahwa Lamajang masih dalam keadaan baik-baik saja saat ini. Jika bisa bertemu denganmu, Rakryan Tumenggung Sena, aku ingin bertanya padamu. Aku ingin bertanya apakah kau menyesal memilih mengorbankan nyawamu untuk menyelamatkan gurumu? Apakah kau menyesal ketika tahu akhirnya istrimu memilih mati demi menjaga nama baikmu dan namabaik kerajaan? Jika kau tahu akhirnya akan seperti itu, apakah kau menyesali keputusanmu saat itu, Rakryan Tumenggung Sena?
Jika bisa bertemu denganmu, aku sungguh-sungguh ingin menanyakan hal itu padamu, Rakryan Tumenggung Sena.
Jujur saja, Dewaagkara ingin sekali berbalik dan membuat kudanya pergi ke arah Tarik ketika mengingat wajah Gayatri. Tapi di saat yang sama ketika wajah ayahnya yang mungkin saat ini sedang berjuang mati-matian, Dewangkara mengurungkan niatnya. Maafkan aku, Gayatri. Sekali lagi, maaf dan kuharap kau bisa memahami dan mengerti pilihanku saat ini.