ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
Kepikiran



Kringgg!!!!


Dering telepon terdengar begitu nyaring ketika Zaky baru masuk ke dalam kamarnya. Ia meletakkan tas punggungnya ke samping meja belajarnya kemudian membuka jaket dan meletakkannya di sandaran kursi.


“Halo?” ucap Zaky ketika sudah mengangkat telepon. Namun, ia tidak mendapatkan jawaban apa pun dari seberang.


“Apa ini kamu, Paman?” tanya suara di seberang setelah terdiam beberapa saat.


“Apa ini benar-benar kamu, Paman?” tanyanya sekali lagi.


“Siapa ini?” Zaky bertanya dengan bingung.


“I-ini benar-benar kamu kan?” tanya suara itu lagi dengan nada bicara seolah tidak percaya dengan yang didengarnya.


“Ini benar-benar kamu, Paman,” lanjutnya lagi.


“Halo? Apa anda masih di sana?” tanya Zaky ketika tidak mendengar suara apa pun.


“Apa anda yang menelepon saya juga kemarin?” tanya Zaky ketika menyadari suara yang seperti tak asing di telinganya.


“Anda pasti melakukan kesalahan. Silahkan periksa kembali nomor panggilan yang ingin anda tuju,” ucap Zaky ketika tak mendapatkan respon apa pun.


Zaky ingin memutuskan sambungan telepon itu. Namun, niatnya terhenti ketika mendengar suara isakan dari seberang. Ia kembali mendekatkan telepon itu ke telinganya.


“Ini kamu, Paman!” ucapnya sambil terus menitikkan air matanya.


“A-aku merindukanmu. A-aku benar-benar sangat merindukanmu, Paman Zaky,” lanjutnya sedikit tersendat-sendat. Isakan kembali terdengar dari seberang telepon itu.


“Hah? Apa maksud anda?” tanya Zaky bingung. Bagaimana bisa penelepon itu mengetahui namanya? Lalu apa yang dikatakannya? Merindukan dirinya?


“Paman, apa kamu mendengarkanku? Aku benar-benar merindukanmu.”


Zaky melihat teleponnya dengan bingung. Ia kembali mendekatkan teleponnya kemudian menghela napasnya sedikit kasar.


“Cukup dengan semua lelucon ini. Sekarang saya sedang sangat sibuk,” ucap Zaky yang mulai habis kesabaran. Daritadi orang itu terus saja berbicara omong kosong.


“Jika tidak ada lagi yang ingin anda sampaikan, aku akan menutup teleponnya sekarang,” ucap Zaky masih berusaha ramah.


“Maaf!” seru orang itu dengan cepat ketika Zaky ingin memutuskan sambungan teleponnya. Zaky menghela napasnya kasar, mencoba bersabar.


“Tidak masalah. Semua orang bisa saja melakukan kesalahan setiap saat ketika menelepon seseorang,” sahut Zaky berusaha berbicara dengan sopan.


“Hiks, hiks...” Isakan itu kembali terdengar. Zaky benar-benar bingung. Sebenarnya siapa orang yang meneleponnya itu? Mengapa ia terus saja menangis?


“Aku benar-benar sangat menyesal, Paman,” ucapnya terisak. Zaky hanya terdiam, mencoba mengatur dirinya yang sudah berada di ambang batas kesabarannya.


“Saya tidak tau apa yang anda bicarakan sejak tadi. Tapi sepertinya anda berbicara dengan orang yang salah!” Suara Zaky sudah mulai naik satu oktaf. Sedangkan suara di seberang itu kembali menangis.


“Aku tau itu semua karena kesalahanku, Paman. Aku tau semua itu terjadi karena aku. Tapi, walaupun begitu aku tak ingin Paman membenciku.” Orang itu terus saja berbicara di sela-sela isakannya.


“Aku tau kalau aku sangat egois. Tapi, hatiku terasa sangat sakit, Paman. Aku juga ingin meminta maaf untuk hal itu," lanjutnya.


Zaky tak mengerti apa yang sedang dibicarakan orang di seberang telepon itu sejak tadi. Ia kini benar-benar sudah sangat bingung.


“Saya benar-benar tak mengerti apa yang anda bicarakan sejak tadi. Tapi, aku berharap anda bisa menjaga diri dengan baik,” ucap Zaky yang sudah menyerah untuk menghadapi lawan bicaranya.


“Baiklah. Saya harus menutup teleponnya sekarang!”


“Tunggu! Kumohon, tunggulah sebentar. Tinggallah sebentar lagi,” cegah suara itu cepat untuk menahan Zaky yang ingin memutuskan sambungan telepon di antara mereka.


Zaky menghela napasnya kasar. “Saya benar-benar tak memiliki waktu sekarang,” Zaky berucap dengan marah.


“Aku harus pergi sekarang!”


“Tu...” Suara itu menggantung di udara. Zaky benar-benar sudah memutuskan sambungan telepon di antara mereka.


Zaky menghela napasnya kasar. “Apa itu tadi?” tanyanya tak habis pikir. Ia menggaruk kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal.


“Sudahlah! Tidak usah dipikirkan,” ucap Zaky menyerah. Akhirnya ia pun memilih untuk berbaring di kasurnya, istirahat.


*****


Keesokan paginya


Zaky sedang duduk di meja makan. Sedangkan Dava sedang memasak mie untuk sarapan mereka. Penghuni asrama lainnya berlalu lalang masuk ke ruang makan untuk sekedar mengambil air minum maupun memasak makanan.


Dava duduk di kursi yang ada di depan Zaky. Ia mengambil piring miliknya dan menuangkan beberapa sendok mie ke dalamnya. Zaky juga melakukan hal yang sama.


“Ah, ini sangat sempurna. Memakan mie kuah pedas dan masih panas memang pilihan paling tepat di cuaca dingin ini,” desah Dava ketika sudah memakan beberapa sendok indomie.


“Hei, Zaky! Kamu harus memakannya sekarang sebelum mienya mengembangkan,” ucap Dava kepada Zaky yang hanya mengaduk-aduk mie miliknya.


“Hah? Apa?” tanya Zaky linglung ketika tersadar dari lamunannya.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Dava heran karena melihat Zaky yang melamun. Biasanya Zaky tidak pernah melakukan itu kecuali ia memiliki masalah atau sedang banyak pikiran.


“Tidak ada,” jawab Zaky masih sedikit linglung dan kembali mengaduk-aduk mienya.


Zaky sedang memikirkan masalah telepon semalam. Walau sudah berusaha keras untuk tidak memikirkannya, namun tetap saja ia terus kepikiran tentang hal itu. Ia masih penasaran tentang siapa orang yang meneleponnya itu.


“Benarkah?” tanya Dava merasa tak yakin.


“Jika kamu memiliki masalah, kamu bisa mengatakannya padaku,” lanjut Dava.


“Benar-benar tidak ada masalah apapun,” sahut Zaky.


“Yasudahlah, terserah kamu saja.”


Dava tak ingin ambil pusing karena jika Zaky ingin cerita, maka tanpa diminta ia akan menceritakannya sendiri. Dava pun melanjutkan makannya.


“Dav, sebenarnya semalam seseorang meneleponku,” ucap Zaky setelah beberapa saat. See? Benarkan apa yang dibilang Dava tadi, Zaky akan menceritakannya jika ia memang ingin cerita.


“Memangnya kenapa jika seseorang meneleponmu?” tanya Dava heran.


“Dia meneleponku dan meminta maaf.”


“Meminta maaf? Untuk apa?” Dava bertanya sambil menyeruput kuah mienya.


“Aku juga tidak tau mengapa ia meminta maaf. Awalnya aku berpikir mungkin itu hanyalah sebuah lelucon. Tapi, bagaimana ya aku menanggapi hal ini?” Zaky berpikir keras. Ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal, berusaha menyalurkan rasa bingungnya.


“Jika itu memang lelucon, kamu tidak usah menanggapinya,” saran Dava.


“Tapi, dia tidak terdengar seperti seseorang yang akan melakukan lelucon mengenai itu,” ucap Zaky ketika mengingat nada bicara orang yang meneleponnya itu. Apalagi ia sampai menangis yang terdengar memang begitu tulus karena penyesalan. Zaky benar-benar bingung dibuatnya.


“Wah, benarkah? Apa kamu pernah meminjam uang dari seseorang?” tanya Dava.


“Tidak. Aku tidak pernah meminjam uang dari siapapun. Tunggu... tapi apa hubungannya antara aku meminjam uang dengan permasalahan penelepon itu?” tanya Zaky heran.


“Tidak ada,” jawab Dava acuh dan berujung mendapatkan pukulan pelan di kepalanya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Zaky? Bagaimana Zaky tidak melakukannya? Ia sedang serius berbicara, namun Dava malah sempat untuk bercanda dengannya.


“Lama-lama kamu akan kulaporkan ke polisi dengan pasal tindak kekerasan,” gerutu Dava, mengelus kelapanya yang menjadi sasaran pukulan Zaky.


“Itu salahmu sendiri! Aku sedang serius, namun kamu malah bercanda.”


“Aku hanya berusaha mencairkan suasana yang sudah terlalu serius. Ini masih pagi, tapi kamu sudah berpikir terlalu keras seperti itu,” bela Dava. Zaky hanya menatapnya dengan datar.


“Tapi aku sarankan kamu untuk berhati-hati wahai Zaky Farraz. Bisa jadi itu adalah penipuan telepon. Sangat tidak lucu jika seorang mahasiswa hukum ditipu bukan?”


“Sudah kukatakan tidak seperti itu!” seru Zaky tak terima dengan pemikiran Dava.


“Orang yang terlalu optimis sepertimu itu adalah mangsa yang paling sempurna. Pada tingkatan ini, jika aku adalah seorang scammer, aku pasti akan memilihmu sebagai mangsaku,” jelas Dava yang berusaha memberi pemahaman pada Zaky.


“Ya, terserah kamu saja ingin mengatakan apa,” ucap Zaky menyerah.


Sepertinya membicarakan hal ini pada Dava adalah keputusan yang paling buruk. Bukannya ia mendapat pencerahan, yang ada ia malah semakin pusing memikirkannya.


“Baiklah, nanti mari kita cari tau bersama. Sekarang lebih baik kamu memakan mie milikmu, itu sudah sangat mengembang. Jika kamu tidak ingin memakannya, maka dengan senang hati aku akan memakan semuanya sendiri,” ucap Dava ketawa pelan yang membuat Zaky semakin kesal.


“Terserah! Kenapa aku bisa mengharapkan saran yang bermanfaat darimu?” kesal Zaky.


“Kalau begitu silahkan dinikmati makanannya,” ucap Zaky sambil menuangkan sisa air minumnya ke dalam piring Dava yang masih berisi mie.


“Hei! Apa yang kamu lakukan?” seru Dava tak terima. Sedangkan Zaky sudah pergi meninggalkan ruang makan dan Dava yang menggerutu kesal.


“Sial! Padahal aku baru saja memakannya beberapa suap saja,” gerutu Dava yang menyayangkan nasib mie miliknya yang sudah tergenang air.


“Terkadang tingkah laku Zaky memang tidak bisa dipercaya. Sekarang apa yang harus aku makan?” Dava kembali menggerutu.


“Ah, aku masih sangat lapar,” keluhnya. Padahal ia sudah menambah porsi mie miliknya hingga isi panci itu hanya tersisa sedikit. Tapi lihatlah ia sekarang? Masih kelaparan seperti seseorang yang belum makan berhari-hari.