
Setelah beristirahat, Dewangkara kemudian melakukan percobaan kepada Lingga. Dewangkara meminta Lingga menggunakan pedang dengan tangan kirinya, tombak dengan tangan kirinya dan memanah dengan busur di tangan kanannya dan bukan di tangan kirinya.
“Uwahhh ... apa yang terjadi??” Gayatri berteriak terkejut ketika Lingga kali ini bisa menggunakan pedang, tombak dan panah dengan lebih baik.
“Bagaimana bisa?? Bukankah tadi Lingga masih kesulitan untuk memanah dan menggunakan pedang dan tombak?” Kali ini giliran Biantara yang bertanya dengan wajah terkejut melihat perubahan besar pada Lingga.
Tidak ingin kalah, Hattali yang juga sama terkejut dan takjub melihat perubahan Lingga juga mengajukan pertanyaan kepada Dewangkara. “Apa yang terjadi?? Bagaimana kau bisa membuatnya berhasil, Dewangkara??”
Dewangkara mengangkat tangan kiri Lingga yang saat ini memegang pedang. “Rahasianya adalah ini.”
“Kenapa dengan tangan kiri Lingga?” Gayatri bertanya lebih cepat mewakili Hattali dan Biantara yang juga sama penasarannya.
“Mungkin selama ini tidak ada yang menyadarinya kalau Lingga akan menggunakan tangan kiri lebih dulu untuk melakukan sesuatu. Aku juga tidak menyadarinya karena ketika makan bersama Lingga akan menggunakan tangan kanannya, dia juga menulis dengan tangan kanannya. Tapi ketika turun dari kuda dan naik ke atas kuda, Lingga naik dari sisi yang berbeda dengan kebanyakan orang. Aku baru sadar ketika melihatnya turun sesaat setelah dia hampir melukaiku.” Dewangkara berusaha menjelaskan kepada semua orang yang merasa bingung termasuk Lingga sendiri.
“Apakah hanya itu?” Kali ini Lingga yang bertanya kepada Dewangkara.
“Apa kau sendiri tidak sadar jika kau lebih banyak menggunakan tangan kiri ketika memulai sesuatu??” Dewangkara berbalik bertanya kepada Lingga.
Lingga memikirkan segala sesuatu yang selama ini berusaha untuk dilakukan. Dari mengambil apapun ketika hendak bekerja, respon pertama yang dikeluarkannya ketika hendak terjatuh, dan banyak hal lainnya. Dan dari semua hal yang dipikirkannya, Lingga baru sadar jika tangan kirinya lebih dominan bekerja dibanding dengan tangan kanannya. “Benar, aku lebih sering menggunakan tangan kiriku lebih dulu dari pada tangan kananku.”
“Inilah masalahnya, Kangjeng Lingga. Selama ini kau gagal ujian lapangan bayangkara karena tangan yang kau gunakan untuk memegang pedang, tombak dan busur adalah tangan yang salah. Cobalah berlatih dengan menggunakan tangan kirimu sebagai tangan dominan seperti orang lain yang menggunakan tangan kanannya yang merupakan tangan dominannya. Maka aku rasa tidak butuh waktu lama, kau akan menguasainya.”
“Apa tidak apa-apa aku menggunakan tangan kiriku?” Lingga bertanya dengan ragu sembari melihat tangan kirinya miliknya.
Dewangkara tersenyum melihat ke arah Lingga. “Tidak masalah. Seingatku di bayangkara ada beberapa orang yang juga menggunakan tangan kiri mereka untuk menggunakan pedang dan tombak.”
Gayatri dan Biantara bersorak kepada Lingga dan Dewangkara karena menemukan penyelesaian untuk kegagalan Lingga mengikuti ujian bayangkara hingga tujuh kali. Sementara Hattali yang tidak percaya Dewangkara menemukan jawaban yang tepat untuk Lingga, hanya bisa berterima kasih kepada Dewangkara untuk usahanya selama tiga hari ini.
Hari berganti malam. Dan karena selama tiga hari sudah cukup bekerja keras untuk melatih Lingga, Dewangkara mulai merasakan lelah di tubuhnya.
Nyaris saja aku menyerah mengajar Lingga. Jika hari ini aku tidak menemukan jawaban untuk kegagalan Lingga, mungkin Lingga akan gagal ujian lagi kedelapan kalinya. Setelah makan malam, Dewangkara kembali ke kamarnya dan berniat untuk beristirahat. Tapi sebelum berbaring di atas tempat tidurnya, Dewangkara membuka jendela di kamarnya untuk merasakan angin malam yang berembus. Tapi begitu membuka jendela di kamarnya, Dewangkara menemukan bulan di langit bersinar dengan begitu terangnya ditemani dengan banyak bintang di sekitarnya.
Sepertinya malam ini aku akan tidur dengan nyenyak lagi. Dewangkara membiarkan angin malam itu menerpa wajahnya dan membuat rambutnya sedikit berantakan karena angin malam yang berembus. Dewangkara memikirkan kejadian beberapa hari ini dari ingatannya yang telah kembali, pekerjaan sampingannya menjadi pengajar untuk Lingga, hingga mimpi buruknya yang kini telah sepenuhnya hilang. Dewangkara baru menyadari hari ini, jika selama beberapa hari sejak ingatannya kembali mimpi buruk itu tidak datang lagi dalam tidurnya.
Tok ... Tok ... Tok.
Ketukan pintu di kamar Dewangkara membuyarkan lamunannya. Dewangkara bangkit dari duduknya di dekat jendelanya sembari bertanya kepada tamunya yang tak diundang itu. “Siapa?”
“Ini aku.”
Gayatri melihat ke arah Dewangkara dan kemudian matanya terhenti pada jendela kamar Dewangkara yang terbuka. Senyuman muncul di bibirnya dan memberikan firasat tidak enak pada Dewangkara.
“Kau sedang melihat bulan bukan??”
“Ya, begitulah.”
“Kalau begitu, ayo ikut denganku, Dewangkara. Aku akan membawamu melihat bulan dan bintang malam ini ke tempat yang lebih indah.”
Sudah kuduga ini yang akan terjadi!! Dewangkara membenarkan firasat buruk yang muncul dalam benaknya ketika melihat Gayatri mendatangi kamarnya di malam hari. Jika bisa ... Dewangkara ingin menolak ajakan Gayatri itu karena tidak baik bagi seorang gadis yang belum menikah keluar di malam hari dengan seorang pria yang tidak ada hubungan darah dengannya. Akan tetapi sebelum memberikan jawaban untuk ajakan itu, tangan Dewangkara sudah ditarik oleh Gayatri yang berarti Gayatri tidak menerima penolakan.
Gayatri membawa Dewangkara menyelinap ke belakang kediamannya setelah melewati beberapa ruangan termasuk kamar Biantara dan dapur. Setelah sampai di belakang kediaman, Gayatri mengajak Dewangkara melewati lapangan latihan dan memasuki hutan kecil yang ada di belakang lapangan latihan yang selama beberapa hari ini selalu digunakan oleh Dewangkara dan Lingga untuk berlatih.
“Kita mau ke mana, Gayatri?” Dewangkara bertanya kepada Gayatri karena Gayatri terus mengajaknya berlari sembari menggenggam tangannya dengan erat dan tidak berniat untuk melepaskannya.
Gayatri terus membawa Dewangkara berlari melewati hutan kecil hingga tiba di depan sungai kecil di belakang hutan yang kami lewati tadi. Gayatri kemudian menghentikan langkah kakinya dan melepaskan genggaman tangannya di tanganku. “Kita sudah sampai, Dewangkara. Ini tempat yang aku maksud.”
Sesuai dengan ucapan dari Gayatri tempat itu memang indah. Bulan yang bersinar terang di lagit terlihat lebih dekat dan memantul di sungai di depannya. Bintang-bintang di sekitar bulan pun terlihat lebih indah dan lebih jelas. Ditambah lagi angin yang berembus, suara gesekan daun-daun dan suara air sungai yang mengalir, membuat malam itu terasa lebih indah dan lebih syahdu.
“Kau benar, Gayatri.”
Setelah melihat ke bulan yang bersinar dengan indah, Dewangkara menyadari jika Gayatri tidak menatap ke arah bintang melainkan ke arah dirinya. Gayatri bahkan tersenyum dan membuat Dewangkara merasa sedikit salah tingkah.
“Kenapa kau tersenyum, Gayatri?”
Gayatri langsung mengalihkan wajahnya dari Dewangkara dan menatap bulan di langit, “Malam ini terlihat indah, Dewangkara. Lihatlah bulan itu! Dia bersinar begitu terang, lalu bintang-bintang itu berkelip-kelip dengan indahnya seolah sedang melihat ke arah kita dan merasakan kebahagiaan kita.”
Dewangkara menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Gayatri. Pemandangan ini memang indah. Tempat ini memang tempat yang cocok untuk melihat bulan yang bersinar terang. Tapi ... Dewangkara tidak memahami senyuman yang Gayatri buat di bibirnya. Senyuman yang ditangkap oleh Dewangkara bukanlah senyuman bahagia seperti ucapan Gayatri padanya. Ada hal lain yang membuat Gayatri tersenyum dan merasa bahagia. “Bulan dan bintang itu memang indah. Tapi aku tidak menemukan alasan kenapa kau begitu bahagia hanya dengan melihat bulan dan bintang itu, Gayatri?”
“Tidakkah kau menyadarinya, Dewangkara??”
Kening Dewangkara mengerut tanda tidak mengerti. “Apa yang harus aku sadari?”
Gayatri tersenyum lagi melihat Dewangkara. “Malam ini terlihat sangat indah berkatmu, Dewangkara. Malam ini terasa lebih indah dari pada malam-malam sebelumnya karena aku bersamamu, Dewangkara.”
Dengan sinar bulan yang menyinari dan pemandangan malam yang indah, Dewangkara merasakan jantungnya berdetak kencang. Dewangkara menyentuh dadanya berusaha untuk menenangkan jantungnya yang bergejolak karena situasi yang romantis ini. Ucapan Gayatri itu berhasil membuat jantung Dewangkara melompat kegirangan dan membuat Dewangkara melihat Gayatri sebagai wanita sesungguhnya.