ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: KISAH YANG TIDAK BOLEH DIUNGKAP PART 1



Putriku menyukaimu, Dewangkara. Aku pun juga menyukaimu sebagai anakku. Kau adalah pria yang baik dan berbudi luhur. Tapi terlepas dari perasaanku dan penilaianku padamu, sebagai Rama dari puriku,  aku harus memastikan keamanan putriku sebelum aku melepasnya untuk menikah denganmu dan memintamu untuk menikahinya.”


            Dewangkara terkejut mendengar ucapan Hattali Yasodana. Dewangkara benar-benar tidak menyangka jika Hattali sama sekali tidak keberatan membiarkan putrinya menikahi pria biasa seperti dirinya. “Rama tidak keberatan saya menikah dengan Gayatri? Saya hanya pria biasa yang bekerja sebagai pemandu sudagar di ibu kota. Apa Rama baik-baik saja dengan hal itu?”


            “Justru karena kau adalah pria biasa, Rama bisa memberikan persetujuan itu, Dewangkara. Jujur saja ... Rama tidak akan setuju jika pria yang disukai oleh putriku adalah Rakryan Tumenggung atau seseorang yang memiliki kedudukan di antapura. Aku bicara dari pengalaman kawan-kawanku yang merasakan pahitnya memiliki posisi penting di antapura.” Hattali memberikan alasan kenapa dia bisa menyukai Dewangkara dan membiarkan Dewangkara memanggilnya dengan sebutan Rama. “Jadi biarkan aku bertanya lagi padamu,  Dewangkara. Setelah ini, setelah semua ingatanmu kembali, setelah semua mimpi burukmu menghilang, apa yang akan kau lakukan, Dewangkara? Apa kau juga akan mendaftarkan dirimu menjadi bayangkara seperti Lingga?”


            “Tidak, Rama. Saya tidak akan melakukannya. Alasan besar kenapa saya gagal menjadi bayangkara beberapa tahun yang lalu adalah Rama saya sendiri-Rakryan Mahapatih Nambi. Rama menghadap Maharaja dan menjelaskan alasan saya tidak bisa menjadi  bayangkara. Rama bahkan membuat Maharaja kesal, hanya untuk membuat saya tidak diterima menjadi bayangkara.” Dewangkara menatap kedua tangannya yang memiliki bakat yang luar biasa. “Jadi ... meski saya punya kemampuan untuk duduk di posisi Rakryan Tumenggung atau posisi lainnya,  saya tidak akan mengambil kesempatan itu.”


            “Lalu bagaimana dengan ingatan lamamu itu, Dewangkara?? Apa yang akan kau lakukan setelah ini saat kembali ke ibu kota?”


            Dewangkara menatap Hattali dan melihat sorot mata khawatir. Perasaan itu dan sorot mata itu, bisa dipahami oleh Dewangkara karena apa yang sedang dilihat Dewangkara saat ini pada Hattali mengingatkannya pada ayah asuhnya-Rakryan Mahapatih Nambi yang selalu khawatir padanya.


            “Mungkin setelah ini, setelah saya kembali ke ibu kota, saya akan memberitahu Rama mengenai ingatan saya yang telah kembali. Saya harus membuat Rama tahu siapa musuhnya dan siapa orang yang mencelakai Rakryan Tumenggung Sena. Jika enam belas tahun yang lalu orang itu mampu membuat banyak orang tewas, maka tidak ada jaminan orang itu tidak akan melakukannya lagi. Selama enam belas tahun ini terutama akhir-akhir ini, orang itu terus membuat Rama dalam masalah. Karena itu ... saya harus membuat Rama setidaknya tahu dan waspada kepada orang itu.”


            “Hanya itu?” Hattali mengajukan pertanyaan lagi kepada Dewangkara.


            “Maksud Rama??” Dewangkara mengerutkan keningnya merasa bingung.


            Hattali menatap serius kepada Dewangkara. Tatapan itu lebih serius dari tatapan sebelumnya. “Apa kau tidak akan menuntut keadilan untuk kematian Rakryan Tumenggung Sena??”


            Pertanyaan Hattali itu berhasil memberi pukulan besar bagi Dewangkara hingga membuat kedua mata Dewangkara membulat karena benar-benar terkejut. “Rama tahu akan hal itu??”


            “Ya, aku tahu meski tidak tahu bagaimana detailnya. Aku tahu tapi aku tidak bisa mengatakannya padamu sampai kau mendapatkan kembali ingatanmu, Dewangkara.” Hattali bangkit dari kursi kerjanya dan kemudian berdiri menatap ke arah jendela. Hattali memandang ke arah luar jendela dan membiarkan wajahnya diterpa angin yang berembus.


            “Apa alasan Rama menunda menceritakan hal itu padaku hingga menungguku untuk mendapatkan kembali ingatanku?” Dewangkara bertanya menuntut penjelasan.


            “Ada rahasia yang tidak bisa diungkapkan, Dewangkara. Dan salah satunya adalah rahasia kematian Rakryan Tumenggung Sena dan istrinya.”


            “Tapi Rama sendiri yang memberiku saran untuk datang kemari dan menemukan ingatan saya yang hilang. Kenapa sekarang Rama mengatakan bahwa ada rahasia yang tidak boleh diungkapkan?? Saya benar-benar tidak mengerti, Rama.”


            “Kelak kau akan mengerti. Ketika kau menceritakan apa yang kau katakan padaku saat ini pada Rakryan Mahapatih Nambi, kau akan mengerti. Jika akhirnya kau sudah mengerti dengan maksudku, aku ingin kau bertanya pada Rakryan Mahapatih Nambi.”


            “Apa yang ingin Rama tanyakan?”


            “Maukah Rakryan Mahapatih Nambi menikahkan putranya dengan putriku? Tanyakan itu pada Ramamu, Dewangkara.” Hattali mengatakan niat awalnya kepada Dewangkara. “Setelah mendapatkan jawabannya, kau bisa mengirim surat kemari. Kalau bisa dalam surat itu, aku ingin kau tuliskan bagaimana keputusan yang diberikan oleh Rakryan Mahapatih Nambi mengenai ingatanmu dan tuntutan yang kamu ajukan itu. Akan lebih cepat, lebih baik. Dengan begitu, Gayatri tidak perlu menunggu lebih lama mengenai kejelasannya menikah denganmu atau tidak. Bagaimana? Apa kau bisa melakukannya?”


            “Ya, Rama.”


            Percakapan itu berhenti di situ. Keesokan harinya ... Dewangkara berangkat pagi-pagi dengan membawa kuda tambahan dari kediaman Yasodana untuk membawa kain-kain pesanan dari antapura. Dewangkara berpisah dengan Gayatri, Biantara, Lingga dan Hattali Yasodana dan mengucapkan salam perpisahan untuk sementara. Dewaangkara yakin setelah ini, dirinya akan kembali ke kediaman itu lagi.


            Setelah Dewangkara pergi, Gayatri mengajukan pertanyaan penting kepada Hattali-Ayahnya. “Apa Rama sudah meminta Dewangakara untuk melamarku?”


            “Antara sudah dan belum.” Hattali menjawab pertanyaan itu tanpa menatap wajah Gayatri dan sibuk menghitung pendapatan dari kain yang diberikan kepada Dewangkara.


            “Apa maksudnya itu, Rama?? Apa maksudnya antara sudah dan belum?” Gayatri memasang wajah kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Hattali dan kini sedang menuntut penjelasan untuk jawaban yang membingungkan itu. “Apa Rama tidak menyukai Dewangkara setelah membiarkannya tinggal beberapa hari di kediaman kita?”


            “Tidak. Rama sangat menyukai Dewangkara. Melihat bagaimana Dewangkara bersikap, Rama paham alasan Rakryan Mahapatih Nambi mau mengasuhnya dan begitu menjaganya.”


            Jawaban yang diberikan oleh Hattali itu justru membuat Gayatri semakin bingung dan semakin tidak mengerti. “Jika Rama menyukainya, kenapa tidak meminta Dewangkara untuk melamarku??”


            “Rama memang menyukai Dewangkara. Menurut Rama, Dewangkara adalah anak yang baik yang kelak mampu menjadi suami yang baik. Tapi masih ada satu hal yang mengganjal di hati Rama mengenai Dewangkara.”


            “Apa itu, Rama?” Gayatri langsung bertanya karena jawaban itu masih belum memberikan penjelasan yang bisa dimengerti oleh Gayatri.


            “Soal ingatan yang hilang milik Dewangkara. Aku dulu hanya menduganya saat kau membawa Dewangkara yang kumat penyakitnya. Hanya saja saat tahu ingatan yang hilang itu mengenai kejadian itu, Rama hanya ingin tahu apa yang akan dilakukan Dewangkara mengenai ingatannya itu dan apa yang akan dilakukan oleh Rakryan Mahapatih Nambi setelah mengetahui Dewangkara mendapatkan kembali ingatannya.”


            Gayatri menggelengkan kepalanya masih tidak mengerti. “Memangnya ingatan itu mengenai apa, Rama? Kenapa mendengar penjelasan Rama, aku merasa ingatan itu tidak seharusnya diingat oleh Dewangkara??”


            “Kisah yang tidak boleh diungkapkan.” Hattali menatap wajah Gayatri dengan tatapan serius. “Mimpi buruk dan ingatan yang hilang milik Dewangkara adalah kisah dan rahasia yang tidak boleh diungkapkan.”