
Sebelum kembali ke Lamajang dan memberi kabar pada ayahnya-Rakryan Mahapatih Nambi, Dewangkara pergi ke pos dagang terdekat dari posisi Dewangkara berada saat ini. Di sana ... Dewangkara menggunakan identitasnya sebagai putra dari Rakryan Mahapatih Nambi untuk mengirim pesan secepat mungkin ke kota Tarik. Dewangkara tahu jika Gayatri dan Hattalli telah menunggu kedatangannya karena hari pernikahannya dengan Gayatri yang sudah semakin dekat. Akan tetapi ... situasi saat ini tidak memungkinkan bagi Dewangkara untuk kembali ke Tarik.
Setidaknya ... aku harus mengabari Rama secara langsung mengenai kabar Maharaja yang ingin menyerang Lamajang. Dengan begitu ... Rama pasti akan punya persiapan untuk menghadapi perang yang tidak terhindarkan itu. Atau setidaknya ... Rama bisa punya waktu untuk menjelaskan pada Maharaja bahwa apa yang menjadi alasan Maharaja melakukan penyerangan adalah sebuah kesalahan. Itulah yang saat ini ada di dalam pikiran Dewangkara.
Mengingat bagaimana setianya ayahnya pada kerajaan ini dan juga pada Maharaja yang dilayaninya selama waktu yang cukup lama, Dewangkara yakin ayahnya tidak akan percaya jika Dewangkara hanya menulis surat ke Lamajang dan tetap bergerak ke arah Tarik. Jadi untuk mengantisipasi sikap ayahnya, Dewangkara melakukan hal sebaliknya: kembali ke Lamajang dan mengirim surat ke Tarik untuk mengabarkan kepulangannya yang mungkin akan sedikit terlambat.
“Apa hanya ini saja, Kangjeng?” petugas pos dagang bertanya kepada Dewangkara mengenai surat yang akan dikirimkannya secepat mungkin.
“Ya, hanya ini saja.” Dewangkara mengeluarkan banyak koin emas dan memberikannya kepada petugas pos dagang sebagai upah untuk permintaannya yang sangat mendesak saat ini. “Tolong kirim kuda terbaik dan pengirim terbaik yang bisa bergerak secepat mungkin untuk mengantar surat ini! Apakah koin ini cukup??”
Petugas pos dagang menganggukkan kepalanya. “Ini lebih dari cukup, Kangjeng. Saya akan memilih pengirim terbaik dan kuda terbaik yang bisa mengirim surat ini secepat mungkin.”
“Terima kasih.” Dewangkara hendak segera pergi. Tapi ... sebelum kembali ke Lamajang, Dewangkara menghentikan langkah kakinya dan mengatakan sesuatu pada petugas pos dagang itu. “Satu lagi ...”
“Ya, Kangjeng. Apa ada hal lain yang bisa saya bantu?”
“Ini mungkin hanya kabar angin yang saya tidak bisa menjamin kebenarannya. Akan tetapi untuk menghindari korban yang mungkin berjatuhan, akan lebih baik jika kau menghentikan sudagar yang hendak bepergian ke Lamajang dalam waktu beberapa hari.”
Petugas pos dagang itu langsung terkejut mendengar peringatan dari Dewangkara itu. “Apakah ada sesuatu yang akan terjadi di Lamajang, Kangjeng?”
Dewangkara menggelengkan kepalanya ragu. “Aku tidak yakin akan hal itu. Tapi jika kau melihat rombongan pasukan Maharaja dalam jumlah yang besar, akan lebih baik jika kau melakukan apa yang aku katakan padamu saat ini. Bisa kau melakukannya?”
“Ya, Kangjeng. Saya mengerti.” Petugas pos dagang itu menundukkan kepalanya menuruti ucapan dari Dewangkara.
Setelah memberikan peringatan itu demi menyelematkan nyawa orang lain yang mungkin bernasib sial karena datang ke tempat yang salah, Dewangkara berjalan keluar dari pos dagang dan segera menaiki kudanya untuk kembali ke Lamajang. Tapi rupanya si petugas pos dagang itu menyadari arah mana yang dituju Dewangkara dan terkejut untuk kedua kalinya.
“Kangjeng, tunggu sebentar!!” Petugas pos dagang itu langsung berlari ke arah kuda Dewangkara dan menghentikan Dewangkara yang hendak pergi ke arah Lamajang.
“Ada apa?”
“Bukankah tadi Kangjeng memberitahu saya jika saya harus memberi peringatan kepada sudagar yang hendak ke Lamajang?” Petugas pos dagang berbalik mengajukan pertanyaan kepada Dewangkara.
“Itu benar.”
“Lalu kenapa sekarang Kangjeng sendiri malah menuju ke sana??” Petugas pos dagang menatap Dewangkara dengan tatapan bingung dan tidak mengerti. “Bukankah Kangjeng harus menyelamatkan diri sendiri lebih dulu sebelum menyelamatkan orang lain? Kenapa Kangjeng ke arah sana jika tahu sesuatu yang buruk mungkin menimpa Lamajang tidak lama lagi?”
“Ada seseorang yang harus aku peringati di sana.” Dewangkara memasang senyuman di wajahnya ketika melihat raut khawatir di wajah petugas pos dagang. Dewangkara kemudian menunjukkan tombak buatan khusus yang berada di punggung. “Tenang saja ... aku akan baik-baik saja. Tombak ini adalah pemberian Maharaja padaku jadi ... Maharaja pasti mengenali tombak ini dan tidak akan menyakitiku.”
Sementara itu di kota Tarik, Gayatri yang telah selesai membuat baju pernikahannya bersama dengan Dewangkara mencoba pakaian itu dan menunjukkannya kepada Biantara.
“Bagaimana menurutmu, Biantara?” Gayatri tersenyum senang melihat Biantara sembari memamerkan pakaian terbaik yang dibuatnya sendiri.
“Ini adalah pakaian terbaik yang Kangjeng buat. Kangjeng terlihat sangat cantik sekali dengan pakaian itu.”
Mendengar ucapan Biantara yang memanggilnya dengan sebutan Kangjeng, Gayatri langsung melemparkan tatapan tajam ke arah Biantara. “Kau ... bukankah sudah kularang untuk memanggilku dengan panggilan Kangjeng, Biantara??”
“Hanya sekali saja ... biarkan saya memanggilmu dengan panggilan Kangjeng. Apakah itu tidak bisa?”
“Kenapa kau ingin memanggilku dengan panggilan itu, Biantara??”
“Hanya ingin saja. Sudah lama sekali sejak saya datang kemari karena Rama membawaku untuk menjadi teman untukmu. Sejak saat itu ... kau selalu melarangku untuk memanggilmu dengan sebutan Kangjeng, Gayatri dan aku berterima kasih untuk hal itu. Berkat kau dan Rama, aku punya keluarga dan sebelum kau menikah dengan Dewangkara, aku ingin memanggilmu dengan panggilan Kangjeng.”
Gayatri mengerutkan kedua alisnya merasa tidak mengerti. Gayatri menerka-nerka di dalam benaknya, alasan dari kelakuan aneh Biantara saat ini. “Apakah jangan-jangan kau berpikir, setelah aku menikah aku akan membuangmu, Biantara?”
“Tentu tidak. Saya tidak pernah memikirkan hal itu.” Biantara langsung menangkis pertanyaan dari Gayatri.
“Jangan pernah memikirkan hal itu, Biantara!!! Jangan pernah! Sekalipun jangan pernah!! Aku tidak akan pernah membuangmu! Dewangkara juga tidak akan pernah melakukan hal itu!!! Apalagi Rama! Rama pasti akan marah besar pada siapapun yang melakukan itu padamu, Biantara!!” Gayatri memberi penekanan pada ucapannya sekaligus peringatan bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi.
“Saya mengerti.”
Mendengar jawaban dari Biantara, Gayatri langsung mengubah wajah kesalnya dengan senyuman di wajahnya. “Nah Biantara ... jika kelak kau menemukan wanita yang kau sukai, katakan padaku!! Aku akan membuatkan pakaian pernikahan untukmu dan juga wanita yang kau pilih sebagai kekasihmu!! Bagaimana?”
“Jika kau tidak keberatan, aku akan dengan senang hati melakukannya.”
Gayatri memandang dirinya sendiri di cermin sembari tersenyum membayangkan Dewangkara yang pulang dan melihatnya dengan pakaian. “Kira-kira kapan Dewangkara akan sampai ketika dia berangkat pagi-pagi sekali dari Lamajang?”
“Mungkin sore, mungkin juga menjelang malam.”
“Kira-kira ... apakah Dewangkara akan menyukai pakaian buatanku ini?”
Biantara tersenyum mendengar pertanyaan konyol dari Gayatri. “Apapun yang kau buat, Dewangkara akan selalu menyukainya, Gayatri. Percayalah itu, Gayatri! Mungkin kau tidak menyadarinya ... tapi selama ini meski terkesan bersikap seadanya, Dewangkara selalu perhatian padamu, Gayatri. Kedua matanya selalu melihat ke arahmu tanpa kau sadari.”
Mendengar ucapan Biantara itu ... Gayatri tersenyum kecil sembari bertanya di dalam benaknya sendiri. Jika cinta bisa diukur, jika cinta memiliki satuan, kira-kira cinta siapa yang lebih besar? Cintaku pada Dewangkara atau cinta Dewangkara padaku?