ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
Firasat



“Ke mana lagi kita harus pergi?”


“Loh, bukannya itu suara Zaky?” tanyanya pada diri sendiri ketika mendengar suara Zaky.


Hari sudah menjelang malam.Dava baru selesai mencuci pakaiannya dan menjemurnya di balkon asrama. Saat ingin pergi, ia malah mendengar suara Zaky dari depan asrama.


Dava mengintip ke bawah untuk melihat dengan siapa Zaky sedang berbicara dan ternyata itu adalah Chike. Mereka berdua terlihat bersenang-senang, bahkan sepertinya mereka masih membahas permainan yang mereka mainkan tadi.


“Zaky? Ada apa?” tanya Bu Laila yang ternyata mendengar ucapan Dava. Ia berdiri di samping Dava dan ikut melihat apa yang sedang terjadi dengan Zaky di bawah.


“Wah, mereka berdua terlihat sangat serasi,” puji Bu Laila ketika melihat Zaky dan Chike yang tersenyum bahagia.


“Mereka terlihat sangat serasi? Kamu serius, Bu?” tanya Dava yang tak percaya dengan pendengarannya barusan.


“Astaga, sepertinya semua orang sudah tidak bisa menilai dengan baik,” ucap Dava tak habis pikir.


“Ah, terserahlah! Syukurlah Zaky Farraz, temanku yang malang.” Dava menghela napasnya, menatap Zaky miris.


Sepertinya Zaky telah menemukan seseorang yang sangat bertentangan dengannya. Bagaimana tidak? Kalian tau sendiri bagaimana sifat dan sikap Chike selama ia mengenalnya, tak bisa dideskripsikan. Bisa dibilang Chike itu agak aneh atau perhatian? Entahlah, yang jelas semua itu bertentangan dengan Zaky.


Dava memang sempat menggoda Zaky dengan mengatakan jika Chike sepertinya menaruh hati padanya. Namun ia tak menyangka jika mereka akan benar-benar berakhir bersama.


Bu Laila dan Dava terus melihat Zaky yang Chike yang masih bercanda ria di bawah. Sepertinya mereka tidak menyadari jika ada orang yang memperhatikan interaksi mereka.


“Berhentilah melihat mereka dengan tatapan seperti itu. Jika kamu iri dengan mereka, mengapa kamu tidak mencoba mencari juga satu?” ejek Bu Laila ketika melihat ekspresi Dava yang melihat Zaky dan Chike dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan. Sedangkan Dava melihat Bu Laila dengan tatapan bertanya.


“Jangan menatapku seperti itu. Maksudku, kamu harus mencari seseorang yang bisa berada di sisimu, seperti penghuni kamar 308 itu,” jelas Bu Laila.


“Aku?” tanya Dava yang menunjuk dirinya sendiri sambil menatap Bu Laila mengangguk.


“Oh, ayolah, Bu. Aku tidak membutuhkan semua itu. Jika aku benar-benar mencari, pasti akan banyak sekali wanita yang mengantri untuk bisa bersamaku,” ucap Dava narsis.


“Apakah begitu?” tanya Bu Laila dengan tatapan mengejek.


“Apa kamu tidak percaya padaku, Bu? Astaga... percayalah padaku. Aku masih sendiri sampai sekarang karena aku terjebak di kota yang kecil ini. Tapi jika aku sudah pergi ke pusat kota, pasti akan banyak wanita yang tergila-gila padaku. Kamu tunggulah sampai saat itu tiba, Bu.” Dava berusaha untuk meyakinkan Bu Laila.


“Hahaha, baiklah. Anggap saja aku percaya padamu,” sahut Bu Laila yang tertawa geli dengan sikap narsis Dava. Ia menghembuskan napasnya pelan.


“Tapi apa kamu tau satu hal? Tidak peduli kamu berada di mana, baik di kota kecil mau pun di pusat kota, hidupmu akan terasa menyedihkan jika membiarkan cinta jatuh di pinggir jalan. Tak peduli seberapa suksesnya dirimu, hidupmu tidak akan ada artinya jika orang yang kamu cintai tidak ada di sisimu,” nasihat Bu Laila bijak.


“Astaga... terkadang ucapan mu itu benar dan sangat tepat sasaran, Bu,” sahut Dava sedikit menyindir. Bu Laila tertawa pelan.


“Aku menghargai niatmu, Bu. Tapi itu tidak perlu, terima kasih.”


“Hahaha, baiklah. Aku sudah semakin tua dan aku terdengar semakin cerewet. Jadi kuharap kamu dapat memakluminya.” Mereka berdua tertawa geli dan kembali melihat Zaky dan Chike.


“Ah, sungguh pemandangan yang sangat indah untuk dilihat. Aku sangat suka dengan wanita penghuni kamar 308. Kesetiaan dan perjuangannya dalam cinta....di masa sekarang sangat sulit untuk menemukan orang yang seperti itu.” Bu Laila berucap dengan kagum, salut dengan pendirian Chike dalam cinta selama ia mengenal dan memperhatikannya.


“Wow... aku tidak tau harus merespon bagaimana. Aku sudah ada di asrama ini selama 4 tahun, tapi kamu tidak pernah mengatakan hal seperti itu untukku sekali pun, Bu. Apa kamu tidak bisa melihat kesetiaan dan perjuanganku untuk mendapatkan hatimu, Bu? Ah, ini terasa sangat menyakitkan,” ucap Dava berpura-pura tersakiti.


“Kamu terlihat begitu menyukai penghuni kamar 308, padahal Dia tidak pernah memberikan apa pun untukmu. Sedangkan Aku harus sering memberimu permen dan cemilan manis lainnya. Aku bahkan sudah banyak memberimu begitu banyak suap agar aku bisa mendapatkan hatimu, Bu. Tapi sepertinya itu tidak ada harganya sama sekali bagimu,” lanjut Dava murung.


“Oh, ayolah... kamu itu sudah menjadi penghuni favoritku. Jadi, walaupun kamu sering bersikap berlebihan, kamu akan tetap menjadi favoritku,” sahut Bu Laila terkekeh yang membuat wajah Dava semakin tertekuk.


“Tapi, apakah aku boleh memberitahumu sesuatu?” tanya Bu Laila.


“Apa yang ingin kamu tanyakan, Bu?”


“Kamu akan lulus tepat waktu dan ke depannya kamu akan menjadi jaksa terbaik yang pernah ada,” ucap Bu Laila tersenyum tipis.


“Apa kamu harus mengatakan hal seperti itu sekarang, Bu? Oh, ayolah. Aku memang menghargai niat baikmu untuk menghiburku, tapi aku tau kapasitas otakku sendiri, Bu. Zaky memiliki peluang yang lebih besar untuk hal itu dibandingkan diriku.”


“Hah... siapa yang tau takdir masa depan? Tapi, aku firasatku selalu saja benar. Yah, mungkin jika kali ini Zaky berusaha dengan keras, ia akan berhasil lulus dan membuktikan jika aku salah karena mengatakan bahwa kamu yang akan menjadi jaksa terbaik. Tapi aku hanya bisa berharap yang terbaik,” ucap Bu Laila yang raut wajahnya sudah berubah, namun Dava tak menyadari itu.


“Astaga, mungkin kamu benar jika aku yang akan menjadi jaksa terbaik. Lihat saja, Dia akan gagal jika terus bersikap seperti itu,” ucap Dava. Ia tiba-tiba merasa kesal ketika melihat Zaky dan Chike yang terlihat semakin dekat.


”Sudahlah, jangan terlalu permasalahkan hal itu. Biarkan saja Zaky menikmati semua hal yang bisa Dia dapatkan. Aku ingin Dia melepaskan semua beban yang ada dan pergi bersenang-senang sepuasnya.”


Bu Laila menghela napasnya berat. “Astaga, aku senang melihat Zaky yang tersenyum bahagia seperti itu. Tapi, mengapa aku memiliki firasat buruk tentang ini?” ucap Bu Laila yang memiliki firasat jika akan terjadi sesuatu yang buruk ke depannya.


“Sudahlah, Bu. Kamu tidak perlu terlalu memikirkan hal yang belum pasti, itu hanyalah firasat. Jika Zaky benar-benar gagal, Dia akan mengambil hikmahnya dan menjadi lebih baik lagi untuk ke depannya,” ucap Dava mencoba menenangkan perasaan Bu Laila yang gelisah.


“Bukan itu yang aku maksud. Hah... aku hanya bisa berharap yang terbaik,” desah Bu Laila yang masih tidak bisa menghilangkan perasaan gelisahnya.


“Tunggu! Hari ini tanggal berapa?” tanya Bu Laila tiba-tiba ketika melihat Chike dan Zaky yang sudah berjalan masuk ke dalam asrama.


“Tanggal? Hari ini tanggal 27 Juni. Mengapa kamu tiba-tiba menanyakan itu, Bu?” tanya Dava bingung.


“Tanggal 27... ternyata hanya tersisa beberapa hari lagi,” ucap Bu Laila yang membuat Dava semakin bingung.


Bu Laila menghela napasnya. “Baiklah, aku akan kembali ke kamarku saja,” pamit Bu Laila, kemudian pergi meninggalkan Dava yang masih tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan.