ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
Sedikit Lebih Dekat



Chike keluar dari dalam kamar Zaky. Ia menghapus air matanya ketika sudah menutup kembali kamar itu.


Chike menghela napasnya panjang kemudian berjalan dengan lunglai. Ia berencana untuk pergi keluar agar bisa menghirup udara segar dan menenangkan pikirannya. Namun, baru beberapa langkah sejak ia keluar dari asrama, dirinya malah bertemu dengan Zaky.


Chike berhenti, begitu pula dengan Zaky. Chike menatap Zaky dengan mata sembabnya, sedangkan Zaky malah menunduk canggung untuk menghindari kontak mata di antara mereka.


“Mengapa kamu begitu suka melihatku dengan tatapan itu?” tanya Zaky yang melihat ke sembarang arah. Chike tersenyum.


“Jangan khawatir, Paman. Aku tidak akan menggangu dirimu. Aku juga tidak akan melakukan sesuatu yang tidak kamu sukai. Aku hanya merasa begitu senang karena bisa melihatmu lagi. Selama waktu yang singkat ini saat aku bersamamu, aku akan mengingat dan menghitung semuanya mulai sekarang,” ucap Chike sendu yang membuat Zaky menatapnya dengan bingung.


“Waktu?” tanya Zaky bingung.


“Aku sekarang menyadari tentang perasaanku,” sahut Chike.


“Apa?!” seru Zaky tak mengerti. Mengapa Chike selalu saja berbicara hal yang begitu aneh dan tidak dimengerti olehnya. Bahkan ketika ia bertanya, bukan jawaban yang ia dapatkan. Tapi, ia malah dibuat semakin bingung dengan ucapan Chike yang sama sekali tidak bisa dipahami.


“Itu sudah terjadi begitu saja tanpa aku sadari. Selamat malam, Paman!” Chike pun langsung pergi meninggalkan Zaky yang kembali merasa kebingungan.


“Ada apa dengannya? Apa yang sebenarnya ia katakan?” tanya Zaky bingung sambil menggelengkan kepalanya, tak habis pikir.


Ia hanya menatap kepergian Chike yang kemudian menghilang di tikungan. Zaky yang tak ingin ambil pusing pun memutuskan masuk ke dalam asrama dan menuju kamarnya untuk beristirahat.


*****


Menjelang tengah malam


Chike terus mondar-mandir di dalam kamarnya sejak tadi. Ia sudah pulang sekitar sejam yang lalu dan sudah mondar-mandir seperti itu selama 30 menitan. Ia menggigit kuku ibu jarinya dan berpikir dengan keras untuk mencoba mengingat kembali semua kejadian 10 tahun silam.


“Aku harus mengingatnya! Tolong! Ayolah, kamu harus mengingat semuanya, Chike!” ucapnya pada diri sendiri dengan perasaan gelisah.


Di depannya berdiri seorang pria yang memakai jaket dan topi berwarna gelap. Ia takut ketika melihat pria itu tersenyum padanya. Ia langsung lari dengan cepat, namun pria itu mengejarnya.


“Ayo, Chike! Kamu harus mengingatnya!” serunya lagi pada diri sendiri. Ia terus menggigit kuku ibu jarinya dan berjalan mondar-mandir dari satu sudut kamar ke sudut lainnya.


Chike kecil berjalan mundur dengan perlahan. Pria itu sudah mengeluarkan sebuah pisau dari dalam saku jaketnya.


Chike dengan cepat langsung duduk di kursinya lalu mengambil buku dan alat tulis. Ia mencoba mencatat apa pun yang diingatnya agar tidak lupa.


Chike kecil terus berlari, namun pria itu terus mengejarnya. Chike berlari melewati gang kecil yang minim pencahayaan, hanya ada lampu jalanan yang menerangi. Ia juga melewati beberapa perumahan yang berjejer.


“Ayo, Chike! Kamu harus mengingat semuanya,” ucap Chike. Ia terus menulis semua hal yang diingatnya dan berusaha menggambar gang yang ia lewati pada saat kejadian itu.


Di sini lain, Zaky baru selesai mandi. Ia keluar dari kamar sambil membaca bukunya dan berencana untuk duduk di ruang makan.


“AAKKKHHHH!!” suara teriakan frustasi terdengar dari dalam kamar Chike yang berhadapan dan berbeda beberapa kamar dari kamarnya. Zaky yang mendengar suara itu merasa heran.


“Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanyanya pelan pada diri sendiri. Namun, tak ingin menggangu privasi orang lain, Zaky pun memutuskan untuk melanjutkan niatnya.


*****


Keesokan paginya


Chike sedang menikmati teh seduhannya dengan santai di ruang makan yang sepi. Zaky membuka pintu ruang makan yang tertutup dan melihat Chike yang sedang minum dengan santai.


“Chike!” panggil Zaky ragu ketika sudah menutup kembali pintu ruang makan.


“Ya?” sahut Chike tersenyum ketika melihat siapa orang yang memanggilnya.


“Itu...apa kamu sudah makan?” tanya Zaky gugup.


“Apa mungkin jika kamu tidak suka nasi? Soalnya aku belum pernah melihatmu makan nasi selama berada di sini,” ucap Zaky.


“Oh, itu...mungkin?” sahut Chike ragu. Ia baru sadar belum pernah makan nasi selama berada di sana. Ia terlalu larut dalam pikiran dan perasaannya.


“Itu... aku baru saja dari warung dan membeli beberapa kue basah. Apa kamu mau makan bersama?” Zaky menunjukkan kresek yang dipegang tangan kirinya.


“Ya, tentu saja!” sahut Chike senang. Ia bahkan tersenyum lebar yang dibalas senyuman juga oleh Zaky.


“Apa maksudmu, Paman?” tanya Chike yang tak mengerti.


“Matamu terlihat sembab. Aku juga mendengarmu yang berteriak,” ucap Zaky ragu.


“Ah!” Chike memegang matanya yang memang terasa sembab. Sepertinya semalam ia terlalu banyak menangis.


“Tidak ada kejadian khusus. Hanya saja sekarang aku sudah mengetahui alasanku berada di sini,” lanjut Chike.


“Alasanmu datang ke asrama ini? Bukankah karena kamu sedang berkuliah di sini?” tanya Zaky bingung.


“Tidak. Bukan itu.”


“Lalu apa alasanmu datang ke sini? Dari mana kamu berasal?” tanya Zaky lagi.


Chike memegang gelasnya dengan kedua tangan dan kembali meminum teh hangat miliknya. Ia meletakkan gelas yang berisi teh itu di atas meja, namun masih dipegang di antara kedua tangannya.


“Dari mana aku berasal? Entahlah, aku juga tidak tahu dari mana aku berasal,” jawab Chike pelan.


Ia menundukkan kepalanya. “Yang pasti aku berasal di mana kamu seharusnya berasal. Namun, bukan aku,” jawab Chike yang membuat Zaky kembali merasa bingung.


Zaky hanya bisa tertawa pelan dan menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir dengan Chike. Selalu saja ucapannya itu sangat susah untuk dimengerti.


“Omong-omong, aku sudah pernah mengatakannya di pertemuan kita yang sebelumnya. Bukankah aku sudah mengatakan untuk tidak memanggilku Paman? Tapi, mengapa kamu masih saja memanggilku begitu?” tanya Zaky yang berusaha mengubah topik.


“Dari yang aku lihat, sepertinya kita seumuran. Mungkin hanya akan berbeda beberapa tahun saja. Apa aku terlihat begitu tua hingga kamu memanggilku Paman?” Zaky kembali bertanya. Chike tersenyum lebar dan membuat Zaky terdiam.


“Tunggu, apa kamu masih begitu muda? Jangan katakan bahwa tebakanku mengenai kamu masih anak SMA itu benar?” tanya Zaky membuang mukanya dan melihat ke sembarang arah.


“Hahaha, kamu benar. Kita hampir seumuran sekarang dan mungkin kita bisa menjadi teman. Dan aku pasti akan mengejarmu,” sahut Chike tertawa pelan.


“Memangnya berapa umurmu?” tanya Zaky, kembali berusaha menatap wajah Chike.


“Aku? Tanggal 2 Mei lalu usiaku genap 20 tahun,” sahut Chike yang membuat Zaky tertawa.


“Oh, ayolah! Aku hanya 2 tahun lebih tua darimu. Tapi, kamu mengatakan ingin berusaha untuk mengejarku? Memangnya apa yang harus kamu kejar?” tanya Zaky yang masih tertawa pelan.


Zaky tak habis pikir dengan Chike. Apa tadi yang ia katakan? Ingin mengejarnya? Maksudnya mengejar perjalanan hidup yang sudah dilaluinya? Oh, ayolah! Dia pasti akan merasakannya sendiri seiring umurnya yang semakin bertambah.


“Ya, mungkin kamu benar,” sahut Chike pelan.


“Kurasa sekarang kita sudah bisa berbicara dengan santai antara satu sama lain,” ucap Zaky yang disetujui oleh Chike. Sepertinya Chike tidak seaneh yang dipikirkan olehnya. Ternyata Chike orang yang asik ketika diajak bicara.


“Ya, kamu benar. Kita bisa berbicara dengan santai,” ucap Chike.


“Mungkin hal itu bisa dimulai dari dirimu yang memanggilku Kakak,” saran Zaky tersenyum.


“Tapi, aku lebih suka memanggilmu dengan sebutan Paman,” jawab Chike menggoda Zaky.


“Awas saja jika kamu masih berani memanggilku seperti itu,” ucap Zaky berpura-pura marah.


“Hahaha, baiklah, baiklah. Aku mengerti. Jika itu yang Paman inginkan, maka mulai sekarang aku akan memanggilmu Kakak. Kak Zaky!” ucap Chike tersenyum lebar yang membuat Zaky kembali terdiam.


Deg!


“Lagi? Mengapa kamu melakukannya lagi?” tanya Zaky pelan yang membuang wajahnya ke samping, kembali tak berani untuk menatap Chike.


“Apa yang kamu katakan, Kak?” tanya Chike yang ternyata mendengar Zaky menggumamkan sesuatu.


“Ka-kamu... mengapa tersenyum seperti itu?” ucap Zaky yang gugup sambil memegang tengkuk, merasa sedikit malu.


“Oh, maafkan aku,” ucap Chike yang merasa tak enak hati. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, apakah senyumannya begitu aneh hingga Zaky berkata seperti itu padanya? Entahlah, tidak ada yang tau dengan pikiran mereka berdua.


Akhirnya mereka pun kembali melanjutkan sarapan. Mereka sesekali juga bercerita mau pun bercanda dengan santai. Pagi itu, baik Chike mau pun Zaky, senyuman lebar terus terukir di bibir keduanya.