ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: PILIHAN DAN KONSEKUENSI PART 1



            Dewangkara merasa beruntung ketika menemukan jaraknya dari Lamajang masih belum cukup jauh. Dengan berkuda selama setengah hari, Dewangkara sudah tiba di dekat Lamajang. Akan tetapi keberuntungan itu hanya berlangsung sejenak ketika semakin dekat dengan Lamajang, dirinya mendengar suara pedang yang saling beradu dan memecah udara, Dewangkara juga mendengar suara anak panah yang dilepaskan dan memastikan jika pasukan Maharaja telah tiba di Lamajang.


            Perang sudah terjadi. Semakin dekat dengan Lamajang, Dewangkara melihat banyak rakyat kecil yang berlarian menjauh dari Lamajang untuk menyelamatkan diri.


            “Jangan ke sana. Kangjeng!!” Melihat Dewangkara yang bergerak ke arah Lamajang, salah satu rakyat kecil menghentikan kuda milik Dewangkara. “Perang sedang terjadi!!”


            “Apa kau tahu situasi di Lamajang sekarang?? Apakah dua benteng yang dibangun gagal melindungi Lamajang??” Dewangkara mengabaikan peringatan itu dan justru bertanya mengenai dua benteng yang dibangun oleh Rakryan Mahapatih Nambi.


            “Saya tidak tahu dengan jelas. Tapi melihat sebagian orang masih memilih bertahan sepertinya dua benteng itu masih baik-baik saja, Kangjeng.”


            Mendengar hal itu, Dewangkara merasa sedikit lega. Aku mungkin masih sempat untuk menyelamatkan Rama dan orang-orang di Lamajang. Tanpa banyak bicara, Dewangkara langsung menarik tali kekang kudanya dan membuat kudanya berlari ke arah Lamajang.


            Jika aku tidak salah ingat, Rama pernah cerita jika ada jalan kecil yang tersembunyi yang bisa membuatku masuk ke dalam Lamajang tanpa melewati pasukan Maharaja. Sembari terus memacu kudanya berlari kencang melewati orang-orang yang berlarian menjauh dari Lamajang, Dewangkara memacu kudanya dan memilih untuk sedikit memutar untuk bisa masuk ke dalam Lamajang tanpa harus bertemu dengan pasukan bayangkara milik Maharaja.


            Dag dig dug.


            Jantung Dewangkara terus berdetak semakin kencang ketika dirinya semakin dekat dengan Lamajang. Di saat yang sama, suara pedang yang saling beradu semakin terdengar dan membuat tangan Dewangkara sedikit bergetar.


            Kling ... kling ...


            Keringat dingin bahkan menetes di pelipis Dewangkara ketika menyadari dirinya semakin masuk dekat dengan Lamajang dan sebentar lagi tiba di Lamajang. Pilihan ini mungkin membuatku tidak memiliki jalan kembali.  


            “Rama!!!” Dewangkara berteriak memanggil Rakryan Mahapatih Nambi ketika akhirnya dia berhasil masuk ke dalam Lamajang melewati jalan rahasia di dekat hutan yang tidak jauh dari kediaman milik Rakryan Mahapatih Nambi.


            “Dewangkara!!! Kau sudah gila!!!! Kenapa kau kembali, putraku????”


            Seperti yang diduga oleh Dewangkara, ayahnya-Rakryan Mahapatih Nambi tidak menyambut kedatangannya dengan sambutan hangat atau sambutan baik lainnya.


            “Maafkan aku, Rama. Tapi aku tidak bisa kembali ke Tarik jika masalah ini belum selesai. Rama adalah keluargaku dan sudah jadi kewajiban bagi keluarga untuk saling membantu satu sama lain.”


            Mata Rakryan Mahapatih Nambi membulat besar mendengar ucapan Dewangkara. “Gayatri juga keluargamu, Dewangkara!! Dan kau membiarkannya kehilanganmu ketika aku sudah susah payah untuk menyelamatkanmu??”


            “Maaf, Rama. Tapi aku di sini karena pilihanku sendiri. Aku sudah dewasa dan aku berhak untuk menentukan pilihanku sendiri.”  Dewangkara turun dari kudanya dengan tombak di punggungnya. “Bagaimana keadaan saat ini, Rama?”


            Salah satu pasukan dari Rakryan Mahapatih Nambi kemudian bergerak mendekat ke arah Dewangkara dan Rakryan Mahapatih Nambi. Pasukan itu kemudian membisikkan sesuatu pada Rakryan Mahapatih Nambi dan Dewangkara dapat dengan jelas melihat ekspresi Rakryan Mahapatih Nambi ketika mendengar kabar itu.


            “Apa yang terjadi, Rama?”


            “Benteng Pejarakan berada di titik kritis.” Rakryan Mahapatih Nambi menjawab dengan nada rendah seolah harapannya untuk menang adalah harapan yang tidak mungkin diwujudkan.


            “Aku akan pergi ke sana, Rama! Aku akan membalik keadaan dan melindungi benteng itu, Rama!!” Dewangkara kembali menaiki kudanya dan bersiap menuju ke benteng Pejarakan yang berada di sisi lain.


            “Tidak!! Jika kau ke sana dan gagal melindungi benteng itu, kau pasti akan kehilangan nyawamu, Dewangkara!! Aku tidak bisa membiarkan kau pergi ke sana!!”  Rakryan Mahapatih Nambi berusaha untuk menghentikan niat Dewangkara.


            Dewangkara berusaha untuk meyakinkan Rakryan Mahapatih Nambi. Tapi Rakryan Mahapatih Nambi masih merasa tidak yakin dengan Dewangkara.


            “Kau tidak bisa pergi ke sana, Dewangkara!!”


            “Aku akan tetap pergi, Rama. Jika aku bertemu dengan Maharaja di benteng itu, aku akan berusaha untuk meyakinkan Maharaja bahwa kabar yang didengarnya tentang Rama  adalah salah. Aku akan meyakinkan Maharaja untuk bicara dan aku yakin Maharaja mau mendengar ucapanku mengingat hubunganku dengan Gayatri putri Hattali.”


            Rakryan Mahapatih Nambi tadinya tidak ingat Dewangkara yang merupakan keturunan terakhir dari saudaranya, pergi berperang dan mati dalam perang seperti kedua orang tuanya. Terlebih lagi saat ini Dewangkara memiliki janji pernikahan dengan Gayatri  yang masih menunggu kedatangan Dewangkara di kota Tarik.  Tapi saat ini Rakryan Mahapatih Nambi tidak punya pilihan lain. Mengingat bagaimana kuatnya armada pasukan bayangkara milik Maharaja dan kekuatan tempurnya, jika harus jujur  Rakryan Mahapatih Nambi tahu bahwa kemungkinan menangnya sangatlah kecil.


            Akan tetapi menunggu kematian datang begitu saja tanpa berusaha juga adalah sesuatu yang salah. Itulah yang dipikirkan Rakryan Mahapatih Nambi saat ini.


            “Baiklah, Rama akan membiarkanmu pergi ke benteng Pejarakan. Tapi dengan satu syarat. Jika kau sudah tidak sanggup untuk berperang, kau melihat kemungkinan kekalahan dalam perang itu, kau bisa mundur, Dewangkara. Ingatlah ada Gayatri yang menunggu kepulanganmu. Kau bukan putra kandungku dan terikat janji pernikahan dengan putri Hattali, mengingat hal itu Maharaja harusnya bisa melepaskanmu jika aku berakhir dengan kekalahan.”


            Dewangkara ingin menjawab tidak untuk perkiraan dari Rakryan Mahapatih Nambi. Tapi jika mengatakan hal itu, Dewangkara akan membuat Rakryan Mahapatih Nambi semakin khawatir pada dirinya. Jadi dengan terpaksa, Dewangkara menyetujui syarat itu.


            “Jika aku melihat kemungkinan kalah, aku akan mundur, Rama.”


            “Bagus. Dengan begitu Rama bisa sedikit merasa tenang.”


            Setelah berpisah dengan Rakryan Mahapatih Nambi-ayah asuhnya, Dewangkara menendang kudanya ke arah benteng Pejarakan yang berada di sisi lain Lamajang bersama dengan pembawa pesan yang tadi datang. Dan begitu tiba di benteng itu, Dewangkara menyadari jika benteng itu mungkin tidak akan bertahan lama lagi.


            Ini akan menjadi pertarungan tanpa batasan waktu. Kira-kira ... berapa lama aku bisa bertahan?? Dewangkara menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya mengembuskan dalam waktu yang singkat. Dewangkara melihat ke arah matahari yang kini mulai bergerak ke arah barat dan bersiap untuk beristirahat. Kuharap aku masih bisa melihat matahari besok.


            Dewangkara menarik tombak di punggungnya dan memacu kudanya untuk maju ke dalam medan perang untuk mempertahankan benteng Pejarakan dan melindungi Lamajang beserta semua orang di dalamnya.


 


            Di sisi lain, di kota Tarik.


            Biantara yang bertugas menjaga kamar di mana Gayatri dikurung, mendengar kabar kedatangan pembawa pesan yang dikirimkan oleh Dewangkara untuk Gayatri dan Hattali Yasodana.


            Biantara menggantikan Gayatri dan Hattali untuk menerima pesan dari Dewangkara, karena Gayatri sedang dikurung di dalam kamarnya dan Hattali sedang beristirahat karena keadaannya yang kurang sehat semenjak memutuskan untuk mengurung Gayatri.


            “Apa pesan dari Dewangkara? Apakah dia akan kembali?”


            “Inilah pesan dari Kangjeng Dewangkara: Maafkan aku. Maaf jika aku tidak bisa kembali dalam keadaan hidup. Maaf untuk janji yang tidak bisa aku tepati dan maaf, aku tidak bisa menjalani kehidupanku bersamamu di kehidupan ini. Dewangkara putra Rakryan Mahapatih Nambi mencintai Gayatri putri Hattali Yasodana.” 


            Biantara membeku mendengar pesan itu. Biantara tahu jika dirinya menyampaikan pesan itu pada Gayatri, maka nonanya itu akan langsung pergi ke Lamajang untuk menemui Dewangkara. Tapi ... jika Biantara tidak menyampaikan pesan itu, maka kemungkinan Gayatri untuk bertemu lagi dengan Dewangkara akan lebih besar.


            Di saat dirinya meragukan banyak hal, Biantara mengingat pertemuannya dengan Dewangkara saat pertama kali di ibu kota. Biantara mengingat kebaikan Dewangkara dan hal itu kemudian membuat Biantara memutuskan apa yang harus dilakukannya dengan pesan yang diterimanya itu.