
Di sisi lain.
Gayatri dan Biantara melaju dengan kudanya secepat mungkin yang mereka bisa. Akan tetapi gelapnya malam dan beberapa titik berbahaya karena rawan dengan bandit, membuat perjalanan Gayatri dan Biantara harus memutar beberapa kali.
“Jika kau ingin selamat sampai di Lamajang, apapun yang terjadi ikuti aku, Gayatri. Kita mungkin harus memutar jalan beberapa kali karena beberapa daerah di malam hari rawan dengan para bandit!!” Sejak keluar dari Tarik, Biantara sudah memberi peringatan itu pada Gayatri.
“Aku mengerti, Biantara.”
Ini adalah perjalanan malam pertama bagi Gayatri yang merupakan seorang wanita. Harusnya ... Gayatri merasa takut dengan malam yang gelap tanpa bulan dan bintang di langit. Harusnya ... Gayatri merasa takut dengan angin malam ini yang terasa begitu menusuk hingga ke tulang belulangnya. Harusnya ... Gayatri merasa takut. Akan tetapi saat ini di dalam pikirannya, Gayatri hanya bisa berdoa agar kekasihnya-Dewangkara masih bertahan hidup hingga kedatangan Gayatri untuk menyelamatkan Dewangkara.
Apapun yang terjadi, kau harus selamat, Dewangkara!! Apapun yang terjadi, kau harus selamat dan menepati janjimu padaku untuk menikah denganku, Dewangkara!! Selain kau, aku tidak akan pernah menikah dengan siapapun, Dewangkara!! Dalam hatinya, Gayatri yang terus melaju dengan kudanya membuat harapan untuk Dewangkara meski terdengar seperti sebuah ancaman bagi Dewangkara agar tidak meninggalkannya.
*
Yang tidak pernah diduga oleh Dewangkara yang saat ini sedang sibuk menjatuhkan pasukan bayangkara di hadapannya demi membunuh Dyah Halayuda adalah Maharaja yang secara langsung memimpin pasukan bayangkara miliknya untuk menembus benteng Gending di mana Rakryan Mahapatih Nambi berada. Maharaja menggunakan strategi yang sama dengan yang digunakan oleh Dyah Halayuda dengan tujuan untuk segera menjatuhkan pasukan Rakryan Mahapatih Nambi yang sudah berperang sejak tadi dan jumlah pasukannya sangat terbatas.
Tidak butuh waktu lama bagi Maharaja untuk menembus pasukan milik Rakryan Mahapatih Nambi karena berbagai faktor seperti kelelahan dan kalah jumlah. Dalam waktu yang tidak lama itu benteng Gending kemudian jatuh dan Maharaja mengirim sinyal dengan menggunakan suara kepada Dyah Halayuda di sisi benteng lain yakni Pejarakan.
Semua orang kecuali Dewangkara menghentikan apa yang dilakukannya ketika mendengar sinyal itu. Semua orang tahu bahwa sinyal itu adalah sinyal dari Maharaja untuk kemenangannya. Akan tetapi ... Dewangkara yang tidak tahu terus menerjang menjatuhkan bayangkara di hadapannya hingga akhirnya tiba tepat di depan Dyah Halayuda.
Syuttt.
Dewangkara mengayunkan tombaknya ke arah leher Dyah Halayuda dengan niat membunuh Dyah Halayuda. Akan tetapi niat itu terhenti ketika Dewangkara melihat senyuman di bibir Dyah Halayuda.
“Karena kau bukan anggota bayangkara, kau pasti tidak tahu arti suara itu bukan, Dewangkara??” Dyah Halayuda sebenarnya terkejut melihat Dewangkara yang berhasil menembus strategi paling mematikan milik kerajaan. Jika bukan karena suara sinyal dari Maharaja, mungkin saat ini kepala dari Dyah Halayuda sudah terpisah dari tubuhnya karena Dewangkara akan memenggal kepalanya jika Dyah Halayuda tidak membuka mulutnya.
Dewangkara mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan dari Dyah Halayuda. “Apa aku harus tahu tentang hal itu??”
“Kenapa aku harus percaya dengan ucapanmu, Kangjeng Dyah Halayuda?”
Dyah Halayuda tersenyum mendengar pertanyaan dari Dewangkara. “Lihatlah ke belakangmu, Dewangkara!! Lihatlah pasukanmu yang menundukkan kepalanya setelah mendengar sinyal itu!!”
Dewangkara melirik ke belakang dan melihat ucapan Dyah Halayuda padanya bukanlah kebohongan. Tidak!! Rama!!!
“Padamu ... aku tidak pernah berbohong, Dewangkara. Kekagumanku dan semua yang aku katakan padamu selama ini adalah kebenaran Dewangkara. Aku selalu jujur padamu karena kau bukan anak kandung dari Rakryan Mahapatih Nambi dan aku melihat bayanganku pada dirimu. Andai saja aku adalah orang tua asuhmu, aku pasti akan membuatmu duduk di kursi Rakryan Tumenggung, Dewangkara. Tapi sayang sekali ... sekali lagi sayang sekali, Rakryan Mahapatih Nambi yang begitu menyayangimu itu justru membuatmu jadi orang biasa dan bukan Rakryan Tumenggung.”
Dewangkara menurunkan sedikit tombak yang diarahkannya pada Dyah Halayuda dan kemudian mengayunkannya dengan cukup kencang. Buk. Ayunan itu membuat Dyah Halayuda terjatuh dari kudanya dan dengan cepat kuda itu direbut oleh Dewangkara. Tanpa banyak bicara, Dewangkara membawa kuda milik Dyah Halayuda pergi menjauh menuju ke arah benteng Gending di mana Rakryan Mahapatih Nambi-ayah asuh Dewangkara berada.
“Apa tidak perlu kita mengejarnya, Kangjeng?” Salah satu Rakryan Tumenggung yang berada di dekat Dyah Halayuda bertanya pada Dyah Halayuda setelah membantunya bangkit.
“Tidak perlu. Dengan pergi ke sana, itu artinya Dewangkara memilih untuk membunuh dirinya sendiri.”
“Tapi itu ...”
“Memang sangat sayang sekali, bagaimana pun dia adalah orang kedua yang berhasil menembus strategi ini dan nyaris saja membunuhku tadi. Tapi dengan pergi ke benteng Gending dengan tujuan menyelamatkan Rakryan Mahapatih Nambi, kematian sudah pasti akan menjemputnya.”
Melihat punggung Dewangkara yang pergi meninggalkan benteng Pejarakan, Dyah Halayuda mengingat kenangan lamanya, enam belas tahun yang lalu. Anak itu benar-benar mirip dengan Rakryan Tumenggung Sena. Hari itu ... hari di mana pengeroyokan terhadap Ken Sora terjadi Rakryan Mahapatih Nambi sempat memberi perintah pada pasukannya untuk mengganti strategi mereka ke Dirata Meta ketika melihat kedatangan Rakryan Tumenggung Sena yang berusaha menolong Ken Sora. Akan tetapi Rakryan Tumenggung Sena berhasil menembus dan menghancurkan strategi itu meski hanya sesaat. Saat itu ... aku merasa sedkit kagum pada Rakryan Tumenggung Sena karena itu adalah pertama kalinya aku melihat bagaimana pertarungan Rakryan Tumenggung terbaik di Majapahit. Tapi di saat yang sama, aku tahu bahwa Rakryan Tumenggung Sena adalah orang yang berbahaya jika dibiarkan hidup. Entah bagaimana kau bisa semirip itu dengan Rakryan Tumenggung Sena, Dewangkara??
Dyah Halayuda memerintahkan seluruh pasukannya untuk menyerang benteng Pejarakan yang telah kehilangan pemimpinnya dan segera menduduki benteng itu. Dan untuk melakukan hal itu, tidak membutuhkan waktu yang lama karena semua pasukan milik Rakryan Mahapatih Nambi telah kehilangan semangat tempurnya sejak mendengar sinyal dari Maharaja untuk kemenangannya menaklukkan benteng Gending.
Begitu melepas sinyal kemenangannya di udara, Dyah Halayuda bertanya-tanya di dalam benaknya. Kenapa bukan aku yang memiliki Rakryan Tumenggung Sena dan Dewangkara sebagai keponakan atau saudara?? Jika dua orang itu ada di sisiku, sudah sejak lama aku menjatuhkan Rakryan Mahapatih Nambi dan duduk di posisi Rakryan Mahapatih menggantikannya. Aku justru mendapatkan keponakan yang payah seperti Danapati.
Di sisi lain, Dewangkara yang berkuda dengan kencang melintasi Lamajang dan melewati semua pasukan Maharaja yang berhasil masuk ke dalam Lamajang dengan mengayunkan tombaknya. Di dalam hatinya, Dewangkara berharap agar ayahnya-Rakryan Mahapatih Nambi masih bertahan dan selamat dari serangan yang dilancarkan oleh Maharaja sendiri. Aku akan segera ke sana, Rama. Kuharap Rama bisa bertahan sedikit lebih lama lagi.