ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: PILIHAN DAN KONSEKUENSI PART 2



            Seperti yang Biantara duga, Gayatri langsung memutuskan untuk pergi ke Lamajang saat ini juga apapun yang terjadi.


            “Bantu aku, Biantara! Bantu aku kali ini saja!! Aku mohon padamu!! Bantu aku pergi ke Lamajang untuk menyelamatkan Dewangkara!! Aku masih punya kesempatan untuk menyelamatkannya!! Jika aku bisa memohon pada Maharaja, setidaknya Maharaja bisa mengasihaniku dan mengampuni nyawa Dewangkara. Aku mohon padamu, Biantara!! Aku mohon padamu!! Biarkan aku pergi  menyelamatkan kekasihku!!”


            Biantara yang merasa tidak tega dengan Nona yang selama ini selalu dijaganya yang selalu menganggapnya sebagai saudara, untuk pertama kalinya memohon dengan wajah begitu putus asa di depannya.


            “Sebagai Raksaka, aku akan membantu, Kangjeng. Tunggu sebentar di sini, Kangjeng. Aku akan memastikan Kangjeng Hattali tidak bisa keluar dari kamarnya.”


            Air mata Gayatri mengalir deras mendengar jawaban dari Biantara atas permohonannya. “Terima kasih, Biantara.”


            “Tapi untuk berjaga-jaga, saya akan mengantar Kangjeng ke sana. Saya tidak akan membiarkan Kangjeng pergi ke Lamajang seorang diri. Apa Kangjeng bisa memahaminya?”


            “Ya, Biantara. Aku akan pergi ke Lamajang bersamamu.”


            Setelah itu Biantara mengatur siasat agar pelariannya dengan Gayatri bisa berjalan mulus. Biantara mencari ramuan obat untuk tidur dan kemudian menyelinap ke dapur. Biantara kemudian menuangkan sedikit ramuan obat tidur itu ke makanan yang akan diantar ke kamar Hattali. Sejam kemudian, Biantara memastikan jika Hattali yang tertidur karena memakan makanan yang mengandung ramuan obat tidur, mengunci kamar Hattali dari luar.


            Sebelum pergi, Biantara bersujud di depan kamar Hattali dan mengucapkan permintaan maaf sebesar-besarnya kepada Hattali. “Maafkan saya, Kangjeng. Sebagai abdi yang bekerja di rumah ini, saya telah banyak berhutang kepada Kangjeng. Tidak hanya mengambil saya yang telah kehilangan Rama dan Biyu ini di jalanan, Kangjeng memperlakukan saya yang rendah ini juga sebagai putra Kangjeng dan mengizinkan saya memanggil Kangjeng dengan panggilan Rama. Saya sangat-sangat berterima kasih untuk semua kebaikan Kangjeng. Tapi kali ini, saya harus melawan perintah Kangjeng. Dewangkara adalah bagian dari keluarga ini, dia teman saya, dia juga saudara saya, dia juga suami Kangjeng Gayatri dan dia juga anak dari Kangjeng. Meski kemungkinannya kecil, saya harus menyelamatkan Dewangkara apapun yang terjadi agar keluarga ini lengkap kembali, Kangjeng. Setelah kembali dari menyelamatkan Dewangkara, saya akan menerima hukuman apapun yang Kangjeng berikan bahkan jika itu adalah hukuman mati.”


            Setelah mengucap kalimat perpisahannya kepada Hattali, Biantara kemudian membantu Gayatri menyelinap keluar dari kamarnya menuju ke tempat kuda-kuda mereka berada. Gayatri dan Biantara dengan mengendap-endap membawa kudanya pergi dan begitu jauh dari kediaman Hattali, keduanya menaiki kuda mereka dan mulai pergi dari Tarik menuju Lamajang.


            Di Lamajang.


            Hosh ... hosh .... Nafas Dewangkara bergerak lebih cepat dari biasanya sejak tadi turun dari kudanya untuk melawan pasukan bayangkara milik Maharaja. Dengan menggunakan tombak pemberian Maharaja dan senjata yang bisa ditemukannya di medan perang, Dewangkara berhasil menjatuhkan banyak bayangkara yang berhadapan dengannya.


            Satu bayangkara jatuh dan tumbang.


            Dua bayangkara jatuh dan tumbang.


            Sepuluh bayangkara jatuh dan tumbang.


            Dua puluh bayangkara jatuh dan tumbang.


            Tiga puluh bayangkara jatuh dan tumbang.


            Dalam waktu yang singkat, Dewangkara berhasil menahan pasukan bayangkara milik Maharaja dan menumbangkan banyak bayangkara. Dalam waktu singkat, Dewangkara berhasil memukul mundur pasukan bayangkara yang hendak menjatuhkan benteng Pejarakan dan membalik keadaan.


            “Apa-apaan pemuda itu??” Salah satu Rakryan Tumenggung yang ikut dalam perang itu terkejut melihat kemampuan Dewangkara dan tidak percaya pasukannya dipukul mundur hanya dengan kedatangan satu orang saja.


            “Bagaimana kedatangan satu pemuda itu berhasil memukul mundur bayangkara milik Maharaja??” tanya Rakryan Tumenggung yang lain.


            Hosh ... hosh .... Dewangkara mengatur nafasnya lagi sembari melihat pasukan bayangkara di depannya dan jumlah pasukan milik Rakryan Mahapatih Nambi di belakangnya. Tes ... tes ... Keringat dingin mengucur di pelipis Dewangkara sembari dirinya mulai membuat strategi apapun yang diingatnya untuk melindungi benteng Pejarakan apapun yang terjadi. Tapi bagaimana pun Dewangkara berpikir strateginya tidak akan bisa dengan mudah mengalahkan bayangkara milik Maharaja. Pasukan di belakangnya kalah jumlah dan kalah kekuatan jika dibandingkan dengan bayangkara milik Maharaja.


            Cih, aku hanya bisa bertahan dengan sekuat tenaga sembari membangun mental pasukan milik Rama.  Di saat seperti ini, Dewangkara justru mengingat ucapan dari Dyah Halayuda mengenai kesempatan yang mungkin bisa dimilikinya.


            Sial. Dewangkara mengumpat kesal mengingat ucapan Dyah Halayuda itu. Tapi rasa kesal itu tidak berlangsung lama karena bayangkara musuh bersama dengan beberapa Rakryan Tumenggung yang memimpin mulai berdatangan untuk menyerang Dewangkara bersama dengan pasukan milik Rakryan Mahapatih Nambi yang kalah jumlah.


            “Kalah jumlah bukan masalah!!!” teriak Dewangkara dengan penuh semangat. “Kita bisa membalik keadaan ini meski kita kalah jumlah. Asalkan kalian bertahan dan mempertahankan benteng ini, musuh akan kelelahan dan kita pasti bisa menemukan kesempatan untuk menang.”


            Teriakan Dewangkara itu mendapat sambutan dari pasukan di belakangnya karena pasukan itu sudah melihat sendiri kemampuan dari Dewangkara yang mampu menumbangkan banyak bayangkara dalam waktu singkat.


            Bentrokan bayangkara milik Maharaja dan pasukan milik Rakryan Mahapatih Nambi terjadi lagi. Dewangkara mengambil tombak milik pasukan dari bayangkara yang ditumbangkannya dan melemparnya ke arah pasukan bayangkara yang mendekat. Dewangkara melakukan hal itu berulang-ulang dan berhasil memecah sedikit formasi pasukan bayangkara milik Maharaja.


            “Sial, siapa orang itu?? Tenaganya benar-benar luar biasa!!” Salah satu Rakryan Tumenggung yang memimpin bayangkara maju, terkejut melihat bagaimana Dewangkara memecah pasukannya hanya dengan melemparkan banyak tombak dalam waktu singkat.


            Belum cukup sampai di situ, Dewangkara mengambil satu tombak lagi dan menggunakannya untuk membuat lompatan besar. Dewangkara mengambil langkah mundur sebelum akhirnya berlari ke depan dan melompat tinggi masuk ke dalam pasukan musuh. Wushh ... semua tatapan bayangkara yang melihat gerakan Dewangkara itu seolah membeku karena takjub melihat Dewangkara bisa melompat setinggi itu dan langsung mendarat di tengah-tengah pasukan musuh.


            “Kau cari mati rupanya!!”


            Begitu mendarat Dewangkara langsung berhadapan dengan salah satu Rakryan Tumenggung yang memimpin pasukan bayangkara milik Maharaja. Dengan gerakan cepat, Dewangkara langsung mengayunkan tombak miliknya pemberian dari Maharaja untuk menjatuhkan kuda milik Rakryan Tumenggung di hadapannya.


            Buk. Kuda itu terjatuh dalam ayunan tombak milik Dewangkara dan membuat Rakryan Tumenggung yang menungganginya jatuh dengan satu kakinya terhimpit oleh tubuh kudanya sendiri. Jleb. Dewangkara dengan cepat meraih pedang milik Rakryan Tumenggung itu dan menusukkannya ke pemiliknya sendiri.


            Satu Rakryan Tumenggung tumbang. Dengan ini ... cukup untuk membangun mental pasukan milik Rama. Dengan tombak miliknya, Dewangkara langsung menjatuhkan bayangkara di dekat Rakryan Tumenggung yang kehilangan nyawanya itu dan merebut tombak milik musuh. Dengan dua tombak di tangannya yang terus bergerak, Dewangkara terus bergerak menerjang pasukan musuh dan membuat jalan bagi pasukan milik Rakryan Mahapatih Nambi di belakangnya untuk menyerang. Di saat yang sama, bayangkara milik Maharaja kesulitan untuk menyentuh Dewangkara karena dua tombak panjang milik Dewangkara yang terus bergerak melindunginya dan menyerang di saat bersamaan.


            Sementara itu di kamp milik Maharaja.


            Dua pembawa pesan datang menghampiri kamp milik Maharaja untuk membawa pesan dari pasukan yang menyerang dua benteng di Lamajang.


            “Bagaimana?? Apakah pasukanku sudah menembus dua benteng itu?”


            “Benteng Pejarakan belum ditembus, Maharaja.”


            “Benteng Gending belum ditembus, Maharaja.”


            Bruak. Maharaja memukul kursi singgasana miliknya karena kesal. “Bukankah tadi kalian bilang benteng Pejarakan sudah hampir ditembus?? Kenapa sekarang masih belum ditembus dan ditaklukkan??”


            Pembawa pesan yang membawa pesan dari benteng Pejarakan kemudian menjawab pertanyaan Maharaja. “Itu memang benar, Maharaja. Sayangnya seorang pria muda datang dan langsung memimpin pasukan milik Rakryan Mahapatih Nambi yang nyaris kalah dan membalik keadaan. Dua Rakryan Tumenggung telah tewas, Maharaja.”


            “Pemuda?? Siapa dia???”


            “Saya tidak tahu, Maharaja. Hanya saja ... pemuda itu membawa tombak keemasan sebagai senjata miliknya.”


            Maharaja dan Dyah Halayuda yang mendengar kabar itu terkejut mendengar jawaban itu karena mengenali tombak keemasan itu.


            Sudah kuduga. Kau memang hebat, Dewangkara. Kau adalah bakat berharga sama seperti Rakryan Tumenggung Sena. Sayangnya sama seperti Rakryan Tumenggung Sena, kau berada di pihak yang salah dan kalah. Dyah Halayuda mengatakan hal itu di dalam benaknya sembari mengatur strategi untuk mendapatkan kemenangan Majapahit sekaligus mendapatkan keinginannya untuk menjadi Rakryan Mahapatih yang baru di Majapahit.