
Dava melangkah dengan gontai sambil menarik koper biru tua miliknya. Sudah 2 bulan berlalu sejak kematian Zaky.
3 minggu lalu, Dava berhasil menyelesaikan kuliahnya tepat waktu. Kini ia sudah resmi menjadi seorang sarjana hukum. Ia akan keluar dari asrama hari ini dan berniat untuk melanjutkan S2 keluar kota agar bisa mengambil gelar jaksanya.
“Apa kamu akan pergi sekarang?” tanya Bu Laila menghampiri Dava yang ingin menuruni tangga.
“Ah, benar. Terima kasih banyak untuk semuanya.” Dava membungkuk sopan.
“Untuk apa kamu berterima kasih padaku? Itu semua berkat kerja kerasmu sendiri,” ujar Bu Laila tersenyum hangat.
“Yah, bagaimana pun selamat! Lihat kan? Aku sudah mengatakan jika kamu akan lulus. Dan sekarang kamu bahkan akan mengambil S2. Kamu memang pantas menjadi favoritku.”
“Ya... Kamu benar,” sahut Dava dengan raut sedih. Sebenarnya ia sudah begitu nyaman tinggal di asrama ini dan tidak tega untuk pergi. Namun, ia harus melakukannya untuk melanjutkan pendidikan.
Bu Laila menghela napasnya panjang. “Aku senang melihatmu lulus. Aku berharap jika seandainya Zaky masih ada, pasti kalian akan menjadi duo yang hebat,” ucap Bu Laila sendu.
“Aku rasa jika Dia masih ada, maka aku tidak akan lulus karena akan tersingkir,” kekeh Dava berusaha agar perasaannya tidak sedih.
Sebenarnya ia begitu menyayangkan kejadian yang menimpa Zaky. Namun, begitulah takdir, tak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan.
“Sudahlah, lebih baik kita tidak usah membahasnya. Aku akan berusaha untuk sering datang menjenguk mu, Bu.” Dava dengan segera mengubah topik agar tidak suram. Pembahasan tentang Zaky memang sangat sensitif.
“Ah, kamu benar! Jika begitu aku akan menunggu kedatangan mu. Satu hal lagi, kamu harus tetap sering menghubungiku. Jika kamu sampai menghilang, maka aku akan menghantui dirimu jika aku mati,” ancam Bu Laila tertawa renyah, juga berusaha menghilangkan rasa sendu yang hinggap di hatinya.
“Baiklah, aku akan berangkat sekarang. Jaga dirimu baik-baik, Bu,” pamit Dava.
“Iya, berhati-hati lah di perjalanan. Semoga kamu selalu dilindungi,” doa Bu Laila. Dava mengangguk dan kembali menarik kopernya.
“Dava, tunggu!” seru Bu Laila ketika mengingat sesuatu. Dava yang sudah berada di setengah tangga mau tak mau harus kembali lagi, menghampiri.
“Ada apa, Bu? Apa ada yang penting?” tanya Dava.
“Tunggu sebentar...” Bu Laila pergi meja resepsionis. Ia membuka lagi dan mengambil sesuatu.
“Aku menemukan ini ketika sedang membersihkan kamar Zaky.” Bu Laila menyerahkan kalung plastik kepada Dava.
“Bukankah ini kalung yang diberikan keponakan Zaky untuknya?” gumam Dava.
“Zaky pasti akan mencarinya di surga nanti. Dava, tolong berikan itu padanya,” ucap Bu Laila sedih.
Dava tersenyum tipis. “Baiklah. Kalau begitu aku pamit sekarang. Sampai jumpa lagi, Bu.”
“Ya, sampai jumpa. Sering-sering lah datang berkunjung.” Dava hanya mengacungkan jempolnya sebagai jawaban. Ia pun akhirnya benar-benar pergi dari asrama itu.
*****
Jam sudah menunjukkan tepat tengah malam, bertepatan dengan Chike yang membuka pintu asrama. Namun, ia langsung bingung ketika melihat langit yang sudah cerah.
“Tunggu... apa ini?” tanya Chike bingung. Ia berbalik untuk melihat asrama.
Selamat! Rekonstruksi Zona 1 sudah disetujui, 2022.
Ingatan Chike langsung melayang ke kejadian sebelum ia kembali ke masa lalu. Ucapan Bu Laila tergiang di pikirannya.
“Asrama akan ditutup pada tanggal 30 Juni. Tanggal 30 Juni. Ingatlah itu baik-baik!”
“Tidak... bukan seperti ini yang aku inginkan.” Chike jalan mendekat ke pintu asrama yang sudah diberi penghalang untuk masuk. Perasaannya sudah campur aduk.
“Tidak! Tak bisa seperti ini. Komohon jangan seperti ini.”
Duk! Duk! Duk!
Duk! Duk! Duk!
“Kumohon jangan lagi.”
Duk! Duk! Duk!
“KUMOHON BUKA PINTUNYA!”
Duk! Duk!
“TIDAK! JANGAN SEPERTI INI! KUMOHON!!!” Chike terus saja menggedor pintu asrama yang terkunci.
“BUKA PINTUNYA!!! KUMOHON BUKA!!!!” seru Chike putus asa. Ia menangis, tak menerima akhir yang seperti ini.
Duk! Duk! Duk!
“PAMAN!!!” Chike merosot ke tanah dengan air mata yang terus mengalir. Tenaganya seolah telah melayang entah ke mana.
“Hiks, Paman...”
Duk! Duk!
“Kumohon, buka pintunya.....hiks!” Chike sudah tak kuasa menahan tangisan.
Ia akhirnya menangis sejadi-jadinya sambil terus berusaha menggedor pintu, berharap semuanya tidak berakhir seperti sekarang. Ia berharap ini hanyalah mimpi.
*****
30 Juni 2022
Dava berjalan pelan menuju pemakaman umum. Setelan jas lengkap membuatnya tampak gagah dan rupawan.
“Sudah lama tidak berjumpa, Zaky!” sapa Dava ketika berhenti di depan kuburan Zaky.
“Wah... ternyata memang benar-benar sudah lama sekali sejak terakhir kali aku datang mengunjungimu. Bahkan, karena sudah terlalu lama, aku hingga tidak mengingatnya lagi.”
Dava tertawa pelan, terus menatap kuburan Zaky yang sedikit kotor dengan dedaunan yang berjatuhan. Ia berjongkok, berusaha membersihkan semua dedaunan itu.
“Apa kamu marah karena aku sangat jarang mengunjungimu? Bahkan aku hanya datang di hari peringatan kematianmu.”
Dava tersenyum tipis. Ia terus membersihkan semua dedaunan itu dan mencabuti ilalang yang mulai memanjang.
“Walau kamu ingin marah, tapi kumohon mengertilah. Aku sangat sibuk sekarang. Kamu tau? perusahaan kami berjalan dengan sangat baik. Aku sudah pernah mengatakannya padamu jika aku akan mendirikan firma hukum yang sangat sukses, namun kamu hanya menertawakan itu. Tapi, sekarang kamu bisa melihat sendiri hasilnya.” Dava terus berusaha tersenyum, namun akhirnya ia tetap saja tidak tahan untuk tidak menangis.
Dava menarik napasnya dalam kemudian dihembuskan. “Memang harus aku akui, ketika aku pertama kali mendirikan firma hukum aku benar-benar merasa sangat kesulitan. Namun, semuanya sudah berjalan sangat lancar sekarang. Bahkan firma hukum kami menjadi yang terbaik saat ini. Apa kamu yang sudah membantuku dari atas sana?” Dava mencoba berkelakar, namun hal itu malah membuat air matanya kembali mengalir.
“Hiks! Apakah kamu begitu menyukai berada di atas sana, Zaky? Hiks! Apakah itu sangat menyenangkan? Walau begitu, aku berharap jika kamu tetap bersamaku.” Dava dengan cepat menghapus kembali air matanya. Ia menjeda omongannya dan menarik napasnya dalam, berusaha menenangkan diri.
“Sudahlah! Tidak baik jika kita menangis saat ini.” Dava berusaha memaksakan senyumannya.
“Hari ini adalah hari yang spesial, jadi tidak baik jika kita melaluinya dengan tangisan. Kamu sudah tidak perlu cemberut lagi karena merasa kesal, takut aku akan melupakan janjiku padamu. Benar hari ini kan? Tanggal 30 Juni 2022, hari di mana aku akan melakukan apa yang kamu minta padaku.” Zaky kembali menarik napasnya dalam, sebelum melanjutkan pembicaraan.
“Bukankah aku pernah bilang? Aku tidak akan pernah mengingkari janji yang telah aku buat. Saat itu aku juga sudah berjanji padamu, jadi sekarang aku datang untuk menepati janji itu. Sekarang kamu sudah bisa dan tersenyumlah.”
“Awalnya, saat kamu memintaku untuk melakukan hal ini, aku merasa kamu sangat konyol. Tapi, aku ingat jika kamu bukan tipe orang yang meminta sesuatu yang seperti itu tanpa alasan. Jadi, aku berusaha mempercaimu dan berjanji,” jelas Dava tertawa pelan.
Dava bangkit ketika kuburan itu sudah bersih. “Baiklah, jika begitu aku akan pergi sekarang untuk memenuhi janjiku padamu. Sampai jumpa lagi. Jaga dirimu baik-baik di atas sana.”
Sebelum pergi, Dava tak lupa memberikan senyuman terbaiknya. Ia merapikan setelannya yang sedikit berantakan, baru kemudian pergi menuju mobilnya yang terparkir di depan pintu masuk pemakaman.