ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
Tujuan Utama



Malam hari


Zaky membaca buku Teori dan Prinsip Hukum Pidana miliknya di kursi balkon asrama. Chike yang melihat Zaky sedang duduk sendirian saat ia naik ke atas balkon pun memutuskan duduk di sampingnya.


Zaky sadar ada seseorang yang duduk di sampingnya. Ia hanya melirik sekilas dan berpura-pura tidak peduli ketika tau kalau orang itu adalah Chike.


Zaky menghela napasnya. “Mengapa kamu terus menatapku?” tanya Zaky yang merasa tak nyaman karena terus ditatap oleh Chike.


“Tidak. Aku tidak menatapmu,” elak Chike tersenyum kecil.


“Benarkah?” tanya Zaky menyelidik. Ucapan Dava seketika terlintas di pikirannya.


“Yang aku maksud dengan sesuatu yang berbeda itu adalah tatapannya. Aku bisa melihat cara dia memandangku itu sangat spesial.”


Zaky sedikit tersentak dan reflek duduk sedikit menjauh, menciptakan jarak di antara mereka. “Jika ini yang kamu maksud dengan mendekatiku, maka aku ingin menolaknya dengan sopan,” ucap Zaky. Ia mengingat percakapan mereka berdua tadi sore


*Flashback


Zaky pergi ke dapur untuk mengisi botol minumnya. Namun, ketika ia berbalik seseorang membuatnya kaget.


“Astaga! Apa yang kamu lakukan di sini?!” seru Zaky kaget aku akibat Chike yang tiba-tiba ada di belakangnya ketika ia berbalik.


“Apa?” tanya Chike tak paham.


“Ya, apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Zaky lagi.


“Itu apa, Paman?” Bukannya menjawab, Chike malah bertanya balik.


“Itu bukan urusanmu! Keluar kamu sekarang!” seru Zaky.


“Keluar? Untuk apa?” tanya Chike bingung.


“Y-ya, kamu keluar saja!”


“Tapi mengapa aku harus keluar, Paman? Ini adalah dapur milik bersama,” sahut Chike.


Zaky terdiam, merutuki sikapnya yang konyol di dalam hati. Entah kenapa ia merasa gugup setiap kali berhadapan dengan Chike dan berakhir memalukan seperti sekarang.


“A-apa yang kamu lihat?” tanya Zaky ketika melihat Chike yang tersenyum sambil menatap matanya.


“Tidak ada apa-apa, Paman,” sahut Chike yang masih tersenyum.


“Lalu mengapa kamu menatapku seperti itu?”


“Apakah salah jika aku menatapmu?” Zaky mengangguk.


“Aku hanya ingin mengatakan sesuatu. Karena kamu tidak mengingatku, maka mulai sekarang aku akan berusaha untuk mendekatimu,” ucap Chike tersenyum lebar. Setelah itu ia langsung pergi meninggalkan Zaky yang terdiam membeku, mencoba mencerna ucapannya barusan.


*Flashback end


“Apa aku mengganggu dirimu, Paman?” tanya Chike pelan. Zaky mengangguk.


“Tapi, aku bahkan belum berbicara sedikit pun sejak tadi,” ucap Chike sedih.


“Ya-ya... kamu benar,” sahut Zaky salah tingkah.


“Memang benar kalau kamu belum berbicara sedikit pun,” lanjutnya merasa malu. Ia dengan segera berpura-pura melanjutkan kembali bacaannya untuk menutupi rasa malu.


Chike mencoba mengintip apa yang sedang dibaca oleh Zaky. “Paman, apa kamu bisa melihatnya?” tanya Chike yang sukses membuat Zaky menoleh ke arahnya.


“Maksudku di sini hanya ada cahaya yang remang-remang dan langitnya gelap sekali. Jadi, aku ingin tau apa kamu bisa membaca tulisannya?” tanya Chike tersenyum.


“Itu...ji-jika aku hanya duduk berdiam diri tanpa melakukan sesuatu seperti membaca buku, aku akan merasa cemas,” ucap Zaky menjelaskan. Suaranya semakin pelan ketika sampai di penghujung kalimat.


Zaky berbicara dengan sedikit gugup. “Ya, seperti itu. Jadi...” Chike tertawa kecil ketika melihat Zaky yang seperti kesusahan mencari kata yang tepat untuk menjelaskan keadaannya.


“Tapi, mengapa aku harus repot-repot menjelaskannya padamu?!” seru Zaky ketika tersadar dengan yang ia lakukan.


Buat apa dirinya sampai repot untuk menjelaskan situasi agar Chike bisa memahaminya? Padahal ia memiliki hak untuk tidak perlu menjelaskan semua itu. Namun, entah mengapa ia merasa harus menjelaskan hal itu kepada Chike.


Zaky menggaruk rambut bagian kepala belakangnya yang tak gatal. “Apa yang sedang kamu lakukan, Zaky?” tanyanya pelan pada diri sendiri.


“Sejak kapan Paman terlihat begitu manis dan lucu?” tanya Chike tertawa pelan karena sikap Zaky yang baru dilihatnya.


Chike menarik napasnya dalam dan kembali menghelanya. Ia menatap langit malam yang gelap karena tidak ada bulan maupun bintang yang menghiasinya malam ini.


“Walau langitnya gelap, namun itu terlihat indah bukan?” tanya seseorang ketika beberapa saat suasana hening.


Chike menoleh untuk melihat siapa orang itu yang ternyata adalah Dava. Tanpa permisi ia langsung duduk di samping Chike.


“Oh, ya itu benar,” sahut Chike tersenyum. Ia menggeser duduknya untuk memberi jarak.


Dava menghela napasnya dan menopang dirinya ke belakang menggunakan tangan. “Terkadang di asrama ini terasa sangat membosankan. Namun, tak bisa aku pungkiri jika asrama ini memiliki pesonanya tersendiri. Aku dan Zaky bahkan sudah hampir 4 tahun berada di asrama ini,” ucap Dava sembari menatap langit malam.


“Pasti sangat sulit ya selama tinggal di asrama? Kalian bahkan tidak bisa pulang. Tapi, kalian tetap merasa nyaman selama berada di sini,” sahut Chike kagum dan kembali menatap langit.


“Ya...bagi aku yang tidak terlalu bekerja keras itu terasa biasa saja. Jadi, hal itu bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan. Tapi, semua itu berbeda dengan Zaky. Ia selalu melakukan semuanya dengan baik dan sepenuh hati. Mungkin semua itu terasa jauh lebih sulit baginya daripada aku,” ucap Dava.


“Oh, ya! Aku penasaran akan satu hal sejak kamu tiba di sini. Apa kamu mengenal Zaky?” tanya Dava.


“Apa?”


“Ya, Zaky mengatakan bahwa dia tidak mengenal dirimu yang menyewa kamar 308 dan dia bukan tipe orang yang terlalu banyak bicara tentang permasalahan seperti itu. Tapi, saat aku melihatmu, aku merasa bahwa yang dikatakan Zaky itu tidak benar. Aku sudah mengenal Zaky selama 7 tahun, sejak awal masuk SMA. Namun, aku yakin Zaky tidak pernah sekali pun membicarakan tentang dirimu,” ucap Dava menjelaskan ketika melihat Chike yang seperti tidak memahami pertanyaannya.


“Apa kamu seorang mahasiswa atau bukan? Aku tidak tau tujuanmu yang sebenarnya hingga datang ke sini. Namun, aku meminta tolong padamu untuk membiarkan Zaky sendirian,” ucap Dava tiba-tiba serius.


“Tapi, mengapa aku harus melakukan itu?” tanya Chike bingung yang sejak tadi diam ketika mendengar ucapan Dava.


“Ya, jika kamu hanya ingin bercanda atau bermain-main dengannya, aku harap kamu bisa mencari orang lain saja. Jangan mempermainkan orang baik sepertinya. Aku benar-benar sangat memohon padamu.” Dava berkata semakin serius. Ia sudah menatap Chike yang juga ikut menatapnya untuk meminta jawaban.


“Jika kamu merasa kesal atau tersinggung, aku benar-benar meminta maaf,” ucap Zaky ketika melihat Chike yang hanya terdiam. Raut wajah Chike sudah berubah menjadi sedih.


“Astaga! Biasanya aku tidak pernah berkarakter buruk seperti saat ini.” Dava tertawa canggung untuk mengurangi rasa tegang yang menghampiri.


“Aku tidak pernah bermaksud untuk menyinggungmu. Tapi, Zaky itu benar-benar pria yang sangat baik. Jadi, aku merasa harus mengatakan hal ini padamu. Kuharap kamu mengerti.” Chike masih terdiam.


“Wah, aku benar-benar keren karena sudah berhasil mengatakan hal yang begitu bijak,” ucap Dava canggung karena Chike masih tak berbicara sepatah kata pun.


“Aku benar-benar pria yang sangat keren bukan?” tanya Dava masih berpura-pura tertawa untuk menghilangkan rasa canggung.


“Aku berada di sini bukan untuk bercanda, aku serius. Aku bahkan sudah menunggu momen ini selama 10 tahun,” ucap Chike pelan setelah terdiam sejak tadi.


“10 tahun? Apa kamu teman SD atau SMP nya? Apa kamu adalah juniornya? Atau kamu berada di tempat les yang sama dengan Zaky? atau kamu adalah anak dari teman ibunya?” tanya Dava menebak, berusaha mengubah mengubah suasana canggung yang tercipta di antara mereka.


“Baiklah, lupakan saja. Biarkan saja Zaky hingga sidang kelulusannya selesai, oke? Ya, firasatku mengatakan bahwa dia akan lulus tepat waktu. Jadi, aku berharap kamu bisa bersabar hingga saat itu tiba. Setelah itu aku tidak akan menggangu atau melarangmu sama sekali,” ucap Dava ketika Chike kembali diam.


“Sidang kelulusan?” tanya Chike pelan ketika teringat sesuatu.


“Hei! Apa kamu mendengarkan perkataanku?” tanya Dava ketika melihat Chike yang seperti tidak mendengarkannya.


“Apa kamu tadi mengatakan sidang kelulusan?” tanya Chike ulang.


“Ya. Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan itu?” tanya Dava bingung.


“Astaga! Mengapa aku bisa melupakan hal yang sangat penting?!” seru Chike pada dirinya dan sontak bangun dari duduknya.


Chike langsung berlari masuk ke dalam asrama, meninggalkan Dava yang yang kebingungan dengan yang terjadi. Dava hanya bisa melihat kepergian Chike tanpa mendapat jawaban yang diinginkan.


Sedangkan Chike kini sudah berlari menuju kamar Zaky. Ia mencoba membuka pintu kamar yang ternyata tidak di kunci. Dengan segera ia masuk dan menuju ke meja belajar.


“Pantas saja dia tidak melihat tulisan ini karena terlalu sibuk untuk mempersiapkan sidang kelulusannya. Ini sudah terlambat,” ucap Chike terduduk sambil melihat tulisan yang pernah ia tulis di kolong meja Zaky. Ia kembali mengingat kejadian tanggal 30 Juni ketika Zaky menolongnya.


“Asrama akan ditutup pada tanggal 30 Juni. Tanggal 30 Juni. Ingatlah itu baik-baik!”


“Almarhum Zaky Farraz. 13 Maret 1990 - 30 Juni 2012.”


Semua kejadian sebelumnya berputar di dalam ingatannya seperti kaset otomatis. Chike akhirnya hanya bisa terduduk lemas ketika sudah menyadari semuanya.


“Sekarang aku tau alasan mengapa aku harus datang ke sini. Aku akan pastikan untuk membantumu kali ini, Paman,” tekad Chike. Air matanya kini mengalir bebas tanpa suara ketika ia menyadari hal yang sangat penting, namun ia malah hampir melupakannya.