ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
AKHIR KISAH DEWANGKARA DAN GAYATRI PART 2



            Bara akhirnya tewas dalam pesta pernikahan berdarah itu.


Bara tewas menggantikan posisiku yang harusnya tewas terkena tembakan dari Bagaspati. Bara tewas untuk menyelamatkan Nona Cintya yang nantinya akan memilih untuk bunuh diri jika aku mati. Kematianku dan Nona Cintya digantikan dengan kematian Bara dan Bagaspati yang mati di tangan Bara.


Lalu dengan kegagalan pernikahan yang membuat banyak korban berjatuhan itu, seluruh orang di kota Andana Kusuma akhirnya melihat bagaimana buruknya bangsawan yang selama ini menguasai kota ini dan memilik hak istimewa karena darah dan kekayaan milik mereka. Pihak yang selama ini berusaha untuk menjatuhkan tiga bangsawan kemudian mendapatkan dukungan yang besar dan keruntuhan tiga bangsawan: Yasodana, Wardana dan Vamana, akhirnya benar-benar terjadi seperti harapan Nona Cintya.


Dengan melihat bagaimana kejamnya keluarga Wardana, kematian Rama Yasodana dan Chandra Vamana akhirnya diungkit lagi dan kenyataan yang selama ini tertutup akhirnya muncul ke permukaan. Semua keluarga bangsawan yang tersisa kemudian harus menjalani pemeriksaan dari pihak pemerintahan sebagai cara untuk menjaga perdamaian kota Andana Kusuma sebelum kerusuhan benar-benar terjadi. Keluarga Vamana dan Yasodana hanya menerima beberapa hukuman ringan karena menutupi apa yang terjadi pada Rama Yasodana dan Chandra Vamana, dan selebihnya semua kesalahan dibawa mati oleh keluarga Wardana yang selama ini secara diam-diam selalu menggunakan hak istimewa mereka untuk kepentingan pribadi mereka. Dengan terungkapnya kasus ini, terungkap pula bagaimana Agni Wadana dan Bagaspati Wardana selama ini menggunakan posisi mereka. Agni merusak benyak kehidupan wanita muda karena merasa tersaingi oleh kecantikan mereka. Sementara Bagaspati Wardana, diam-diam memperjualbelikan banyak wanita untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih besar. Dan alasan itulah yang membuat Nona Cintya tidak akan pernah menyukai Bagaspati. Terungkap juga serangan-serangan yang selama ini menghampiri keluarga Yasodana dan Vamana berasal dari Bagaspati Wardana yang ingin membuat keluarganya menjadi keluarga utama dari tiga keluarga bangsawan yang ada.


Mengetahui hal ini, aku tahu bahwa Bagaspati Wardana jauh lebih buruk dari apa yang aku lihat selama ini.


            “Kematianmu tidak sia-sia, Bara.” Setelah peringatan seratus hari kematian Bara, pernikahanku dengan Nona Cintya yang sempat gagal akhirnya dilangsungkan kembali. Dan dua hari setelah pesta pernikahan itu, aku datang kemari-ke makam Bara untuk menceritakan banyak hal pada Bara.


            “Bagaimana keadaanmu di sana, Bara?? Aku harap kau akan merasa damai dan merasa senang karena kami semua di sini bahagia karena pengorbananmu saat itu. Kota ini menjadi lebih damai tanpa tiga bangsawan yang menguasainya. Nona Cintya dan Tuan Gulzar kini sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Nona Cintya membangun panti asuhan dan sekolah-sekolah di kota ini. Sedangkan Tuan Gulzar yang masih sibuk mengurus perusahaan keluarganya memberikan banyak bantuan untuk membantu Nona Cintya dengan memberikan biaya untuk sekolah anak-anak cerdas dan berbakat di kota ini. Kuharap kau juga dapat melihatnya dari sana, Bara.”


            Aku duduk di depan makam Bara dan bicara pada Bara seolah dia masih hidup. Beberapa kenangan ketika aku bersamanya muncul dan membuat air mataku jatuh. “Saat itu ... saat kau hidup sebagai Biantara dan melihat kematian kami, kau pasti sangat terluka, Bara. Maafkan aku. Saat itu ... aku tidak bisa menepati janjiku untuk menikahi nonamu-Gayatri dan membuatnya berakhir dengan memilih kematiannya sendiri. Maafkan aku juga karena kali ini pun, hal yang sama akan terulang hingga akhirnya kau memilih untuk mengorbankan dirimu demi keselamatan kami berdua.  Maaf dan terima kasih, Bara. Ah haruskah aku memanggilmu dengan Biantara juga, Bara??”


            Aku tersenyum kecil meski air mataku tidak bisa berhenti untuk terus menangis di depan makam Bara sembari mengingat semua kenangan yang aku miliki bersama dengan Bara. Sejak pesta pernikahan berdarah itu berakhir, mimpi-mimpi buruk tentang Dewangkara dan Gayatri juga berakhir. Aku bisa tidur dengan nyenyak dan bangun pagi tanpa kesulitan seperti kebanyakan orang, tapi hal itu justru membuatku merasa sedih karena aku selalu teringat bagaimana Bara dulu selalu membantuku untuk membangunkanku di setiap pagi.


            “Aku datang kemari ingin mengatakan padamu bahwa Gulzar Vamana membangun monumen untukmu, Bara. Kau dianggap sebagai pahlawan revolusi di kota ini karena berhasil membunuh Bagaspati. Kelak semua orang akan mengenangmu ketika aku tidak lagi bisa mengenangmu lagi, Bara. Apa kau senang mendengarnya, Bara?” Aku bangkit dari dudukku di depan makam Bara dan berniat menyudahi percakapan kecilku dengan Bara. Sebelum pergi ... aku melihat kembali ke makam Bara. “Tidak lama lagi kita akan bertemu, Bara. Kau tahu takdir tidak akan berubah bukan?”


*


            Dua tahun kemudian.


            “Berjanjilah apapun yang akan terjadi, kau akan tetap hidup, Cintya!”


            Cintya berdiri di depan makam Raditya sembari mengingat ucapan Raditya sebelum kematian menjemputnya. Air mata Cintya mengalir karena dirinya masih tidak bisa percaya bahwa Raditya-suaminya meninggal di usianya yang masih cukup muda. Kematian Raditya terlalu mendadak dan itu menjadi pukulan bagi Cintya karena tak ada satupun pertanda dari Raditya mengenai kematiannya, terlebih lagi Raditya masih baik-baik saja sebelum ini dan sama sekali tidak memiliki riwayat penyakit apapun.


            “Berjanjilah padaku bahwa kau akan bertahan hidup demi anak kita, demi aku dan demi Bara.”


            Cintya menangis lagi sembari memeluk putranya yang tertidur dalam pelukannya. “Aku akan bertahan hidup demi putra kita, demi dirimu dan demi Bara. Aku berjanji padamu, Raditya! Aku berjanji!”


            Dari kejauhan arwah Raditya melihat istrinya-Cintya yang menggendong putra mereka sembari menangis di depan makamnya sendiri. Raditya menangis melihat air mata Cintya dan mendengar janji yang diucapkan oleh Cintya untuk dirinya.


            “Kita bertemu lagi, Raditya.”


            Suara itu membuat Raditya terkejut dan langsung menolehkan kepalanya. Raditya terkejut karena melihat tiga sosok yang pernah ditemuinya dua tahun yang lalu.  Raditya menghapus air matanya dan tersenyum menyapa tiga sosok yang muncul di hadapannya. “Apa kali ini kalian bertiga datang untuk menjemput arwahku?”


            “Itu adalah tugasku. Tapi mereka berdua ingin datang untuk menemuimu terakhir kalinya, Raditya.” Hyang Marana menjawab sembari melirik ke arah Hyang Yuda dan Hyang Tarangga.


            Raditya melihat ke arah Hyang Yuda dan Hyang Tarangga. “Pada akhirnya ... aku tetap mati lebih dulu dari Cintya.”


            “Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah kami berdua akan bertemu lagi di kehidupan berikutnya?"


            Hyang Tarangga menganggukkan kepalanya. “Ya, kalian akan bertemu lagi nanti dan akhir kisah kalian nanti pasti akan memiliki akhir yang berbeda dari kehidupan-kehidupan kalian sebelum ini.”


             “Bagaimana dengan Bara? Apakah kelak aku akan bisa bertemu dengannya lagi?”


            Hyang Marana melirik ke arahku dengan tatapan sedikit sinis. “Kau banyak sekali bertanya, Raditya.”


            “Maafkan aku, Hyang Marana.” Aku merasa bersalah dengan sedikit menundukkan kepalaku di depan Hyang Marana, Hyang Tarangga dan Hyang Yuda.


            Hyang Tarangga tersenyum melihat ke arahku dan memberikan jawaban untukku. “Di kehidupan lain nanti, kalian akan bersama lagi.”


            “Terima kasih, Hyang Tarangga. Senang mendengar kelak aku bisa bertemu dengan Bara lagi. Dalam kehidupan ini, aku punya hutang yang besar padanya.” Setelah membalas Hyang Tarangga, aku menolehkan kepalaku kepada Hyang Marana. Tadinya aku ingin mengatakan padanya bahwa aku sudah siap pergi bersamanya seperti jiwa-jiwa yang pernah aku lihat dua tahun yang lalu. Tapi aku menghentikan niatku itu dengan mengubah pandanganku ke arah Hyang Yuda.


            “Kau tidak ingin pergi?” Hyang Marana membaca pikiranku.


            “Ada satu lagi yang ingin aku tanyakan, kali ini pada Hyang Yuda.”


            “Apa yang ingin kau tanyakan padaku?” Hyang Yuda bertanya padaku.


            “Dyah Halayuda. Bagaimana nasibnya? Karena keinginannya banyak orang mati dengan cara yang kejam. Apakah akhirnya semua kesalahpahaman yang membuat banyak orang mati akhirnya terungkap??”


            Hyang Yuda tersenyum mendengar pertanyaan yang aku ajukan. Hyang Yuda melirik ke arah Hyang Tarangga sebelum menjawab pertanyaanku. “Manusia itu mendapatkan keinginannya tapi setelah itu kematian yang mengerikan datang menghampirinya. Setelah semua itu ... semua kesalahpahaman terurai meski tidak semuanya. Beberapa bagian tetap tersimpan rapat sebagai rahasia dan hanya diingat oleh beberapa orang sebelum akhirnya dilupakan. Apa kau puas dengan jawaban itu, Raditya?”


            Aku menganggukkan kepalaku dan setelah itu, aku melihat kembali ke arah Hyang Marana. “Aku sudah siap pergi, Hyang Marana.”


            “Kau yakin?” Hyang Marana bertanya untuk memastikan sembari melihat ke arah Cintya yang sedang menggendong putraku di depan makamku. “Kau tidak ingin berpamitan pada istri dan anakmu dulu??”


            Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak perlu, Hyang Marana. Cintya telah membuat janji padaku dan itu lebih dari cukup bagiku. Kami akan bertemu lagi nanti dan aku akan menunggu waktu itu datang padaku.”


            “Baiklah kalau begitu. Kita pergi sekarang.”


            Jiwaku pergi bersama dengan Hyang Marana, Hyang Tarangga dan Hyang Yuda. aku melihat Cintya dan putraku semakin jauh sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari pandanganku.


            Sekali lagi ...


Aku akan menunggu waktu kita bertemu lagi, Cintya ... ah tidak, Gayatri.