ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: KISAH YANG TIDAK BOLEH DIUNGKAP PART 4



            Benar saja, dalam hitungan detik sejak Dewangkara menangkap aura membunuh itu, pria-pria sudagar asing itu langsung menyerbu ke arah Dewangkara. Bayangkara yang berada di belakang Dewangkara bergegas maju untuk membantu Dewangkara karena bagaimana pun status Dewangkara hanyalah rakyat biasa yang seharusnya mendapatkan perlindungan bukan orang yang bertugas melindungi seperti bayangkara. Akan tetapi dengan cepat Dewangkara berteriak pada pasukan bayangkara yang berusaha untuk membantu dan melindunginya.


            “Berhenti!!! Biarkan aku yang menerima serangan ini seorang diri!” ujar Dewangkara.


            “Tapi itu-” Bayangkara yang tidak lain petugas pos di antapura yang tadi sempat berbincang dengan Dewangkara berusaha untuk bicara dengan Dewangkara dan berniat untuk membantu Dewangkara. Tapi sebelum menyelesaikan kalimatnya, Dewangkara sudah berlari mundur dan kemudian melakukan hal yang sama seperti hal yang dilakukannya sebelumnya.


            Dengan menggunakan tombak di tangan kanannya sebagai penumpu untuk melompat masuk ke dalam kumpulan pria-pria yang meminta keadilan pada Danapati. Hup. Dalam waktu singkat, Dewangkara telah berada tepat di tengah-tengah para pria asing yang menuntut keadilan pada Danapati.


            “Kau mengantarkan nyawamu sendiri ke dalam sarang harimau, Kangjeng.” Pria yang sepertinya adalah pemimpin dari sudagar asing sekaligus suami dari istri yang digoda oleh Danapati, tersenyum senang mendapati Dewangkara masuk ke tengah-tengah gerombolannya.


            Dewangkara menarik nafasnya panjang dan berkata, “Kita lihat nanti, Kangjeng.” Tepat setelah mengatakan hal itu, Dewangkara langsung mengayunkan dua tombaknya ke dua arah yang berbeda dan memukul jatuh beberapa kawan dari pria yang meminta keadilan pada Danapati.


            Buk ... buk ... buk.


            Empat pria dari lima belas orang telah jatuh. Sembari terus mengayunkan dua tombaknya, Dewangkara menghitung orang-orang yang kini sedang mengincar nyawanya.


            “Sialan kau!!!” Si pria yang menuntut keadilan itu berteriak sembari mengeluar pedang miliknya yang tergantung di pinggangnya. Bersamaan dengan itu, semua rekan dari pria itu juga mengeluarkan pedang mereka dan kali ini berniat untuk membunuh Dewangkara hanya untuk mendapatkan Danapati.


            Swing ... Sebelas pedang itu berayun dan bergerak ke arah Dewangkara sebagai sasarannya. Dewangkara menancapkan tombak di tangan kanannya dengan kuat ke tanah di bawahnya dan kemudian menggunakan tombak itu sebagai tumpuan lagi. Tidak seperti sebelumnya di mana tombak yang dibawa Dewangkara  digunakan untuk tumpuan lompat jauhnya, kali ini tombak yang ditancapkannya dengan kuat di tanah itu digunakan oleh Dewangkara untuk tumpuan lompatan berputar untuk menjatuhkan musuh-musuhnya dalam satu putaran lompatannya.


            Hup. Dewangkara melompat ke atas dengan tangan kanannya yang masih memegang tombaknya yang menancap kuat di tanah. Dengan cepat Dewangkara memindahkan tumpuan tubuhnya di tangannya dan membuat tubuhnya berputar mengelilingi tombak miliknya menancap di tanah degan kuat dan ... swing ... kling ... kling ... kling.  Bersamaan dengan tubuhnya yang berputar, tombak lain milik Dewangkara yang berada di tangan kirinya diayunkannya menabrak pedang-pedang yang mendekatinya dan memukul jatuh pemilik pedang itu.


            Buk ... buk ... buk.


            Sembilan dari sebelas pria yang tersisa, terjatuh. Kini tersisa dua orang lagi. Sekali lagi Dewangkara menghitung jatuh musuhnya yang berhasil dijatuhkannya. Hup, Dewangkara mendaratkan tubuhnya di tanah dan kini bersiap untuk melawan dua orang yang tersisa. Dewangkara menancapkan tombak di tangan kirinya ke tanah dan mengambi dua pedang milik musuhnya yang berada di tanah karena telah jatuh terkena pukulan keras dari tombak yang dibawanya.  Tombak milik bayangkara terbuat dari kayu yang berat, meski terkesan ringan. Jadi pukulan yang diberikan tombak itu sebenarnya sangat menyakitkan dan jika dipukulkan ke area vital, orang yang terkena pukulan itu bisa langsung jatuh dan ambruk tidak sadarkan diri.


            “Kau benar-benar pria yang menyebalkan!!”  Pria yang menuntut keadilan itu berteriak dengan kesal ke arah Dewangkara. Pria itu mengayunkan pedang miliknya ke arah Dewangkara bersamaan dengan satu rekannya yang tersisa.


            Kling ... Kling. Dua pedang yang mendekat ke arah Dewangkara berhasil ditangkis oleh dua pedang yang dibawa oleh Dewangkara di kedua tangannya.


            “Aku benar-benar ingin membunuhmu sebagai contoh pada orang-orang di kerajaan ini, agar tidak menyentuh wanita milik orang lain dan tidak meremehkan sudagar asing.” Pria itu berteriak sembari menekan pedangnya yang dihalau Dewangkara dengan tujuan membuat Dewangkara tidak bisa berkutik karena tekanan yang diberikannya. Rekan dari pria itu juga melakukan hal yang sama kepada Dewangkara karena kesal melihat Dewangkara terus menerus melawan rekannya.


            Akan tetapi pikiran pria itu dan rekannya sama sekali salah. Dewangkara dengan cepat mengambil langkah mundur sembari membuta dua pedang miliknya yang menghalau dua pedang musuhnya ke arah bawah. Setelah membuat musuhnya terkejut, Dewangkara melemparkan dua pedang yang dibawanya ke atas dan mengecoh kedua musuhnya. Dalam waktu hitungan detik ketika dua pedang itu melayang di udara, Dewangkara berguling di tanah melewati dua musuhnya.


            Hup. Dua pedang yang tadi melayang itu kembali ke kedua tangan Dewangkara dan langsung dihunuskan Dewangkara ke arah dua leher musuhnya yang masih terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Dewangkara untuk memutar balik keadaannya.


            “Kalian masih ingin melanjutkannya?” tanya Dewangkara yang kini telah memenangkan bentrokan itu seorang diri.


             Di antapura.


            “Maharaja.” Abdi yang sedang menjaga pintu ruangan Maharaja membuat pengumuman mengenai kedatangan Dyah Halayuda dan bayangkara yang sedikit tergesa-gesa.


            “Ada apa?” Maharaja bertanya untuk panggilan yang dibuat oleh abdinya.


            “Ada dua orang yang datang,  Maharaja. Satu adalah Dyah Halayuda yang datang untuk mengunjungi Maharaja dan satu lagi adalah bayangkara penjaga gerbang antapura yang datang untuk bertemu Rakryan Mahapatih Nambi. Bayangkara ini membawa berita penting, sepertinya sesuatu yang buruk terjadi di dekat gerbang antapura, Maharaja.”


            “Persilakan masuk keduanya. Aku penasaran apa yang terjadi hingga Bayangkara di gerbang antapura langsung menemui Rakryan Mahapatih Nambi.”


            Abdi itu membukakan pintu untuk Dyah Halayuda dan bayangkara yang berniat untuk menemui Rakryan Mahapatih Nambi yang sedang bersama dengan Maharaja.


            “Salam, Maharaja. Salam, Rakryan Mahapatih.” Dyah Halayuda yang masuk lebih dulu langsung memberikan salamnya kepada Maharaja dan Rakryan Mahapatih Nambi.


            “Salam, Dyah Halayuda.” Rakryan Mahapatih Nambi membalas salam dari Dyah Halayuda. Sementara Maharaja yang lebih penasaran dengan kedatangan bayangkara itu hanya mengangkat tangannya untuk membalas salam dari Dyah Halayuda.


            “Bisakah kau menunggu sebentar, Dyah Halayuda?” Maharaja bertanya kepada Dyah Halayuda karena tidak bisa menahan rasa penasarannya.


            “Ya, Maharaja.”


            Setelah Dyah Halayuda duduk di tempat yang disediakan, bayangkara yang sejak tadi berdiri di dekat pintu langsung masuk dan berlutut di depan Maharaja.


            “Salam, Maharaja. Salam, Rakryan Mahapatih. Salam, Dyah Halayuda.”            


            “Apa yang terjadi di luar? Kenapa kau ingin langsung bertemu dengan Rakryan Mahapatih Nambi??” Maharaja langsung bertanya kepada bayangkara itu tanpa basa basi.


            “Keributan terjadi, Maharaja. Lima belas pria sudagar asing mengejar keponakan Kangjeng Dyah Halayuda untuk meminta keadilan.”


            “Oh ... keponakan dari Dyah Halayuda. Siapa namanya?” Maharaja bertanya sembari melirik ke arah Dyah Halayuda. Di saat yang sama Dyah Halayuda tersentak karena belum mendengar kabar itu ketika masuk ke antapura.


            “Kangjeng Danapati, Maharaja.”


            “Keadilan apa yang diminta oleh para sudagar itu??” Maharaja sekali lagi melirik ke arah Dyah Halayuda dan tatapan itu adalah pertanda sedikit kekesalan Maharaja terhadap Dyah Halayuda.


            “Mereka meminta keadilan karena Kangjeng Danapati menggoda salah satu istri dari sudagar itu.” Bayangkara itu menjawab dengan jujur pertanyaan Maharaja.


            Rakryan Mahapatih Nambi melirik ke arah Dyah Halayuda yang kini mengepal tangannya karena berusaha menahan amarahnya. Rakryan Mahapatih Nambi kemudian angkat bicara karena juga merasa penasaran. “Kenapa kau ingin menemuiku? Bukankah masalah ini akan berakhir jika membawa kasus ini ke pengadilan??”