ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
Pencarian



“Zaky! Mau ke mana kamu?” tanya Dava yang baru keluar dari kamarnya. Ia melihat Zaky membawa satu keranjang yang penuh dengan pakaian.


“Apa kamu akan pergi ke balkon?”


“Ya, aku ingin ke sana untuk menjemur pakaianku,” sahut Zaky.


“Ini sudah sangat sore, bahkan sudah hampir malam. Mengapa kamu begitu telat mencuci pakaian milikmu?”


“Rencananya aku ingin menyelesaikannya tadi siang, tapi aku malah ketiduran. Jadi, ya begitulah...” jawab Zaky mengendikkan bahunya.


“Aku mengerti. Baiklah, silahkan saja kamu melanjutkan kembali kegiatanmu itu. Aku ingin pergi menemui Bu Laila karena tadi beliau meminta tolong padaku untuk menemaninya berbelanja.” Dava menjelaskan tujuannya tanpa diminta oleh Zaky.


“Ya, pergilah. Aku juga harus segera menyelesaikan ini sebelum hari berganti malam.”


“Kalau gitu aku pamit pergi dulu,” pamit Dava.


“Ya,” jawab Zaky cuek.


*****


Zaky baru saja selesai menjemur pakaian miliknya. Ia kini sedang menumpu badannya di atas pagar pembatas balkon. Ia menarik napasnya dalam-dalam untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


Zaky melihat langit yang sudah mulai berwarna jingga. Sepertinya sebentar lagi matahari akan tenggelam. Sedang asik melihat langit, retina mata Zaky melihat sosok Chike yang baru keluar dari asrama dengan langkah yang terburu-buru.


“Ke mana lagi ia akan pergi dengan langkah yang terburu-buru seperti itu?” tanya Zaky pada dirinya sendiri.


Zaky ingin pergi untuk mengikuti Chike, namun menahan langkahnya ketika berada di pintu masuk dan kembali ke posisinya semula.


“Apa yang sedang aku lakukan? Mengapa aku harus begitu peduli padanya? Dia mau pergi ke mana pun juga bukan urusanku.” Zaky mendesah pelan. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk saja ke dalam asrama. Tak lupa ia membawa masuk keranjang miliknya.


*****


Langit sudah mulai gelap, pertanda bahwa malam akan tiba. Chike kembali berjalan menyusuri setiap jalan dan gang kecil yang sudah dilewatinya semalam. Ia masih berusaha mencari rumah yang berpagar hitam.


“Seharusnya rumah itu ada di sekitar sini,” ucap Chike sambil melihat denah rute baru yang digambarnya.


“Astaga! Malam akan segera tiba. Lebih baik aku pulang ke asrama terlebih dahulu dan melanjutkannya lagi setelah makan malam.” Chike pun akhirnya pulang ke asrama.


*****


Malamnya


Chike baru selesai memakan makan malamnya. Kini ia sudah berada di dalam kamarnya sambil berpikir dengan keras di kursinya.


Ia mencoba mengingat kembali setiap potongan ingatannya mengenai kejadian 10 tahun lalu. Ia mencoba mencatat dan menggambar di kertas. Sesekali ia melihat catatan urutan kejadian yang ditulisnya dan ditempelkan di dinding samping meja belajarnya.


Chike berulang kali melihat kertas yang sedang dicorat-coretnya dan catatan yang ditempelkan itu secara bergantian, mencoba mencocokkan. Setelah beberapa saat, Chike segera bangkit dan memakai jaketnya.


“Hei! Kamu mau ke mana?” seru Zaky bertanya kepada Chike yang berlari melewatinya begitu saja.


Zaky yang merasa ada yang tidak beres pun memutuskan untuk mengambil jaketnya di dalam kamar. Ia akan pergi untuk menyusul Chike karena firasatnya kali ini tidak enak ketika melihat Chike yang pergi.


“Ke mana dia pergi? Aku yakin tadi dia lewat sini,” ucap Zaky yang sudah mengikuti Chike. Namun, di tengah perjalanan ia malah kehilangan jejaknya. Zaky pun terus berjalan menyusuri gang kecil itu untuk mencari Chike.


Di sisi lain, Chike masih melihat ke sana-sini di setiap langkahnya. Ia masih berusaha mencari rumah tujuannya. Ia berhenti ketika melihat rumah yang dicarinya kini sudah ada di hadapannya yang hanya berjarak beberapa meter.


Tiba-tiba emosi Chike memuncak. Ia berjalan perlahan menuju rumah itu. Ingatannya tentang kejadian 10 tahun lalu tiba-tiba berputar di dalam pikirannya.


“Polisi berhasil menangkap pria yang menjadi tersangka penikaman seorang mahasiswa hingga tewas saat berusaha menghentikan aksi penculikan. Polisi menangkap Tuan A (38) pada pukul 13.55 tanggal 31 di rumahnya karena menjadi tersangka penculikan dan pembunuhan. Tersangka diamankan dan dibawa ke kantor polisi.” Berita 10 tahun lalu tiba-tiba berputar di pikiran Chike.


Chike berusaha menahan emosinya saat sudah berada di depan pagar rumah itu. Terdengar suara anjing menggonggong yang terbawa oleh angin.


DUK! DUK! DUK!!!!


Chike mengetuk pagar itu dengan emosi yang tertahan.


DUK! DUK! DUK!!!


“KELUAR!!! AKU TAU KALAU KAMU ADA DI DALAM!! KELUAR!!” teriak Chike sambil terus menggedor-gedor pagar rumah.


DUK!! DUK!!!


“KELUAR KAMU!” Air mata Chike kini sudah mengalir. Perasaannya campur aduk dan emosinya meningkat.


“Kamu yang seharusnya mati, bukan aku mau pun Paman.” Suara Chike melemah, ia sudah menangis.


“Seharusnya kamu yang harus mati!! TAPI KENAPA HARUS PAMAN?!!! KENAPA?!!” Chike kembali berteriak.


DUK!! DUK!!!!


“Hiks...” Chike terisak ketika tidak mendapatkan respon apa pun dari dalam. Hanya ada suara gonggongan anjing yang terbawa oleh angin.


“Dasar kamu bajingan keji...hiks.” Suara Chike semakin melemah karena menangis. Ia menempelkan keningnya di pagar dengan tangan yang masih mengepal, bersiap untuk menggedor pintu lagi.


“Kamu seharusnya tidak membunuh Paman...” Chike jatuh merosot dan terduduk lemas di depan pagar sambil menyenderkan badannya.


“AARRRGGGG!!!” Teriak Chike yang tak tau harus bagaimana menyalurkan emosinya.


“Kenapa?? Kenapa??!!! Hiks.”


“CHIKE!!!” Panggil Zaky menghampiri Chike yang sudah terduduk lemas di jalanan yang dingin.


“Ada apa Chike??!!” tanya Zaky khawatir. Ia berusaha melihat wajah Chike.


“Paman...” panggil Chike parau sambil menatap Zaky dengan matanya yang berlinang air mata.


“Ya, aku ada di sini sekarang.” Zaky langsung memeluk Chike untuk menenangkannya.


“Hiks... Paman, kali ini kamu tidak boleh mati,” ucap Chike dalam tangisnya. Ia hanya menerima pelukan Zaky tanpa membalas.


“Oke, aku tidak akan mati. Tidak akan,” sahut Zaky cepat yang merasa sedikit kalut melihat keadaan Chike sekarang.


“Kumohon padamu, Paman.Hiks, tolong jangan mati.” Chike kembali menangis. Ia membenamkan wajahnya di dada Zaky.


“Iya, aku tidak akan mati. Jadi, Jangan menangis lagi, Chike.” Zaky mempererat pelukannya, berusaha menyalurkan rasa aman.


“Kumohon padamu, Paman. Berjanjilah kalau kamu tidak akan mati kali ini.”


“Iya, aku berjanji. Aku tidak akan mati seperti yang kamu takutkan.” Zaky terus berusaha menenangkan Chike yang menangis tersedu-sedu.


“Kamu tidak boleh mati. Jangan buat aku menyesal untuk kedua kalinya. Aku tidak akan sanggup untuk menerimanya.” Chike baru membalas pelukan Zaky untuk semakin membenamkan wajahnya ke dada Zaky.


“Aku sudah berjanji padamu, jadi berhentilah menangis sekarang.” Zaky mengusap-usap punggung Chike dari balik jaket yang dipakainya.


“Hiks..hiks..hiks.... Kamu sudah berjanji padaku, Paman. Kamu tidak boleh melanggarnya. Aku tidak sanggup jika harus mengalami kejadian yang sama lagi.”


“Iya, aku tidak akan melanggarnya. Berhentilah menangis sekarang dan mari kita pulang,” ucap Zaky lembut. Chike semakin memeluk Zaky dengan erat untuk menenangkan dirinya.