ONCE AGAIN

ONCE AGAIN
MASA LALU: RENCANA PERNIKAHAN PART 5



            “Kukira aku tidak akan melihat kehebatanmu, Dewangkara.” Ucapan dari Maharaja itu menghentikan sorakan para penonton adu tanding yang merasa senang dengan kemenangan yang didapatkan oleh Dewangkara. “Tapi kau benar-benar menunjukkan kehebatanmu itu dan teknik tombakmu yang mengagumkan itu di saat-saat terakhir. Aku tidak heran jika kau berhasil menghentikan bentrokan yang terjadi di sini beberapa hari yang lalu.” 


            Dewangkara menundukkan kepalanya sebelum menjawab pujian yang diberikan oleh Maharaja kepada dirinya. “Maharaja terlalu meninggikan saya. Saya tidak sebaik itu,  Maharaja. Masih ada banyak orang yang jauh lebih hebat dari saya di luar sana, Maharaja.”


            “Karena kau sudah memenangkan adu tanding ini, aku akan memberikan hadiah khusus yang sengaja aku siapkan untukmu, Dewangkara.”


            Glup. Dewangkara menelan ludahnya karena jantungnya yang saat ini sedang berdetak kencang. Di saat yang sama Gayatri, Biantara dan Rakryan Mahapatih Nambi juga melakukan hal yang sama dengan Dewangkara karena penasaran dengan hadiah yang akan diberikan oleh Maharaja pada Dewangkara.


            “Dari cerita Dyah Halayuda, aku mendengar kau belum menikah. Bagaimana jika aku memberimu pernikahan dengan salah satu putriku, Dewangkara??”


            Deg, Dewangkara bersama dengan Gayatri dan Biantara terkejut mendengar hadiah yang diberikan oleh Maharaja pada Dewangkara. Di sisi lain, Dyah Halayuda tersenyum mendengar hadiah Maharaja kepada Dewangkara dan mengingat percakapannya dengan Maharaja  sebelum hari ini tiba.


            “Hadiah apa yang harus aku berikan jika Dewangkara putra dari Rakryan Mahapatih nantinya keluar sebagai pemenang?” Maharaja bertanya kepada Dyah Halayuda ketika memikirkan hadiah untuk pemenang adu tanding.


            “Apa Maharaja yakin jika Dewangkara putra dari Rakryan Mahapatih nantinya akan keluar menjadi pemenang??” Dyah Halayuda berbalik mengajukan pertanyaan kepada Maharaja.


            “Setidaknya kemungkinannya cukup besar mengingat cerita dari bayangkara yang datang waktu itu. Bagaimana menurutmu, Dyah Halayuda?”


            Dyah Halayuda menganggukkan kepalanya setuju. “Saya rasa mungkin begitu. Jika memang Maharaja yakin bahwa Dewangkara putra dari Rakryan Mahapatih itu akan mendapatkan kemenangan, Maharaja bisa memberikannya hadiah menjadi menantu Maharaja. Sayang sekali bukan jika seseorang yang memiliki kemampuan hebat hidup biasa di luar sana?”


            “Begitukah?”


            “Ya, Maharaja. Dengan membuatnya menjadi menantu di antapura, Maharaja dapat memberikan posisi dan kedudukan untuk Dewangkara. Mungkin nantinya Dewangkara putra dari Rakryan Mahapatih dapat menjadi Rakryan Tumenggung yang hebat,  Maharaja.”


            Maharaja menganggukkan kepalanya setuju. “Ucapanmu benar juga, Dyah Halayuda. Tapi agar adu tanding itu berjalan lebih menarik lagi, suruh keponakanmu itu untuk ikut dalam adu tanding itu dan jika pemenangnya adalah keponakanmu, aku akan mengabulkan satu permintaannya padaku. Bagaimana?”


            Dyah Halayuda menganggukkan kepalanya. “Saya mengerti, Maharaja.”


            Dyah Halayuda tersenyum senang melihat Maharaja melakukan apa yang diberikannya sebagai ide untuk hadiah kemenangan dari Dewangkara.  Di dalam benak Dyah Halayuda saat ini, kemampuan Dewangkara adalah hal yang bagus tapi akan sangat berbahaya jika dibiarkan begitu saja. Dengan membuat Dewangkara menjadi menantu Maharaja, tindakan Dewangkara dan setiap langkahnya kelak akan dengan mudah diawasi oleh Dyah Halayuda.


            “Mohon maafkan saya, Maharaja.” Rakryan Mahapatih Nambi yang duduk di dekat Maharaja, bangkit dari duduknya dan langsung bersujud di depan Maharaja.


            “Ada apa kau tiba-tiba bersujud, Rakryan Mahapatihku?” Maharaja mengalihkan pandangannya ke arah Rakryan Mahapatih Nambi.


            “Dewangkara-putraku tidak bisa menerima hadiah itu, Maharaja.” Masih dengan bersujud, Rakryan Mahapatih Nambi menjawab pertanyaan dari Maharaja.


            “Kenapa tidak bisa?”


            “Karena putraku sudah memiliki janji pernikahan dengan gadis lain.”


            “Mohon maaf, Maharaja. Saya tidak berani mengada-ada untuk itu, Maharaja.” Rakryan Mahapatih Nambi menjawab lagi.


            “Kalau begitu berikan buktinya jika Dewangkara-putramu telah memiliki janji pernikahan.” Maharaja yang masih tidak percaya, masih berniat untuk membuat Dewangkara menjadi menantunya dengan harapan kelak Dewangkara dapat duduk di posisi Rakryan Tumenggung. 


            “Apa yang dikatakan Rakryan Mahapatih adalah kebenaran, Maharaja.” Dari arah lain, Hattali Yasodana naik ke atas arena pertandingan dan bersujud kepada Maharaja sebelum memberikan salamnya kepada Maharaja. “Salam, Maharaja.”


            “Siapa kamu?” Maharaja bertanya kepada Hattali Yasodana yang bersujud di samping Dewangkara.


            Hattali mengangkat tubuhnya agar Maharaja dapat dengan jelas melihat wajah dan rupanya. “Ini saya, Maharaja. Apa setelah bertahun-tahun saya tidak menemui Maharaja, Maharaja yang agung ini sudah melupakan saya?” 


            Begitu melihat wajah Hattali Yasodana, Maharaja yang tadi memasang wajah kecewa dan hendak meluapkan amarahnya, kini mengubah rautnya dalam sekejap. “Paman Hattali!”


            “Ya, ini saya, Maharaja.”


            Maharaja langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Hattali Yasodana. Maharaja langsung berlutut di depan Hattali dan membuat Hattali yang sejak tadi menundukkan kepalanya untuk melihat ke arahnya. Maharaja kemudian memeluk Hattali sebagai tanda rindunya. Dan setelah memeluk tubuh Hattali selama beberapa detik, Maharaja melepaskan pelukannya dan memandang Hattali dengan penuh rindu.  “Sudah lama sekali kita tidak bertemu, Paman.”


            “Maafkan saya, Maharaja. Saya tidak ingin mengganggu Maharaja yang selalu sibuk mengurus kerajaan ini.” Hattali bersikap sopan dan tetap merendah bahkan ketika Maharaja turun dari singgasananya untuk melihat dirinya.


            “Apa yang membawa Paman kemari setelah sekian lama?” Maharaja bertanya pada Hattali Yasodana dengan wajah penasaran.


            Hattali Yasodana melihat ke arah Dewangkara yang berlutut di sampingnya. “Aku ingin menemui calon menantuku, Maharaja.”


            “Menantu?” Maharaja melihat ke arah yang sama dengan yang dilihat oleh Hattali: melihat ke arah Dewangkara yang masih bingung dengan apa yang sedang terjadi. Bukan hanya Dewangkara, semua orang di antapura merasa bingung dengan keadaan ini kecuali Rakryan Mahapatih Nambi.


            “Dewangkara adalah calon menantuku, Maharaja. Dia sudah melamar putriku-Gayatri dan akan menikah sebulan lagi.” Penjelasan Hattali ini membuat semua orang terkejut termasuk Dyah Halayuda yang tahu bahwa rencananya kini sudah berakhir dengan kegagalan.


            “Aku tidak tahu jika Dewangkara putra dari Rakryan Mahapatih telah membuat janji pernikahan dengan gadis lain, Paman. Jika aku tahu akan hal itu, aku tentu tidak akan memberikan hadiah itu pada Dewangkara, Paman.”


            Hattali tersenyum mendengar jawaban yang diberikan oleh Maharaja. “Terima kasih banyak untuk perhatian Maharaja.”


            Drama kerajaan dan jebakan yang berusaha untuk mengikat Dewangkara dengan antapura berhenti di titik itu. Berkat kemunculan Hattali Yasodana, Maharaja melepaskan niatnya untuk mendapatkan Dewangkara sebagai menantu dan anggota pasukan bayangkara karena berhutang budi pada Hattali Yasodana di masa lalu. Sebagai gantinya ... Maharaja memberikan koin emas untuk membantu pernikahan Gayatri dan Dewangkara. Lalu  rencana  jahat Dyah Halayuda untuk membuat Dewangkara berada di antapura berakhir dengan kegagalan dan orang yang akhirnya menikah dengan salah satu putri Maharaja adalah Danapati. Hadiah itu diberikan Maharaja pada Danapati yang telah berusaha untuk memenangkan pertandingan meski berakhir dengan kekalahan.


             Pada akhirnya, Dewangkara berhasil lolos dari jebakan dan tidak kehilangan Gayatri sebagai calon istrinya.