
Rayyan lalu mendekati ziva yang masih duduk disamping ranjang zayyan, ia berjongkok dan memutar kursi yang diduduki oleh ziva agar mengahadap padanya
"hey aku mengerti kesedihanmu, kami semua juga merasakannya" rayyan menjeda ucapannya sembari menghapus buliran air mata ziva yang ikut jatuh
"tapi bukan berarti kau melupakan keponakanku ini" rayyan mengelus perut buncit ziva,
untung saja kakaknya saat ini sedang tidak sadar kalau tidak ia pasti sudah mendapatkan tonjokan karena ke lancangannya itu. Lagi pula terlepas dari ia yang sedang membujuk ziva, rayyan memang menganggap wanita itu seperti adiknya, adik perempuannya.
"aku tidak selera makan ray" ucap ziva dengan suara seraknya
"bukan masalah kau selera atau tidak, tapi bayimu didalam sana juga butuh asupan dari tubuhmu, kalau kau tidak memasukkan apapun ke dalam tubuhmu bagaimana dia bisa makan hum? Bagaimana dia bisa minum? Apa kau tega membiarkan anakmu kelaparan?" cercah rayyan
Ziva mengangguk yang artinya ia bersedia untuk makan malam namun lagi lagi air matanya tidak bergenti mengalir membuat rayyan yang ada dihadapannya menjadi keki.
"zivani aurelle richard aku tidak suka dengan air mata ini, jadi jangan menangis lagi" ucap rayyan penuh penekanan sambil menghapus air mata ziva hinga bersih.
Makan malam dimulai dengan keheningan hanya ada suara dentingan sendok dan piring tidak ada yang bersuara sama sekali. Namun saat makanan telah habis ziva memberanikan diru untuk membuka suara.
"hmm mom dad, aku yang akan menginap disini untuk menjaga suamiku, kalian pulanglah istirahat saja dirumah" ucap ziva
"tidak sayang, kami juga akan disini menunggu zayyan sadar" ucap bu bianca yang juga terlihat rapuh dengan mata sembabnya
"begini saja mom, aku yang akan disini bersama ziva, mom dan daddy kembali saja kerumah, besok pagi saat aku mau ke kantor mom akan datang untung menggantikanku" saran rayyan
"tapi dek .." ucapan bu bia terhenti karena suaminya menyentuh tangannya
"baiklah jika begitu, kabari kami jika ada apa apa dengan kakakmu" putus pak will
pak william lalu mengedarkan pandangannya melihat ruangan rawat kelas VVIP yang ditempati oleh anaknya itu, disana hanya ada satu ranjang kosong yang memang diperuntukkan untuk keluarga pasien. Tapi ziva dan rayyan tidak mungkin tidur diranjang yang sama itu.
"dad akan meminta satu ranjang lagi untuk ditaruh disana" ucap pak will menunjuk salah satu sudut ruangan yang masih kosong
"apa perlu dad? aku rasa ruangan ini sudah sangat penuh dengan fasilitas rumah sakit yang begitu lengkap" tutur rayyan
"tentu saja perlu tidak mungkin kau akan tidur diranjang itu bersama ziva" ucap pak will
"yaampun dad, aku bisa tidur disofa kau tenang saja, ada banyak sofa empuk disini" sahut rayyan
"kau yakin?" tanya pak will memastikan
"tentu saja yakin dad, lagi pula dad kalau kau meletakkan ranjang disana yang benar saja tidak mungkin aku tidur didepan pintu itu bagaimana kalau ada dokter atau suster yang masuk dan melihatku yang sedang tidur sungguh memalukan" rayyan sampai menggelengkan kepalanya saat membayangkan hal itu
"yasudah kalau begitu, mom apa kau sudah? Kita akan pulang setelah ini" tanya pak william
"sayang kau yakin akan nyaman tidur dirumah sakit?" tanya bu bianca sejujurnya ia khawatir dengan kesehatan menantunya yang sedang hamil itu
"iya mom, lagi pula ini bukan masalah nyaman atau tidak, aku disini untuk menjaga suamiku jadi mommy tenang saja" ucap ziva meyakinkan mertuanya
"baiklah kalau begitu sayang, tapi kau harus janji ya sayang kau harus beristirahat kau tidak boleh lelah, ingat ada baby mu yang lucu ini" pesan bu bianca sambil mengelus lembut perut ziva
Sebelum pak will dan bu bianca pergi mereka menyempatkan pamit pada anaknya yang belum juga sadarkan diri sampai saat ini, bu bianca juga kembali menangis sembari meminta putranya itu untuk segera bangun dari tidurnya yang begitu tenang itu.
Setelah kepulangan ibu dan ayah mertuanya, ziva kembali duduk sembari menatap suaminya yang masih terbaring lemah, air mata sesekali kembalu jatuh dikedua pipi ziva, dan seperti yang sudah sudah rayyan akan meminta ziva untuk tidak menangis lagi lalu segera beristirahat.
"ziva barang barang mu sudah ada" ucap rayyan dengan meneteng tas yang berisi pakaian dan perlengkapan ziva yang lainnya
Ya, tadi rayyan sudah meminta asistennya rio untuk mengambil beberapa perlengkapan ziva yang telah disiapkan oleh ART dirumah mereka sesuai perintah rayyan, tidak lupa juga rayyan menyuruh rio membawakannya satu setel baju untuk ia pakai malam ini karena ia baru akan pulang besok pagi sedangkan saat ini ia masih menggunakan pakaian kantornya.
"kenapa kau menangis lagi?" tanya rayyan
"kau pasti tau kalau suasana hatimu bisa memengaruhi bayimu yang masih didalam kandunganmu itu, jadi ayolah berhenti menangis" rayyan benar benar tidak tega pada iparnya itu
"rayyan apa yang bisa aku lakukan? kau tahu aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana aku harus melewati malam ini tanpa nya? Tanpa pelukannya? Aku benar benar kesepian, hatiku sakit melihatnya tidak berdaya seperti itu" rintih ziva yang semakin menjadi jadi
"dia akan baik baik saja ziva yakinlah itu, jika kau terus seperti ini tidak hanya dia yang sakit tapi kau juga sedangkan kau membawa bayimu ikut serta" ucap rayyan memegang kedua bahu ziva
"sekarang hapus air matamu ini, kau seharusnya memberinya semangat agar dia segera sadar, bukan malah menjadi wanita cengeng seperti ini" rayyan lagi lagi menghapus air mata ziva
"pergi ganti bajumu, lalu istirahat diranjang itu, ingat tidurlah yang nyenyak untuk sejenak lupakan dulu beban hidupmu itu" rayyan membantu ziva untuk bediri lalu menuntunya kekamar mandi
"kau mau masuk juga?" sindir ziva karena rayyan terus saja mengekorinya bahkan sampai ziva sudah didepan pintu kamar mandi
"ck, aku hanya memastikanmu baik baik saja, jangan sampai aku diamuki oleh pria yang sedang terbaring disana" cecar rayyan
"kau itu berlebihan sekali" ucap ziva
"yasudah, hati hati jangan melamun dikamar mandi nanti kau terpleset" amanat rayyan
"yayaya pak bos" ziva lalu mengunci pintu kamar mandi itu
Ruang rawat zayyan