My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Hadiah perpisahan



"aku hanya ingin kau cepat pulih suamiku, aku ingin kita merawatnya bersama sama, aku tidak sanggup jika tanpamu" ucap ziva ditengah tengah isaknya


"aku berjanji untuk itu" zayyan menghapus air mata yang membasahi pipi mulus ziva


"nanti jika kau rindu mintalah mommy untuk menghubungiku" pinta


"ohohoo apa aku ada mengatakan bahwa aku akan rindu hmm? Sepertinya kau terlalu percaya diri nyonya" ucap zayyan diiringi sindiran


"ck, baiklah aku yang akan menghubungimu jika aku rindu" ziva mencubit perut zayyan karena tidak terima zayyan menyindirnya


"aduhh, sakit" zayyan meringis sambil tertawa kecil melihat raut wajah ziva yang menahan malu


"aku harus segera kembali" ucap ziva


"jaga dirimu suamiku" tambahnya


"dan aku tidak ingin mendengar ada hal buruk yang terjadi padamu apapun itu" lanjutnya lagi


"siap nyonya" ucap zayyan dengan patuh


"kau tidak ingin memberikan hadiah perpisahan pada istrimu?" goda ziva


"kau ingin apa? dan apa yang bisa aku berikan? Kau tidak lihat, ponsel saja aku tidak punya apalagi uang aku bahkan tidak bisa pergi untuk memberikanmu sesat..." ucapan zayyan langsung terhenti


Dengan gerakan cepat dan tanpa aba aba ziva langsung menerobos bibir lelaki yang masih berststus sebagai suaminya itu ia membubuhkan kecupan singkat disana. Dan sontak membuat zayyan langsung membeku.


"aku hanya ingin hal sederhana seperti ini" ucap ziva dengan tersenyum puas


"kau " zayyan menatap istrinya dengan tatapan tajam, membuat nyali ziva langsung menciut


"maaf maafkan aku" ziva hendak turun dari ranjang pasien itu namun zayyan menahan pergelangan tangannya


"kau curang" ucap zayyan sembari mencubit pipi ziva


"aw aw" pekik ziva


"ada apa nak?" ucap bu bianca yang mendengar rintihan menantunya


"ah tidak apa apa mom" jawab ziva


"oh baiklah mommy kira kau kenapa" ucap bu bianca mengkhawatirkan menantunya


"ya sudah aku pulang dulu, cepatlah sembuh supaya kita bisa berkumpul lagi" ucap ziva sambil turun dari ranjang pasien itu


"hmm aku ingin melihat jagoanku dulu" ucap zayyan melirik pada sang putra yang sedang dalam gendongan oma nya


Ziva mengangguk sambil tersenyum, walaupun ingatan suaminya itu sedang terganggu tapi pelahan lahan zayyan bisa menerima keluarga kecilnya itu, sifat yang ditunjukkan zayyan akhir akhir ini pun berangsur angsur mencair tidak lagi seperti awal berjumpa yang begitu dingin dan kaku.


"mom, suamiku ingin melihat nio" ucap ziva menghampiri mertuanya


"uuuh itu bagus sekali, ini dia" bu bianca memberikan sang cucu pada ibunya


"hay daddy" ucap ziva menyerupai suara anak anak


"wow, kau tampan sekali bro" ucap zayyan berbinar binar melihat ketampanan sang putra


"dia sangat mirip denganmu" sahut ziva


"benarkah? Biar aku lihat dengan seksama" canda zayyan


"wah benar kita mirip, tapi jagoanku ini jauh lebih tampan rupawan" lanjutnya


Ziva tertawa kecil mendengar pujian punjian yang dilontarkan suaminya itu.


"hmm aku jadi cemburu, pantas saja mommy mu lebih memilih bersamamu dan mengabaikan aku" gurau zayyan


"hey kau bicara apa sayang?" ucap ziva terkejut dengan ucapan suaminya, bagaimana bisa zayyan punya pikiran seperti itu


"hahaha aku bercanda mommy nya nio" untuk pertama kalinya zayyan tertawa seperti ini setelah tragedi kecelakaan itu bagi ziva


"Aku berdoa dan sangat berharap agar kelak kau menjadi seorang pria yang paling memuliakan mommymu diatas segala galanya" ucap zayyan dengan menyentuh wajah baby nio


"kau keliru suamiku, Dia harus menjadi anak yang berbakti pada kedua orang tuanya, tidak hanya aku" sambung ziva


"tapi kaulah yang paling utama, kau mengandungnya dengan ikhlas juga melahirkannya dengan susah payah, sampai saat ini pun aku masih ketakutan jika membayangkan detik detik persalinanmu kemarin" ucap zayyan berterus terang


Ziva tersenyum senang mendengar ucapan suaminya itu, walau pun zayyan tidak sedang mengucapkan kata kata cinta namun setiap kata yang keluar dari bibir manis itu mengandung kasih sayang dan cinta yang teramat sangat dalam bagi ziva sendiri.


"benarkah?" ziva seolah tidak percaya dengan reaksi zayyan


"tentu saja, melahirkan pasti sangat sakit aku tidak sanggup membayangkannya maka dari itu bro jika kau besar nanti kau harus patuh padanya, kau tidak boleh membangkang apalagi menyelah setiap ucapannya oke" zayyan memberi wejangan pada sang putra seolah olah baby nio bisa mendengarkannya.


"ah kau menggemaskan, rasanya aku ingin segera mencumbui mu" tutur ziva


"ck, kenapa otakmu jadi mesum" zayyan menggeleng sambil tertawa kecil


"nak apa sudah? Supir kita sudah menunggu" ucap bu liza sambil berjalan menghampiri sang anak


"iya bun, kalau begitu aku pamit ya ingat kau harus cepat sehat" ucap ziva sebelum ia meninggalkan suaminya


"iya, jaga dirimu dan juga jagoanku ini" ucap zayyan sambil mengelus pipi tembem milik baby nio


"dan jangan lupa menghubungiku" sambungnya dengan berbisik ditelinga ziva


"baiklah suamiku, sampai jumpa dirumah. I love you" ziva melambaikan tangannya dan duduk dikursi rodanya


"iya" jawab zayyan yang juga melambaikan tangannya


"lekas pulih ya nak" ucap bu liza dan diangguki oleh zayyan


"cepat sembuh zayyan" ucap vanya yang juga dijawab anggukan oleh zayyan