
"kak kau disini? Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu" ucap vanya yang baru saja datang
Silvi menoleh kebelakang, menatap vanya penasaran sembari menghapus air matanya.
"ada apa vanya? Apa yang ingin kau tunjukkan" tanya silvi
vanya memberikan ponselnya pada silvi, ya hari ini ia memutuskan untuk memberi tahu kakaknya tentang kebusukan bu elen selama ini, ia mengumpulkan semua rekaman Cctv yang ia pasang dirumah secara diam diam. Walaupun ia tahu bahwa waktunya sudah terlambat dan tidak akan merubah apapun tetapi silvi tetap harus mengetahui semua perlakuan mamanya pada keluarga mereka terutama pada ziva.
"maaf kak, selama ini aku memasang cctv secara diam diam dirumah kita" ucap vanya
"sebenarnya sejak dulu aku ingin membongkar semua ini tapi mengingat kondisi ayah yang baru saja divonis punya penyakit serangan jantung, aku mengurungkan niatku karena aku tidak ingin membuat kondisi ayah semakin buruk" tambah vanya
Silvi sangat syok melihat semua rekaman cctv itu, kepalanya terasa berkunang kunang, pandangannya menjadi kabur, dan tubuhnya ambruk namun untung saja rayyan dengan sigap menahan tubuh silvi agar tidak terbentur dengan lantai sehingga akan membahayakan kandungannya
"kakak" teriak vanya
"kakak bangun kak" vanya terus berteriak ia menjadi sangat panik
Mendengar teriakan vanya yang cukup nyaring, ziva dan zayyan mengedarkan pandangan mereka mencari asal suara itu dan benar saja zayyan melihat rayyan disudut sana bersama vanya.
Ziva dan zayyan berlari mendekati tempat rayyan dan vanya berada.
"kak vanya, kak silvi kenapa?" tanya ziva panik
"ada apa ini rayyan?" tanya zayyan
"pingsan kak" jawab rayyan
Zayyan langsung mengambil alih tubuh silvi dari rayyan, zayyan menggendong silvi yang susah tidak sadarkan diri dan berlari keluar hotel untuk membawanya kerumah sakit.
"loh silvi kenapa?" tanya bi bianca
"anakku, apa yang terjadi padanya? " ucap bu elen
"dia pingsan, dan aku akan membawanya kerumah sakit" jawab zayyan
"iya ayo kita kerumah sakit" ucap pak william
seluruh keluarga bergegas kerumah sakit dengan mengendarai mobil masing-masing. Sesampainya dirumah sakit silvi langsung ditangani oleh dokter terbaik. Dan jangan tanyakan bagaimana dengan acara pernikahannya tentu saja keluarga sepajat untuk ditunda sampai kondisi silvi membaik.
"bapak tenang saja, pasien baik baik saja begitu pula dengan kandungannya, dia hanya sedang stres karena banyak pikiran, biasanya ibu hamil jika terlalu stres banyak pikiran juga kelelahan kepalanya akan mudah pusing dan berujung pingsan" ucap dokter itu dengan ramah
"baiklah dok, apa anak saya sudah bisa di jenguk?" tanya bu elen
"silahkan bu, kebetulan juga pasien sudah sadarkan diri dan mencari keluarganya" ucap dokter itu dan pergi bersama suster yang lainnya
setelah kepergian dokter seluruh keluarga masuk kedalam ruangan rawat silvi. Ada pak leon, bu elen, ziva, vanya dan bu liza, ada juga zayyan, rayyan, bu bianca, dan pak william.
"sayang bagaimana keadaannmu?" tanya pak leon sambil menggenggam tangan silvi yang sedang terbaring lemah
"ayah maafkan silvi, maaf silvi sudah mempermalukan ayah" ucap silvi diiringi dengan air mata yang meluncur deras
"sayang apa yang kamu katakan nak? Ayah tidak pernah menyalahkanmu untuk apapun yang terjadi" ucap pak leon tulus
"ayah silvi sudah banyak membohongi ayah, dan itu semua karena mama, aku melakukannya demi mama" ucap silvi dengan sesegukan
"apa yang kau katakan nak?" ucap bu elen menjadi tegang
"ayah sebenarnya anak ini bukan anaknya zayyan, aku sengaja menjebaknya atas perintah mama" ucap silvi terus menangis
Deg..
semua orang menjadi sangat tegang mendengar penuturan dari silvi, ziva dan zayyan saling pandang mengisyaratkan arti kemenangan hubungan mereka lewat tatapan.
"silvi apa yang kau bicarakan, kenapa kau malah menuduh mama" sentak bu elen
"sayang apa yang kau katakan ini adalah kebenaran? Kalau iya tolong diperjelas nak supaya tidak terjadi kesalahpaham kedua keluarga" bu liza sengaja memanfaatkan moment ini untuk membantu silvi membongkar kedok bu elen
"iya bunda, semua ini benar aku berani bersumpah demi bayiku" ucap silvi memegang perutnya yang masih rata
"ziva.. ziva tolong maafkan aku ya, aku telah banyak bersalah padamu ziva" ucap silvi mengenggam tangan ziva
"dan zayyan maafkan aku ya, aku benar benar sahabat paling jahat yang pernah ada didunia ini, aku sudah memfitnahmu, menghancurkan hubunganmu, bahkan hidupmu oh ya tuhan aku tidak berhak mendapatkan maaf darimu" ucap silvi dengam menyatukan kedua tangannya untuk memohon
"silvi jangan lakukan itu, aku memang marah karena kau telah memfitnah ku tapi aku sangat senang kau mengakui dan mengakhirinya sebelum semuanya terlambat terima kasih ya" ucap zayyan sambil mengelus pucuk rambut silvi
"ayah, hari ini aku baru tahu kalau selama hidupnya ziva selalu mendapatkan siksaan dari mama, seharusnya aku membuka mataku saat ziva mengalami kelumpuhan dulu, seharusnya aku mencari tahu kebenarannya tapi malah aku lah orang pertama yang membela saat ayah menuduh mama" ucap silvi dengan tatapan muak pada bu elen yang terlihat ketakutan