My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Rencana menikah



Silvi juga ikut menyimak dengan serius jawaban ziva, karena ia juga penasaran sekaligus takut jika ziva dan zayyan tidak kembali rujuk.


"kami berencana untuk menikah dalam waktu dekat ini ayah" ucap ziva dengan takut takut


"benarkah?" pekik silvi antusias


"iya kak, maaf ayah bukannya aku tidak memberitahu ayah, aku pun tidak setuju dengan rencananya yang sangat mendadak ini aku ingin kami bertunangan dulu tapi dia sangat tidak sabaran" keluh ziva


"yaampun nak kenapa kau menolak niat baiknya" ucap pak leon yang ternyata berbeda dengan yang di pikir oleh ziva


"iya ziva, seharusnya kau langsung menerimanya dengan senang hati" sambung vanya


"ziva....ziva saat semua wanita menginginkan pria seperti zayyan kau malah menolaknya" tambah silvi


"aku tidak menolaknya kak, aku hanya tidak ingin terburu buru, apalagi ayah baru saja pulih aku ingin menikmati waktuku bersama ayah" ucap ziva


"katakan pada zayyan untuk segera datang melamarmu pada ayah dan tentukan tanggal pernikahan kalian" ucap pak leon


"tapi ayah " ucap ziva tertahan


"ada apa ini? Apa aku melewatkan sesuatu?" tanya bu liza yang ikut bergabung disana


"bunda, ziva dan zayyan berencana untuk menikah dalam waktu dekat ini" ucap silvi antusias


"benar itu sayang?" tanya bu liza memastikan dan dijawab anggukan oleh ziva


"tapi bunda" lagi lagi ucapan ziva terpotong


"oh tuhan, anak bunda ini benar akan menikah? Bunda bingung ingin bahagia atau malah sedih" bu liza memeluk ziva dengan agresif


"liza liza kau itu lebay sekali, tunggulah sampai calon menantumu itu datang melamar anak kita ini baru kau bisa berbahagia sekaligus terharu" ucap pak leon


"ah iya kau benar mas, jadi kapan nak dia akan datang untuk lamarannya?" tanya bu liza


"entahlah bun" jawab ziva


"ayah, selain kabar baik dari ziva, aku ingin menyampaikan sesuatu yang mungkin kurang mengenakkan bagi kalian tapi aku meminta kemurahan hati ayah untuk menyetujui keinginanku ini" ucap silvi pelan


"ada apa nak?" tanya bu liza


"ayah maafkan aku, aku sudah tidak bisa memimpin perusahaan lagi, aku berniat untuk tinggal sendirian bersama bayiku, jadi aku minta ayah carilah pengganti yang bisa ayah percaya untuk memimpin perusahaan, karena lama kelamaan perutku akan membesar dan aku belum menikah mereka pasti akan berfikiran buruk dan tentu akan merusak citra perusahaan" jelas silvi


pak leon terdiam cukup lama untuk mencerna perkataan anak sulungnya, memang ada benarnya silvi seharusnya tidak lagi bekerja karena kondisinya yang sedang hamil tapi ia tidak bisa jika anaknya akan pergi hidup sendirian diluaran sana tanpa siapapun dengan kondisinya yang seperti itu.


"nak janganlah seperti ini, tidak masalah jika kau mengundurkan diri untuk mengurus perusahaan ayah setuju karena dikondisimu seperti ini seharusnya kau tidak lagi bekerja keras, tapi ayah tidak setuju jika kau keluar dari rumah ayah dan tinggal sendirian dengan anakmu yang masih dalam kandungan sil, ayah sungguh tidak ingin itu terjadi" ucap pak leon dengan raut kesedihan


"iya sayang, ayahmu benar tetaplah disini bersama ayahmu terlebih lagi kau belum menikah tidak ada yang akan menjagamu diluaran sana"sambung bu liza


"ayah aku merasa tidak pantas ada disini, keluarga ini keluarga terpandang tapi aku telah merusak kehormatan keluarga kita ayah" ucap silvi


"ayah tidak peduli dengan itu nak, harta tahta yang kita miliki selama ini tidak bisa menggantikan hubungan seorang anak dan ayahnya. Lagi pula ini adalah rumahmu, ayah telah berikan rumah ini sepenuhnya untukmu jadi untuk apa kau tinggalkan rumahmu ini, kalau kau ingin sendirian ayah yang akan pergi karena ayahlah yang menumpang hidup dirumahmu" ucap pak leon sambil sesekali menghapus air mata yang ikut menetes


"baiklah ayah untuk tempat tinggal kita akan tinggal bersama sama disini, tapi dengan syarat ziva dan bunda juga akan tinggal disini bersama sama dengan kita" ucap silvi


"tidak sil, bunda tidak bisa tinggal disini bersama kalian, biarlah ziva yang akan tinggal disini" ucap bu liza menolak keras


"ayolah bun" bujuk silvi


"maaf silvi bunda tidak bisa benar benar tidak bisa" tolak bu liza


"tapi kenapa?" tanya silvi


"sayang kau masih bertanya penyebabnya? Tentu karena kita bukanlah satu keluarga yang utuh, bunda berada disini itu karena ziva, sempatlah kita berfikir apa yang akan dikatakan orang diluar sana saat dua orang yang tidak menikah tinggal bersama" ucap bu liza bagai tamparan bagi pak leon


"cukup, kita akan menjadi keluarga yang utuh seperti dulu" ucap pak leon dengan suara beratnya


"apa yang kau katakan mas?" tanya bu liza mewakili isi hati semua anak anaknya yang juga belum paham dengan ucapan sang ayah