
Pagi ini ziva memasang wajah cemberutnya, bagaimana tidak hari ini suaminya memaksa pergi ke rumah sakit tempat dokter alesha bekerja, padahal ziva sudah melontarkan beberapa alasan agar zayyan membatalkan rencananya hari ini namun tetap saja pria itu sama sekali tidak bergeming.
Zayyan benar benar sangat geram sebab ia baru mengetahui bahwa selama ini istrinya menggunakan alat kontrasepsi KB jenis IUD dan orang yang telah memasangkan alat itu tidak lain dan tidak salah lagi yaitu dokter alesha, dokter obygn yang menangani persalinan ziva.
Pantas saja sudah 2 tahun lebih lamanya ia terus berusaha mencetak anak lagi namun ziva tidak kunjung hamil ternyata istrinya itu sedang dalam pengaruh KB.
"kau sudah siap kan?" tanya zayyan
"hu'um" ucap ziva singkat
"baiklah ayo kita sarapan dulu" ajak zayyan
Ziva melangkah lebih dulu meninggalkan suaminya, kali ini perasaan ziva campur aduk, antara kesal, takut dan bingung menjadi satu. Entah bagaimana reaksi dokter alesha saat tahu jika selama ini ia tidak pernah memberitahu zayyan soal alat pencegah kehamilan yang sudah hampir 3 tahun tertanam dirahimnya.
"Nio sapa mommy dan daddymu" ucap alya yang sedang menyuapi anak tampan itu
"pagi mommy, pagi daddy" sapa nio yang kini sudah berusia tiga tahun sehingga ia semakin pintar berbicara
"pagi sayang" ziva mengecup puncak kepala putranya dan ikut duduk dimeja makan untuk menyantap sarapan
"pagi jagoanku, kau blepotan sekali makannya" zayyan mengambil tisu untuk membersihkan mulut sang putra
"mommy dan daddy mau kemana? Sudah lapi begitu, mau kelumah naya yaa?" celoteh Nio
"tidak nak, daddy dan mommy mau keluar sebentar, nio dirumah saja dengan mbak alya ya" ucap zayyan
"tapi mau kemana dad?" tanya nio lagi, anak itu memang punya rasa keingintahuan yang tinggi
Ziva memilih untuk diam dan menikmati sarapan paginya. ia membiarkan ayah dan anak itu saling bercengkrama.
"kami mau kedokter nak" jawab zayyan
"siapa yang sakit dad?" tanya nio
"mommy tidak sakit boy, hanya ingin periksa saja" jawab zayyan lagi
"tapi kenapa mommy dipeliksa dad? Apa dipelut mommy sudah ada adik?" tanya nio dengan penasaran
"belum sayang, mommy sedang tidak hamil" kali ini ziva yang menjawab
"hamil itu apa mom?" tanya nio
Zayyan memijit pangkal hidungnya, anaknya itu memang sangatlah kepo.
"Nio, nanti mbak akan jelaskan apa itu hamil, sekarang biarkan mommy dan daddy untuk sarapan" alya mengambil alih anak yang kepo itu
"iya mbak" jawab nio patuh
Jantung ziva berdebar kencang saat mereka mulai melewati koridor rumah sakit. Ia takut dokter alesha akan membongkar semua pembicaraan mereka berdua dikala itu pada zayyan.
"apa alesha ada didalam?" tanya zayyan pada asisten dokter itu yang kebetulan berada didepan pintu dengan beberapa berkas ditangannya
"iya tuan" jawab asisten dokter alesha yang bernama maya
Zayyan hendak mendorong pintu ruangan itu namun langsung di cegah oleh maya.
"maaf tuan anda belum bisa masuk, didalam masih ada pasien jika anda ingin berkonsultasi silahkan menunggu antrian dipanggil tuan" ucap maya
"aku tidak peduli" sahut zayyan tegas membuat maya bergelidik ngeri
Zayyan menggenggam tangan ziva dan langsung masuk kedalam ruang praktek dokter kandungan itu tanpa mengetuk.
Dokter alesha dan pasien ibu hamil yang ditemani suaminya itu langsung menoleh dan menatap heran zayyan yang masih diambang pintu.
"kenapa kalian menatapku? Ale cepat selesaikan pasienmu ini aku ingin bicara" ucap zayyan lantang tanpa dosa
"baiklah bu ini resep untuk vitamin nya, dan jangan lupa jika dalam tanggal yang tertulis disini ibu belum juga mengalami tanda tanda persalinan maka segera kembali untuk berkonsultasi ya" ucap dokter alesha dengan berwibawa
"baik dokter, terima kasih kami permisi" sepasang suami istri itu langsung pamit, tidak ingin pengusaha terkenal yang sangat berpengaruh itu menunggu lama.
"silahkan duduk" alesha mempersilahkan ziva dan juga zayyan untuk duduk didepannya
"aku tidak mau basa basi ale" ucap zayyan dengan dingin
"yasudah kalau begitu to the point saja tuan" sahut alesha dengan santai
"alat apa yang kau pasang pada rahim istriku? dan mengapa kau dengan seenaknya memasang alat sialan itu tanpa meminta persetujuanku terlebih dahulu?" cecar zayyan
"tunggu tunggu, tuan sedang membahas apa? Aku tidak mengerti arah pembicaraan tuan" ucap alesha
"sudahlah ale tidak perlu sok formal, kau kan yang memasang alat kotrasepsi dirahim ziva sehingga dia tidak kunjung hamil?" tanya zayyan to the point
"oh kau membahas alat kontrasepsi" ucap alesha dengan santai tidak seformal tadi, sebab memang ia juga suaminya dan zayyan memang berteman sangat akrab saat sekolah dulu
"ya, kau kan yang memasangnya?" tanya zayyan
"ya kau benar, tapi apa masalahnya disini?" tanya alesha ia juga melirik ke arah ziva yang seolah memberikannya kode isyarat
"tentu saja bermasalah, gara gara tindakan bodohmu itu aku jadi terhambat memiliki anak lagi" pungkas zayyan
"hey hati hati kau kalau bicara" alesha jadi tidak terima
"memang benar bukan? Kau bertindak sesuka hatimu, sebagai dokter seharusnya kau meminta pendapat dan persetujuan dari keluarga pasienmu tapi apa yang kau lakukan? Seenaknya kau memasang alat sialanmu itu bahkan ziva pun tidak mengerti dengan alat yang menancap dirahimnya" zayyan tersulut emosi
"aku selalu bertindak sesuai dengan persetujuan pasien zayyan, jaga mulut laknatmu itu" alesha benar benar naik pitam
inilah perbedaan alesha saat menjadi dokter dan saat menjadi seorang teman, wanita ini begitu sangat berwibawa dengan kesopanan yang tinggi saat ia menjelma menjadi dokter spesialis, sedangkan saat ia bercengkrama dengan seorang teman atau kerabat ia tetaplah seperti wanita pada umumnya yang memiliki mulut pedas sepedas cabe rawit.
"apa kau bilang?" ucap zayyan tidak terima
"cukup" pekik ziva
"kau kenapa malah marah marah, bukannya kita kemari untuk melepaskan Alat kontrasepsi IUD ini?" lanjutnya
"tapi ziva, KB IUD yang aku pasangkan padamu berjangka waktu 5 tahun jadi lebih baik jangan dilepas dulu" sarab alesha
"apa lima tahun? Kau sudah gila ya" sarkas zayyan
"ck, kau itu sebaiknya nikmati dulu waktu dengan putra pertamamu, jangan dulu memikirkan untuk tambah anak" sindir alesha
"aku tidak mau tahu ale sekarang juga kau harus melepaskan alat sialanmu itu" ucap zayyan emosi
"sekarang? Tidak bisa tuan zayyan richard yang terhormat kau tidak lihat banyak sekali pasienku yang menunggu diluar" ucap alesha kesal
"iya suamiku lebih baik besok saja dan kita akan buat janji terlebih dulu" saran ziva
"kau juga kenapa malah membelanya? Dia telah menipumu sebab kau terlalu naif, dia memasang alat itu supaya kau tidak bisa hamil lagi" serang zayyan pada istrinya
"oh yaampun kau itu jangan bodoh, istrimu bisa hamil lagi jika KB IUD nya dilepas lagi pula siapa yang menipu ziva aku memasang alat itu atas persetujuannya karena ia ingin menjaga jarak usia anak anaknya" ucap alesha
"ck, itu karena kau yang lebih dulu menyarankannya untuk memakai alat itu" ucap zayyan tidak mau kalah
"sudahlah suamiku ayo kita pulang kau tidak malu membuat keributan seperti ini" ajak ziva dari pada suaminya itu semakin mengumpan alesha untuk membongkar pembicaraan mereka waktu itu lebih baik ia segera membawa zayyan pergi dari sana
"kak ale, maafkan pembuatan suamiku hari ini" ucap ziva tidak enak hati
"iya ziva tidak apa apa, tapi segera bawa suamimu yang gila itu" ujar alesha tanpa dosa
"hey ale enak saja kau mengataiku gila, aku kan mencekikmu" protes zayyab tidak terima
"coba saja, sebelum kau menyentuhku zaki akan lebih dulu menggantungmu dipohon mangganya" sahut alesha
Karena sudah tidak tahan lagi dengan tingkah suaminya ziva menariknya dengan paksa keluar dari rumah sakit itu dan masuk ke dalam mobil.
"zayyan richard" ziva berteriak kencang membuat teli nga zayyan berdengung
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
nih nih thor kasih bonus chapter ya biar seru hehe