My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Sakit hati



Zayyan dan ziva langsung pulang ke rumah setelah dari restoran bu liza.


"kau senang malam ini?" tanya zayyan sambil fokus menyetir


"senang, tapi menurutku ini masih kurang" jawab ziva


"oh ya, jadi menurutmu kita akan kemana lagi setelah ini?"tanya zayyan


"puncak kek, tempat wisata, dan kebun binatang juga bisa" jawab ziva


"humm, aku pikir berdiam dihotel lebih menyenangkan dari pada jalan-jalan" tambah zayyan


"issh kakak mesum" ucap ziva sambil memukul lengan zayyan


"hey memangnya apa isi otakmu? Aku bilang kan berdiam dihotel" sanggah zayyan tersenyum geli


"ah sudahlah kak, otakmu itu memang selalu mesum" tuduh ziva


"otak orang dewasa kan memang seperti itu" ucap zayyan yang masih menyetir


"jadi maksudmu kak aku ini anak kecil hanya karena otakku tidak sekotor otakmu" oceh ziva


"aku tidak katakan kau anak kecil sayang, tapi kau itu pantas dikatakan anak remaja" jelas zayyan menahan tawanya karena ziva yang terlihat kesal


"aku wanita dewasa bukan bocah bukan remaja" putus ziva


"ow baiklah, wanita dewasa itu berarti udah bisa dong ya buat anak" canda zayyan


"ish kakak" kesal ziva memukul tangan zayyan berkali-kali


"aw aw bercanda sayang" ucap zayyan dengan tawanya


Tidak terasa sampailah dipekarangan rumah ziva.


"aku tidak mampir ya sayang" ucap zayyan sebelum ziva turun dari mobil


"iya kak, kalau udah sampai rumah hubungi aku, dan hati-hati di jalan" pesan ziva


"siap nona richard" ucap zayyan patuh


"kiss bye" pinta ziva dengan gaya genitnya


"wow dengan senang hati" sahut zayyan langsung meraih wajah ziva. Ia mengecup kening dan kedua pipi ziva berkali-kali dan sebaliknya dengan ziva melakukan hal yang sama pada zayyan


"next time ini" ucap zayyan saat jarinya menyentuh bibir mungil ziva


"no" tolak ziva dengan senyum menggodanya. lalu ia keluar dari mobil zayyan.


"pagi" ucap zayyan yang baru saja masuk kekediaman keluarga smith diantar salah seorang ART


"loh yan bukannya ziva udah nggak magang dikantor kamu ya?" tanya silvi


"mungkin nak zayyan mau jemput kamu sil" sambung bu elen


"hah bener yan?" tanya silvi


"iya kan nak zayyan, lagian ziva hari ini kekampusnya siangan karena kelasnya nanti siang makannya dia masih bobo" tambah bu elen tanpa memberi kesempatan zayyan berbicara


Sebenarnya bu elen sudah tahu kalau zayyan datang menjemput ziva kekampus pagi ini karena bu elen sempat mendengar percakapan ziva yang sedang menelfon seseorang semalam, ditambah dengan pulangnya ziva tadi malam yang turun dari mobil mewah zayyan membuat bu elen semakin curiga ada hubungan antara ziva dan zayyan. Jadilah hari ini bu elen berniat menghalangi hubungan ziva dan zayyan dengan menjadikan silvi sebagai penengah diantara mereka.


"ayo nak cepat ambil tas mu dan cepatlah kekantor kasihan nak zayyan menunggu" sambung bu elen


Karena tidak ada penolakan dari zayyan, silvi pun mengambil tasnya dan berjalan mendekat kearah zayyan. Pak leon dan vanya hanya diam mereka juga berfikir demikian.


"ayo" ajak silvi sambil menggandeng tangan zayyan


zayyan terlihat kebingunggan, ia pun hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti arah langkah silvi yang membawanya kemobilnya.


ziva yang baru terbangun membuka tirai jendela kamarnya, tidak sengaja pandangannya melihat ke bawah terparkir mobil mewah dan diikuti zayyan yang membukakan pintu mobil untuk kakaknya silvi. Ziva kaget dengan apa yang ia lihat, ia memegangi dadanya yang seperti mendapat tancapan benda tajam.


dari balik jendela ziva melihat mobil zayyan semakin menjauh dan menghilang dari netranya. Ziva lalu dengan gerak cepat bersiap-siap untuk ke kampus. Saat akan turun kelantai bawah menuju dapur terlihat hanya tinggal bu elen yang berada dimeja makan.


"ma" ucap ziva


"hmm, enak ya bangun kesiangan seperti tuan putri, dasar tidak tahu diri" maki bu elen


"bukan begitu ma, aku merasa sangat capek jadi aku bangun kesiangan" jelas ziva


"oh capek karena semalam melayani laki-laki yang mengantarmu pulang itu ya? ibu dan anak sama saja, sama-sama menggunakan tubuhnya untuk uang" hina bu elen


Hati ziva sungguh sakit mendengar hinaan mamanya. Tidak terasa bulir air mata membasahi pipinya ia lalu menghapusnya dan berusaha sabar dengan semua hinaan bu elen.


"apa tadi kak zayyan datang?" tanya ziva


"ya, dia datang untuk menjemput silvi" jelas bu elen


Melihat ziva bersikap tenang bu elen semakin memperkeruh keadaan.


"kau tidak percaya? Tanyakan saja pada zayyan, bahkan tadi zayyan menggandeng tangan silvi saat keluar dari rumah ini, hmm sangat serasi sepertinya mereka cocok untuk menikah" sambung bu elen


ziva lalu menatap bu elen, ia harus cepat pergi ke kampus kalau tidak telinganya akan dipenuhi kata-kata yang menyakitkan jiwanya.