
"ayah" panggil ziva saat melihat ayahnya meneteskan air mata
Pak leon menghapus air matanya, ia tidak boleh terlihat lemah didepan zuva justru ia harus menjadi tongkat yang kokoh untuk ziva, ia harus bisa menjadi penguat untuk anaknya yang malang itu.
"nak maaf ayah tidak bisa menjagamu dengan baik" lirih pak leon
"ayah bicara apa? Ini bukan kesalahan ayah jangan menyalahkan diri ayah sendiri, dan ayah lihat ziva nya ayah masih hidup kan? jadi apa yang ayah cemaskan" ucap ziva berusaha menguatkan dirinya untuk tidak mengeluh juga memberikan harapan pada ayahnya agar tidak sedih melihat keadaannya padahal ia sudah merasa kesakitan disekujur tubuhnya terutama tangan kanan dan kaki kirinya yang terasa tidak dapat digerakkan
"nak jangan putus asa, tetaplah menjadi anak ayah yang tegar dan kuat, kata dokter kau bisa sembuh dengan beberapa terapi juga kegigihanmu untuk sembuh, kau juga harus selalu berdoa pada tuhan agar diberi kemudahan untuk melewati semua ini" ucap pak leon menasihati ziva
"iya ayah, ayah jangan pikirkan aku, aku akan sembuh untuk ayah" ucap ziva lirih
Pak leon langsung memeluk tubuh ziva yang masih terbaring lemah, silvi dan vanya yang sedari tadi sudah tidak mampu menahan air matanya akhirnya menumpahkan tangisannya, dan bu elen ia hanya berdiri disamping pak leon sambil bersandiwara berpura-pura sedih.
Lama pak leon terus mengelus pucuk kepala ziva seperti yang ia lakukan sejak kecil agar ziva dapat beristirahat, disisi lain vanya di kagetkan dengan dering ponselnya.
"astaga aku lupa kalau aku ada janji pada zayyan" batin vanya saat melihat siapa yang menelponnya ternyata zayyan, vanya sengaja tidak menjawab telepon dari zayyan karena ia harus menjalankan strateginya
"hmm ayah bagaimana kalau ayah kembali saja, beristirahatlah dirumah, kak silvi juga bukannya kak silvi besok harus kerja, jadi biar aku saja yang menjaga ziva disini" pinta vanya
"memangnya besok kau tidak kerja vanya?" tanya silvi
"tidak kak besok aku tidak ke hotel, agendaku juga lagi kosong jadi aku ingin cuti saja dulu untuk menjaga ziva disini" jelas vanya
"oh begitu, iya sih besok aku memang ada beberapa pertemuan dengan rekan bisnis" sahut silvi
"iya mas kita pulang kerumah saja dulu, mas juga belum makan sedari siang" ucap bu elen yang ingin segera pergi dari tempat itu
"nak ayah kamu nggak papa kalau ayah pulang?" tanya pak leon pada ziva yang belum juga tidur
"pulanglah ayah istirahatlah dengan baik dirumah jaga kesehatan ayah" ucap ziva tulus
"jangan khawatirkan aku,ada kak vanya disini" tambah ziva
"yasudah, kau istirahat dan jangan lupa makan juga minum obatmu ya supaya princess ayah ini cepat sembuh" ucap pak leon lalu mengecup pucuk kepala ziva
"ayah pulang ya nak ayah akan sering-sering kesini buat jenguk kamu" tambah pak leon
"iya ayah hati-hati" ucap ziva
"kakak pulang ya dek"pamit silvi pada ziva
"iya kak" sahut ziva
📩 Zivanya Smith
"Cepatlah datang, jangan lupa bawa makanan"
Itulah pesan vanya yang masuk pada ponsel zayyan, setelah mendapat angin segar dari vanya zayyan langsung bergegas kerumah sakit tidak lupa ia mampir dibeberapa toko dan restoran untuk membeli beberapa cemilan juga makanan.
"kak aku haus" ucap ziva melihat vanya yang sedang bermain ponsel ia langsung teringat pada ponselnya yang entah dimana
"oke baiklah tuan putri" vanya dengan sigap membantu ziva untuk minum
"kak ponselku dimana ya?"tanya ziva
"aku nggak tau ziva, tadi saat aku kerumah juga aku nggak liat ponselmu"jawab vanya yang hanya mendapat anggukan dari ziva
"kau ingin menghubungi seseorang? pakailah ponselku" tawar vanya menyodorkan ponselnya
"tidak kak, aku hanya bertanya saja" jawab ziva
"aku akan menghubungi bibi siapa tau saat beres-beres rumah dia menemukan ponselmu" ucap vanya lagi-lagi hanya dibalas anggukan kepala dari ziva
"kau butuh sesuatu lagi? Atau kau lapar?" tanya vanya
"hmm tidak kak, aku hanya ingin minta tolong bisa tidak sandaran kepalaku di naikkan supaya aku bisa duduk sambil sandaran aku cape baring terus" keluh ziva
"cape? Memangnya berbaring itu butuh tenaga" ucap vanya yang tanpa sengaja mengundang tawa ziva
"segini bisa?" tanya vanya yang mulai menaikkan sandaran kepala ziva
"oke cukup kak" ucap ziva
Saat akan kembali duduk dikursi sebelah ziva tiba-tiba pintu ruangan ziva di buka dari luar.
"sayang" ucap zayyan yang langsung memeluk ziva
Mata ziva langsung melototot menatap vanya yang berdiri tidak jauh dari mereka, vanya sadar akan tatapan ziva yang seperti meminta penjelasan atas yang terjadi.
"sayang siapa yang melakukan ini padu hum?" tanya zayyan
"maaf anda siapa?" tanya ziva pada zayyan