
"Nak makanlah dulu, kau hampir melewatkan waktu sarapanmu" ucap pak will yang tiba tiba muncul dibelakang mereka
"biar daddy yang membantunya" lanjut mertuanya itu
Ziva menatap zayyan sejenak, terlihat mata zayyan memberikan ia kode yang bisa ia artikan dengan mudah.
"baiklah, terimakasih dad" ucap ziva dengan tulus
Ia pun meninggalkan suaminya yang masih dikursi roda bersama ayah mertuanya, ia menuju meja makan dimana masih ada ibu mertuanya membersihkan sisa sisa makanan mereka.
"apa ray sudah pulang mom?" tanya ziva setelah tidak melihat lagi keberadaan iparnya itu
"iya sayang, dia harus segera ke kantor" jawab bu bianca dengan penuh kasih sayang
"kau ingin makan apa sayang? Biar mommy ambilkan" tanya bu bianca pada menantu kesayangannya
"tidak perlu mom, aku bisa sendiri" tolak ziva dengan sopan
"baiklah" bu bianca menarik kembali kursi yang ada disamping menantunya
"bisa kau makan sambil diinterogasi sayang?" tanya bu bianca dengan raut wajah penasaran
"ya ya tentu mom, apa yang akan mommy tanyakan?" jawab ziva yang tiba tiba menjadi tegang
"bukan sekedar bertanya sayang perlu digaris bawahi mommy akan menginterogasimu" ucap bu bianca dengan cukup serius mendekat kan wajahnya pada menantunya itu.
"ya silahkan saja mom" jawab ziva sembari menelan salivanya dengan berat
"apa yang terjadi didalam sana? Kenapa kalian lama sekali?" tanya bu bianca dengan tatapan curiga
"oh itu, aku hanya membantunya untuk ganti pakaian" jawab ziva dengan jujur
"benarkah itu?" ucap bu bianca tak percaya
"of course mom" ucap ziva sambil mengunyah
"baiklah, eh tapi bagaimana bisa kau membantunya mengganti pakaian sedangkan kemarin makan disuapi olehmu saja ia sudah seperti harimau, apa dia meminta bantuanmu? Ataukah ada yang telah mommy lewati?" tanya bu bianca bertubi tubi
"pada intinya ada perubahan yang sangat baik pada dirinya" jawab ziva simple
"bisa kau jelaskan perubahan seperti apa itu?" tanya bu bianca lagi
Ziva hanya bisa menggeleng sekaligus tertawa dalam hati, mertuanya itu sudah seperti kepolisian yang sedang mengusut sebuah kasus, tingkat ke kepoan mertuanya itu telah diambang batas wajar.
"ya seperti yang terjadi tadi dia sudah mulai mau dibantu olehku" ucap ziva dengan bahasa yang sulit untuk dicerna
"lalu?" tanya bu bianca dengan menggebu gebu
"ish tidak seru" bu bianca langsung bangkit dari duduknya dan memasang wajah cemberut
Ziva hanya tersenyum sekaligus tertawa pelan melihat tingkah mertuanya yang seperti ABG itu padahal sebentar lagi ia akan menjadi seorang nenek.
Waktu terus berputar tidak terasa hari sudah sore, bahkan matahari mulai bersembunyi, ziva berdiri didepan jendela kaca besar memandang sunset yang sangat indah disore itu, ia mengelus perutnya dan tersenyum saat bayinya sesekali memberikan tendangan tendangan lucu didalam sana.
"boy, tidak apa apa yah jika nanti kita berjuang tanpa daddy? permudahlah mommy yah sayang" gumam ziva
Sedangkan zayyan ia hanya menatap punggung ziva yang berdiri diujung ruangannya itu, rasanya tidak percaya ia memiliki seorang istri yang terbilang cukup muda itu bahkan tengah mengandung keturunannya, namun apalah dayanya percaya ataupun tidak ia hanya bisa bersyukur karena merekalah yang selama ini telah merawat juga menjaganya.
Ziva menarik horden untuk menutupi dinding kaca itu karena sudah memasuki waktu magrib, ziva berjalan mendekati ranjang suaminya, sekilas ia melihat ibu mertuanya yang sedang terrsenyum sendiri dengan ponselnya "pasti itu dari daddy" pikir ziva, benar kata ziva kedua mertuanya itu seperti ABG ditengah usia mereka yang sudah memasuki setengah baya.
"ada apa? Apa kau butuh sesuatu?" tanya ziva karena suaminya itu dari tadi melihat kearahnya
"ah tidak" zayyan tersadar dari lamunannya
"apa kau tidak lelah terus berdiri? lebih baik duduklah" ucap zayyan sambil meelirik sebuah kursi yang ada di samping ranjangnya sebagai isyarat agar ziva duduk dibangku itu
Ziva tersenyum penuh arti, walau suaminya terlihat cuek namun entah mengapa ziva merasa terselip perhatian yang begitu berarti baginya diantara kata katanya yang ketus itu.
"luruskan kakimu, biar ku pijat" ucap ziva
"kau sudah memijatku tadi siang dan akuu rasa sekarang sudah jauh lebih baik" ucap zayyan seakan tidak ingin merepotkan ziva
"kalau dilakukan sekali lagi tidak salah bukan? Justru akan memberikan dampak yang sangat baik" ucap ziva sembari mengambil alih kaki suaminya
"kalau kau terus memijatku aku akan cepat tertidur" ucap zayyan sambil meresapi pijatan istrinya
"ya sudah kau tidur saja" ziva menurunkan sandaran ranjang milik zayyan agar merubah posisi suaminya menjadi berbaring.
Dan benar saja zayyan pun langsung sampai ke alam mimpinya tanpa perlu banyak membuang waktu, Saking sedapnya pijatan yang diberikan oleh ziva.
"mom apa kita akan langsung pulang?" ucap pak will yang baru saja masuk diruangan itu
"dad tapi ray belum datang, lantas siapa yang menemani ziva disini" ucap bu bianca
"tidak masalah mom, rayyan pasti akan datang hanya saja mungkin dia masih ada pekerjaan yang membuatnya telat pulang" ucap ziva
"benarkah nak?" tanya bu bianca
"iya mom" ucap ziva meyakinkan sang mertua
selepas kepergian ibu dan ayah mertuanya, ziva menatap suaminya yang sudah tertidur pulas, ia pun melamun dalam beberapa saat hingga suara ponselnya membuarkan lamunanya.