My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Memuji



"kau tuli hah? Aku bilang aku ingin bertemu dengan pemilik hotel ini, aku ingin komplain" teriak rayyan


rio yang ingin ke kamar rayyan pun melihat kegaduhan di depan kamar bosnya itu.


"ada apa pak?" kata rio


"rio segera kau pertemukan aku dengan pemilik hotel ini, aku ingin komplain" ucap rayyan tegas


"tenang dulu pak, sebaiknya bapak pakai baju dulu malu di lihat orang, setelah itu bapak beritahu saya apa yang terjadi" ucap rio


rayyan menyadari ia yang hanya telanjang dada akhirnya masuk lalu mengambil jubah tidurnya yang ia gantung.


"aku tidak mau bicara di dalam kamar itu, aku ingin disini saja" ucap rayyan


"ya pak, sebenarnya apa yang terjadi pak?" tanya rio


"dikasurku ada kecoa, kau tau aku sangat jijik dan penakut dengan kecoa kenapa bisa binatang sialan itu ada dikamarku. Aku tidak tahan aku ingin bertemu langsung dengan pemilik tempat ini. Masa aku sudah bayar mahal-mahal tetapi aku tidak mendapat kenyamanan dan keamanan yang seharusnya" ucap rayyan emosi


"baiklah pak saya temui manager hotel ini dulu" ucap rio


"rio apa kau juga sudah tuli, aku bilang aku ingin bertemu dengan pemiliknya bukan managernya" ucap rayyan frustasi


"ya pak tapi saya harus melalui managernya dulu baru saya bisa mempertemukan bapak dengan pemilik hotel ini" jelas rio


"lakukan apapun secepatnya, aku sudah tidak tahan dengan semua ini, kalau bukan karena aku sudah bayar lebih dulu aku pasti sudah pindah dari hotel ini" oceh rayyan


Rio pun segera menemui manager hotel mark.


perusahaan Richard Corporation


"pak defri, kak zayyan belum kembali?" tanya ziva yang baru saja keluar dari kamar pribadi zayyan


"belum nona, mungkin sebentar lagi. Apa anda butuh sesuatu?" tanya defri


"belum kembali, sudah 3 jam dia meetting bahkan jam makan siang sudah lewat" batin ziva


"nona zivani, anda butuh sesuatu?" tanya defri lagi saat tau ziva sedang melamun


"ah ia pak defri, saya lapar" ucap ziva sambil memegang perutnya


"oh baiklah saya akan membawakan makanan untuk anda" ucap defri sambil berjalan keluar


"terima kasih pak defri" ucap ziva sebelum defri menutup pintu ruangan zayyan


"sama-sama nona zivani" ucap defri


Setelah kepergian defri, ziva lalu melangkah ke meja kerja zayyan. Disana ada beberapa berkas yang tersusun rapi, satu buah komputer dan dua foto bebingkai emas, satunya adalah foto keluarga richard dan yang satunya foto zayyan sendiri.


"pantas saja kak zayyan dan rayyan sangat tampan ternyata orang tua mereka tidak kalah tampan dan juga cantik" ucap ziva sendirian sambil menyentuh foto keluarga richard


"yaampun kak zayyan tampan sekali" ziva beralih pada foto zayyan


"kalau dia jadi suamiku nanti seperti apa wajah anak-anakku nanti" ucap ziva berimajinasi


"yang pastinya anak kita akan sangat tampan dan juga cantik" ucap zayyan


Suara zayyan mengagetkan ziva hampir saja foto zayyan yang dipegang ziva jatuh dengan cepat ziva mengembalikannya dimeja.


"astaga mengagetkan saja" ucap ziva pelan


"sedang apa?" tanya zayyan basa basi


"tidak sedang lihat-lihat saja" jawab ziva


"aku dengar tadi kau memuji-muji ketampananku" ucap zayyan lalu mendaratkan bokongnya dikursi kebesarannya


"what? GR sekali anda" ucap ziva memutar matanya jengah


"tampan sekali dia, kalau dia jadi suamiku bagaimana nanti wajah anak-anakku" ucap zayyan memperagakan gaya bicara ziva


"haduh kak, kakak itu terlalu kepedean, lama sekali pak defri aku sudah sangat lapar" ucap ziva mengalihkan pembicaraan lalu berjalan menjauhi zayyan dan duduk disofa depan meja kerja zayyan


"kalau begitu kita makan diluar saja bagaimana?" tawar zayyan sambil berjalan kearah ziva


"nona zivani maaf menunggu..." ucap defri terhenti saat melihat jarak zayyan dan ziva sangat dekat.


"def apa tanganmu bermasalah sampai tidak boleh mengetuk pintu dulu?" geram zayyan


"maaf pak" ucap defri dan ingin menutup kembali pintu ruangan zayyan


"loh pak defri mau kemana? Makananku?" tahan ziva


"bawakan makanannya kesini, dan cepat pergi?" ucap zayyan


"baik pak, ini nona" ucap defri dan meletakkan makanan ziva di meja


"terimakasih ya pak defri" ucap ziva


"sama-sama nona" defri langsung pergi meninggalkan dua insan itu.


"sayang sekali kak, makananku sudah datang jadi aku ingin makan disini saja" ucap ziva


"ya makananlah" ucap zayyan dan duduk disamping ziva


"kau sudah menghubungi bundamu?" tanya zayyan


"astaga belum kak" ucap ziva sambil mengunyah makanannya


"siapa nama kontaknya?" tanya zayyan saat ia memegang handphone ziva


"bunda" ucap ziva singkat


"kau tidak mengunci handphone mu nanti akan mudah dibajak orang" nasihat zayyan


"tidak perlu kak lagi pula aku tidak menyimpan rahasia apapun di handphone" jawab ziva


Zayyan hanya menganggukkan kepalanya, dan menelfon bundanya ziva.


"halo nak" suara bu liza saat panggilan dijawab


"halo bunda, apa kabar?" ucap ziva basa basi


"bunda baik, kau sedang makan nak?" tanya bu liza saat mendengar suara ziva seperti sedang mengunyah makanan


"iya bunda" jawab ziva


"lebih baik kau makan dulu nak" ucap bu liza


"tidak bunda, ada hal penting yang ingin ziva tanyakan" ucap ziva


"ya bunda mendengarkanmu" ucap bu liza


"bunda bisa tidak ziva menginap dirumah bunda" pinta ziva


"tentu saja nak, tapi sayangnya bunda sedang dibandung dirumah eyangmu" ucap bu liza


"oh yasudah bunds tidak apa lain kali saja" ucap ziva


"nak besok bunda akan pulang, jadi ziva bisa menginap besok ya" ucap bu liza


"iya bun, ziva tutup ya" ucap ziva


sambungan telfon terputus..


Zayyan melihat raut kecewa diwajah ziva.