My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Bonchap 4



"Mommy..mommy, peluk" Nio merengek dengan manja pada ibunya yang sedang duduk berselonjor disofa sambil mengelus perut buncitnya


"Nio jangan begitu nak, mommy sedang istirahat" ucap zayyan


"sorry mom" ucap Nio merasa bersalah


"tidak masalah sayang, minta peluk daddy ya" ucap ziva dengan lembut


Zayyan merentangkan tangannya untuk memeluk sang putra yang semakin hari semakin dewasa, semenjak ziva hamil anak kembar Nio sangat menjaga dan perhatian pada mommy nya. Bahkan ia yang selalu sigap untuk membantu ziva saat zayyan tidak dirumah.


"sebentar lagi twins akan lahir, kau sudah punya nama belum untuk adik adikmu?" tanya zayyan saat sang putra sudah duduk dipangkuannya


"belum dad, memangnya daddy sudah punya?" tanya nio


"ck, kakak macam apa kau ini seharusnya kau harus sudah menyediakan nama untuk adik adikmu" zayyan mulai mengusili putra sulungnya itu


"memangnya daddy sudah punya?" tanya nio balik


"sudah dong" jawab zayyan


"siapa? Beritahu aku biar aku yang menilai, bagus tidak namanya" ucap nio dengan cerdik


"what? tentu saja bagus aku kan daddy nya, tidak mungkin aku memberi nama yang jelek untuk anak anakku" ucap zayyan tidak terima


"ya sudah kalau begitu katakan padaku dad" desak nio


"hum, bilang saja kalau kau penasaran" ucap zayyan


"aku memang penasaran, tapi jika daddy tidak mau memberitahu padaku mungkin saja namanya jelek" sangkal nio


"enak saja" zayyan mengelitiki perut putranya karena tidak terima dengan ucapan Nio


"aaah daddy geli, mommy tolong mommy" pekik Nio


"hey kenapa kalian berdua berisik sekali" ucap ziva kesal


"sorry mommy" ucap nio dan zayyan bersamaan


.


.


.


Waktu kelahiran pun semakin dekat, Ziva dibuat was was sebab kelahirannya kali ini harus melalui Operasi cessar dikarenakan anaknya yang kembar dan suaminya tidak ingin mengambil resiko dengan melakukan persalinan normal.


"Suamiku, aku ingin lahiran normal kata dokter alesha kan aku punya peluang bersalin normal" bujuk ziva sambil menyandarkan tubuhnya pada lengan suaminya


"ayolah sayang, kau jangan keras kepala bayi kita kembar dan ada resiko yang harus kita tanggung jika memutuskan melahirkan normal" ucap zayyan


"semua tindakan pasti ada resikonya" sahut ziva kesal


"sayang sudahlah, ale sudah menyarankan untuk kau lebih baik operasi cessar saja jadi kita ikuti saja saran dokter dia lebih tahu dan lebih paham dari pada kita" ucap zayyan tidak dapat diganggu gugat lagi


Ziva mengangguk pasrah, ia juga tidak bisa egois sebab semua ini menyangkut keselamatan putra putrinya dan juga dirinya sendiri. Terlebih lagi keputusan suaminya sudah tidak dapat diganggu gugat.


Tok..tok..tok


"daddy mommy buka pintunya" pekik Nio dari luar


"iya iya sebentar" zayyan bangkit dari ranjang dengan malas


Zayyan hanya membuka pintu selebar tubuhnya.


"ada apa nak?" tanya zayyan pada putranya yang berdiri didepan pintu kamarnya


"aku ingin bicara" jawab nio


"dengan siapa? Jika denganku kau bisa mengatakannya disini" ucap zayyan dengan angkuh, ia sengaja menjahili putranya yang semakin cerdik itu


"dengan mommy" jawab nio tidak kalah dingin


"oh maaf tuan muda, mommy sedang tidak ingin diganggu" dusta zayyan


"aku tidak peduli, minggir" nio mendorong daddynya untuk bisa masuk ke dalam kamar


"oh hei kau sopan sekali tuan muda richard" pekik zayyan tidak terima saat sang putra sudah memanjat ranjangnya


"mommy, daddy menjahiliku usir saja dis dari sini" ucap nio mengadu


"benarkah?" tanya ziva dan nio mengangguk sebagai jawabannya


"awas ya kau dad" ancam ziva


"bagus ya nio, belum apa apa kau sudah berencana memisahkanku dengan mommy mu" ucap zayyan nio


"makanya daddy jangan macam macam denganku" ancam nio


"baiklah baiklah maafkan aku tuan muda" zayyan menyatukan kedua tangannya seraya menunduk meminta maaf pada sang putra.


"sudahlah aku sudah memafkanmu dad, sekarang aku mau bicara" ucap nio


"sepertinya serius sekali" ziva menjadi pendengar yang baik untuk anaknya


"mom, kapan mommy akan kerumah sakit?" tanya nio


"lusa sayang, apa kau lupa?" jawab ziva


ziva dan zayyan saling lirik


"nio bukannya kita kemarin sudah sepakat bahwa kau akan menginap dirumah nenek?" tanya zayyan


"no dad, aku ingin dirumah uncle saja" jawab nio


"tapi ada apa gerangan nak? pasti ada alasannya bukan?" timpal ziva


"karena dirumah uncle lebih seru, aku bisa main dengan naya" sahut nio


"dirumah nenek kan ada kakak sky, kau juga bisa main bersamanya" ucap zayyan


"no dad, aku maunya sama naya" nio tetap bersikeras


Zayyan dan ziva lagi lagi saling lirik satu sama lain.


"baiklah nak, tapi kau harus minta izin dulu pada aunty vanya dan uncle ray ya" ucap ziva sembari mengelus kepala anaknya


"yey, thankyou mom" nio memeluk ibunya dengan sayang


"thankyou dad" tidak lupa ia juga memeluk ayahnya


"kalau begitu aku akan ke kamarku dulu, daddy dan mommy boleh istirahat sweet dreams" ucap nio sambil berlari keluar kamar orang tuanya


Saat pintu telah ditutup rapat oleh sang putra, zayyan langsung mendekati istrinya yang hendak menarik selimut untuk tidur siang.


"apa sih?" ziva kesal karena zayyan menarik kembali selimut yang menutupi tubuhnya


"mom, lusa kan kita akan mulai menginap dirumah sakit dan kau akan menjalani operasi untuk melahirkan anak anak kita" ucap zayyan berbasa basi


"lalu?" tanya ziva heran


"apa setelah itu aku akan tetap berpuasa sebulan seperti saat kau melahirkan nio?" tanya zayyan


"tentu saja, walaupun aku melahirkan dengan jalan operasi tapi aku kan tetap akan mengalami nifas" jawab ziva


"benar juga ya" zayyan menggaruk tekuknya yang tidak gatal


Ziva menatap heran suaminya yang aneh itu


"ada apa memangnya?" tanya ziva


"hmm lusakan aku akan mulai berpuasa," zayyan sengaja mencegah ucapannya


Ziva mengangguk membenarkan apa yang diucapkan suaminya,


"bolehkah malam ini aku mendapatkan jatahku?" tanya zayyan membuat kening ziva berkerut


"hmm, anggap saja jatah malam ini sebagai bekalku untuk sebulan kemudian" lanjutnya


Ziva tertawa saat mengerti dengan arah pembicaraan suaminya yang mesum itu.


"baiklah tuan, aku akan menservice mu dengan baik malam ini" ziva mengedipkan sebelah matanya dengan genit


"benarkah?" zayyan benar benar tidak sabaran hendak menerkam istrinya


"eits, ini masih siang tuan tadi kan kau bilang jatah malam bukan jatah siang" ziva kembali menarik selimutnya untuk tidur siang


"tidak apa apa zayyan, sebaiknya sekarang kau tidur siang sebab kau butuh energi extra untuk nanti malam" gumam zayyan pada dirinya sendiri


Saat malam telah tiba zayyan tidak langsung mengurung istrinya dikamar, Walaupun ia sangat menginginkan nya tetapi ia tidak setega itu. Ia berencana untuk mengajak istri dan putranya makan malam diluar, ia ingin menyenangkan keluarga kecilnya sebab setelah bayi kembarnya lahir pasti akan sangat sulit punya waktu untuk sekedar jalan jalan.


"daddy apa aku sudah tampan?" tanya nio memperlihatkan penampilannya pada sang ayah


"kau selalu tampan boy" zayyan mengelus kepala putranya yang semakin dewasa


"daddy juga tampan" puji nio


"oh thank you so much bro" ucap zayyan pada sang putra yang sudah memujinya


"mommy dimana dad?" tanya nio


"mommy datang" sahut ziva menuruni tangga dengan hati hati


"wow mommy very very beautiful" puji nio yang terkagum kagum dengan kecantikan mommynya


"thank you baby" ucap ziva tersipu


"alya kau tidak ikut?" tanya ziva


"tidak nona, saya dirumah saja" jawab alya sang pengasuh


"kau tunggu saja defri akan mengajakmu keluar" sahut zayyan


"benarkah? itu sangat bagus" ucap ziva


"tidak nona, tuan hanya bercanda" alya mengoreksi perkataan majikannya yang sudah kemana mana


"yasudah mom dad ayo" ajak nio


"baiklah ayo, alya kami pergi dulu" pamit ziva


"iya tuan nona hati hati dijalan" ucap alya sambil melambaikan tangannya


......................