My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Berjuang



"silvi kau datang, aku merindukanmu" ucap syaquel merentangkan tangannya hendak memeluk silvi namun langsung didorong oleh rayyan


"pengecut" rayyan geram


"waw silvi kau memang sangat istimewah, bahkan kembaran dari selingkuhanmu itu kau bawa ke kantorku" ucap syaquel sambil menepuk tangan


silvi diam tanpa sepatah kata pun, ia hanya menatap syaquel dalam dalam, sungguh ia tidak menyangka pria yang ia sangat cintai selama 4 tahun ini malah menganggapnya sangat buruk.


"dengar pengecut, kalau kau tidak bisa menjadi pria yang bertanggung jawab maka jangan melewati batasanmu" rayyan mencengkram kerah baju syaquel


"haha kalian ini kenapa hah? Kalian berbondong bondong datang kepadaku untuk meminta pertanggung jawaban atas kehamilannya, sedangkan dia sendiri telah mengakui bahwa yang dia kandung itu bukan benihku" ucap syaquel dengan tertawa sinis


"hentikan omong kosongmu brensek, apa selama ini kau merasa kau menjalin hubungan dengan seorang ******? Sampai kau tidak ingin mengakui perbuatan kotormu itu" geram rayyan


"hey aku mengakui kalau aku dan dia pernah melakukan itu, dan aku akan bertanggung jawab jika dia bersedia melakukan tes DNA pada kandungannya dan terbukti itu adalah anakku" ucap syaquel menatap silvi


Silvi menggeleng dan menangis histeris, apapun alasannya ia tidak ingin melakukan tes DNA saat bayinya masih dalam kandungan.


"lihat dia sendiri tidak ingin membuktikan itu, dia takut akan ketahuan kalau anak itu bukan anakku" ucapan syaquel menancap bagai pisau dihati silvi


"rayyan ayo kita pergi" lirih silvi


"silvi, kenapa kau begitu bodoh memberikan kehormatanmu pada pria seperti dia ini, seharusnya kau berpikir sebelum menyerahkan padanya" ucap syaquel


"aku mencintainya" lirih silvi dengan mata sembabnya


"aku akui aku salah dengan sangat mempercayaimu El, tapi aku tidak menyesal pernah mencintaimu, kau mengakuinya atau tidak aku tidak akan melakukan hal yang membahayakan nyawanya" lirih silvi dengan menatap mata syaquel


Hati syaquel bergetar hebat mendengar penuturan silvi, namun pikirannya menolak semua itu ia menutupinya dengan tertawa sinis pada syaquel


"ayo ray" ucap silvi


Menatap kepergian silvi dan rayyan, syaquel meremas rambutnya kasar. cintanya pada silvi tidak mampu mengalahkan amarahnya.


Saat ini ziva sedang sibuk menyiapkan pakaian pengantin untuk Zayyan dan silvi. Ya bu bianca sengaja memilih ziva yang mendesain pakaian untuk pernikahan kekasihnya bersama kakaknya yang akan diadakan 2 hari lagi.


Sudah seminggu ziva tidak bertemu dengan silvi, sebelumnya ia hanya diberitahu oleh kakaknya vanya bahwa sesuai kesepakatan kedua keluarga pernikahan zayyan dan silvi akan diadakan dihari ahad mereka sengaja mempercepat karena mengingat kondisi silvi yang sedang hamil.


Sama seperti kakaknya silvi yang sudah seminggu tidak ia temui, ia sudah menjaga jarak dengan zayyan, terakhir mereka bersama pada saat fitting baju seminggu yang lalu bersama kakaknya silvi.


ziva memutuskan untuk mengunjungi kakaknya, ia tidak ingin hubungan persaudaraannya menjadi berjarak karena kakaknya akan menikah dengan kekasihnya.


setelah mengendarai mobilnya sekitar 35menit, ziva akhirnya sampai dirumah mewah yang ia rindukan.


"siang" ucap ziva mulai memasuki rumah kediaman keluarganya


"ada apa kak?" tanya ziva saat melihat vanya buru buru turun dari tangga


Ziva lalu berjalan dengan langkah lebar menuju kamar silvi, terlihat bu elen terus menerus mengetuk pintu kamar silvi.


"mama" panggil ziva


"ziva lihat kakakmu.. Kakakmu tidak mau membuka pintunya" ucap bu elen dengan tangisnya


"kakak, kakak" panggil ziva namun tidak ada sahutan dari silvi


"tolong pak tolong dobrak" ucap vanya pada satpam rumah mereka


"permisi nyonya permisi non" ucap satpam tersebut


Ia mulai mendobrak pintu kamar silvi, dan setelah 3 kali percobaan akhirnya berhasil.


"kakak" pekik vanya dan ziva saat melihat kamar kakaknya berserakan pecahan kaca dan kakaknya yang sedang meringkuk disamping lemari


"mimggir" ketus bu elen lebih dulu menghamili anaknya


"ada apa sayang?" tanya bu elen


"ma zayyan zayyan baru saja telpon ma katanya dia dia tetap tidak ingin menikahiku jika pernikahannya tetap terjadi ia akan mengakhiri hidupnya saat itu juga" ucap silvi terbata dengan tangisnya


"nak dia hanya mengancammu saja kau tenang saja, bukannya mommy nya sudah berjanji pada kita untuk membuat zayyan menikahimu jadi kau tidak perlu memikirkan hal lain nak kau tidak boleh stres" ucap bu elen


Tatapan silvi mengarah pada ziva yang berdiri di depannya.


"ini semua karena kau, kau yang membuatku menjadi sampah seperti ini, aku menyuruhmu untuk membujuk zayyan tapi kau malah lebih mendekatinya, dasar pembawa sial" teriak silvi


"kak" lirih ziva


"aku tidak seperti yang kau katakan kak, aku sudah mencoba membujuknya, aku juga sudah menjaga jarak dengannya seminggu ini, aku harus apa kak?" ucap ziva menahan tangisnya


"dengar kalau kau masih ingin menjadi saudaraku, maka aku memberimu waktu 2 kali 24 jam dengan cara apapun kau harus bisa membuat zayyan bersedia menikahiku tanpa syarat apapun" ucap silvi dengan penuh kebencian


"aku akan berusaha kak" jawab ziva


"aku tidak mau kegagalan, aku minta kau berjanji untuk terakhir kalinya, kalau tidak kau akan menyesali itu semua saat kepergianku nanti" ancam silvi


"aku berjanji, aku pamit jaga diri kakak baik baik" ziva pergi dari tempat itu


Ia menumpahkan air matanya dimobil, kakak yang ia sangat sayangi hari ini sangat membencinya. ziva tidak membuang waktu, ia harus memastikan semuanya ia tidak ingin ada nyawa yang dipertaruhkan. Dengan kecepatan tinggi ziva menuju kediaman Richard.


"siang dad siang mom" ucap ziva saat pintu rumah keluarga richard terbuka dan menampakkan pasangan paruh baya itu.