My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Membaik



"semua ini sudah sepantasnya terbongkar ziva, sepandai pandainya tante elen menyimpan barang yang busuk pasti akan tercium juga" ucap zayyan sambil terus menyuapi ziva


"tapi lihatlah semua ini malah berimbas pada ayah" ucap ziva


"ayah hanya syok ziva, dia pasti akan bangun dan sembuh untuk membalas perbuatan jahat yang diterima oleh anak-anaknya" ucap zayyan


"lagi pula semenjak aku tinggal bersama bunda, mama sudah tidak pernah berlaku kasar padaku, lalu untuk apalagi semua ini seharusnya kakak memikirkan kesehatan ayah" ucap ziva


"dia memang sudah tidak berbuat kasar padamu ziva tapi dia masih juga berbuat jahat padamu, kau tidak ingat yang dikatakan silvi tadi? Dia ditekan oleh tante elen untuk menjebakku agar aku menikahi silvi dan meninggalkanmu" ucap zayyan


"mama apa dia tidak pernah puas menyerangku, Bahkan karenanya aku sampai harus mengalami kelumpuhan" ucap ziva


"maka dari itu ziva, sekarang kau harus lebih tegas pada tante elen, sudah cukup kau diam saja selama ini, jangan sampai tante elen memanfaatkan moment ini untuk menguras semua harta ayah" ucap zayyan


"kau benar kak, aku dan kak vanya harus bergerak cepat" ucap ziva


"okey sekarang makananmu sudah habis, ayo kita kembali ke rumah sakit" ucap zayyan sambil mengumpulkan piring piring yang kotor.


Setelah sampai dirumah sakit ziva kembali menengok ayahnya, ia juga banyak membisikkan kata kata agar ayahnya semangat untuk bisa pulih dan bangun dari masa kritisnya.


Tidak terasa sudah sepekan pak leon dirumah sakit, tiga hari sebelumya pak leon telah melewati masa kritisnya dan sudah sadarkan diri, saat ini pak leon hanya tinggal masa pemulihan saja sedangkan silvi empat hari yang lalu ia sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit dan beristirahat dirumah.


"ayah kata dokter besok ayah sudah bisa diizinkan pulang, karena tadi hasil pemeriksaan ayah seluruhnya sudah normal" tutur ziva


"baguslah kalau begitu nak" jawab pak leon


"good morning, kalian sedang apa?" sapa bu liza yang baru saja datang


"bunda, bunda bawa apa itu?" tanya ziva


"ini bunda buatkan makanan kesukaaanmu dan ayahmu, kalian pasti belum sarapan kan? Itu buburnya belum tersentuh" ucap bu liza sambil menunjuk makanan yang disediakan oleh rumah sakit masih tersegel rapi


"terima kasih ya liza, maaf sudah merepotkanmu beberapa hari ini" ucap pak leon menjadi tidak enak pada mantan istri keduanya itu


"sudahlah mas bagaimana pun kamu adalah ayah dari anak anakku jadi aku sama sekali tidak merasa direpotkan" ucap bu liza


"ayah mau makan? Biar aku suapi" tanya ziva


"makanlah lebih dulu nak" ucap pak leon


"bunda bisa tolong suapi ayah? Aku juga mau sarapan karena aku mau ke butik sebentar ada hal penting yang harus aku urus" ucap ziva


"tidak perlu nak ayah bisa makan sendiri" ucap pak leon


"baiklah kau sarapan saja nak, biar ayahmu bunda yang suapi" ucap bu liza


ziva sangat senang melihat pemandangan didepan, bundanya menyuapi ayahnya, kalau orang yang melihat pasti mereka akan berpikir bahwa mereka adalah keluarga yang harmonis namun ternyata status mereka sudah berubah menjadi mantan suami istri.


"aku sudah selesai, bunda tolong jaga ayah sebentar ya aku tidak akan lama dibutik, aku pamit ayah, bunda" ziva pamit sambil mencium pipi kedua orang tuanya itu


"jaga dirimu nak" pesan pak leon


"hati hati sayang" pesan by liza


sesampainya dibutik ziva langsung menghampiri greis.


"sudah saya taruh dimeja kakak, mari kak" ucap greis lalu mereka menuju ruangan ziva


"sebanyak ini greis?" tanya ziva kaget melihat setumpuk berkas yang harus ia tanda tangani


"iya kak" jawab greis


"baiklah lanjutkan pekerjaanmu" ucap ziva


Greis pun pergi dari ruangan ziva. Ziva memulai pekerjaannya hari ini, ia berdoa dan memakai kaca mata andalannya yang selalu ia kenakan ketika bekerja.


Tok..tok..tok


suara ketukan pintu ruangan ziva.


"masuk" ucap ziva tanpa menoleh untuk melihat siapa yang datang


"hai sayang" sapa zayyan saat ia sudah duduk kursi depan meja kerja ziva


"hai kak, maaf kak hari ini aku cukup sibuk, pekerjaanku cukup banyak dan harus selesai siang ini sebab aku harus kembali kerumah sakit jadi aku lupa memberimu kabar" ucap ziva lembut, ia merasa bersalah karena tidak memberikan kabar pada zayyan pagi ini


"it's okay baby" jawab zayyan


"kau ingin aku bantu?" tawar zayyan


"ah tidak perlu kak, lagi pula semua berkas ini hanya perlu tanda tanganku saja" jawab ziva halus


"baiklah" zayyan lalu memperhatikan ziva yang sedang bekerja


" kak kau tidak bekerja?" tanya ziva


"bekerja" jawab zayyan


"lalu kenapa malah berdiam disini?" tanya ziva lagi


"kenapa? Memangnya ada yang marah kalau aku bersama calon istriku?" ucap zayyan


"calon istri dari hongkong" ucap ziva bercanda


"aku sudah putuskan, kita akan langsung menikah tidak perlu adanya pertunangan" putus zayyan


"what? no big no" tolak ziva


"why? kau tidak ingin menikah denganku" ucap zayyan


"kau tidak bisa memutuskan semua secara sepihak, aku ingin kita bertunangan dulu baru itu menikah" ucap ziva


"untuk apa bertunangan, yang akan mengikat kita itu adalah sebuah pernikahan" ucap zayyan


"ya aku tahu itu, tapi aku tidak ingin terburu buru" ucap ziva


"duduk disini" zayyan menepuk pahanya


Ziva berpindah dan duduk dipangkuan zayyan sambil melingkarkan kedua tangannya dileher zayyan, sudah lama mereka tidak bermesraan seperti ini.