
"maaf, siapa kalian?" tanya zayyan dengan kening yang berkerut
Ketiga orang yang sedang berdiri itu langsung bertukar pandang, walau dokter andrew sudah memperingati hal ini namun hati mereka tetap saja merasa tercubit saat orang yang mereka cintai dan sayangi tidak dapat mengingat apapun dimasa lalunya.
"dan siapa aku? Kenapa aku ada disini?" lanjut zayyan karena ketiga orang itu belum ada yang buka suara
ziva dan zayyan memberi kode melalui mata mereka pada bu bianca agar mommy saja yang menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh zayyan
"hmmm" bu bianca berdehem untuk menetralkan raut kesedihan diwajahnya
"kami adalah keluargamu, aku mommy mu, wanita ini istrimu, pria itu adikmu dan kau adalah putra sulung keluarga richard" bu bianca menjawab pertanyaan pertama zayyan
"beberapa hari lalu kau mengalami kecelakan yang terbilang cukup parah sehingga kau harus dibawa kerumah sakit ini dan mengalami koma berhari hari" lanjut bu bianca
"aku kecelakaan? Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun kejadian itu?" tanya zayyan lagi
"fungsi otakmu sedikit terganggu sehingga kau kesulitan untuk mengingat apa yang terjadi sebelumnya" jawab bu bianca dengan berat
"benarkah?" tanya zayyan dengan dingin
"ya tentu saja tidak mungkin kami berbohong" rayyan angkat bicara
"ya siapa tau kalian sedang mencuci otakku" ucap zayyan dengan pelan namun masih bisa sampai ditelinga orang yang ada disekitarnya
"apa yang kau katakan suamiku? Kami tidak mungkin melakukan itu" ziva pun turut bicara
"oh" zayyan menjawab dengan singkat dan sinis
"tolong panggilkan perawat, aku merasa lapar dan ingin makan" pinta zayyan
"aku akan menyiapkan makananmu" sahut ziva yang baru saja akan pergi mengambilkan makanan untuk suaminya namun terhenti saat mendengar perkataan zayyan
"tidak, aku ingin perawat yang mengurusi keperluanku, aku tidak semudah itu percaya pada orang lain bisa jadi kalian hanya mengaku ngaku sebagai keluargaku" ucap zayyan dengan dingin
bu bianca menatap putra sulungnya dengan mata membola, kenyataan ini benar benar menyakitkan bagi keluarga ditambah lagi dengan sikap zayyan yang begitu dingin.
"dia istrimu nak" ucap bu bianca dengan menitikan air mata
"mom" ziva menggeleng pada ibu mertuanya itu sebagai tanda bahwa kita harus menahan diri
"baiklah, ray tolong panggilkan seorang perawat" pinta ziva pada saudara iparnya itu
Rayyan mengangguk patuh, ia keluar memanggil seorang perawat lalu ia langsung pamit untuk kembali ke kantor, menghadapi sikap baru kakaknya itu membuat hati campur aduk.
setelah perawat itu membawakan makanan yang diminta zayyan, ziva berinisiatif untuk menyuapi suaminya sehubungan dengan tangan kanan zayyan yang belum bisa digerakkan.
"kau mau apa?" sentak zayyan
"aku..aku akan menyuapimu" ucap ziva dengan takut
Tentu saja tidak masuk akal, alasan yang pertama zayyan bahkan belum bisa bangun ia masih dengan posisi berbaring diranjangnya, yang kedua tangan kanan zayyan tidak bisa digerakkan jadi bagaimana ia akan makan dengan mandiri.
Bu bianca langsung mengambil alih mangkuk yang ditangan ziva lalu mendekati ranjang anaknya
"sebegitu tidak percayakah kau pada kami nak? istrimu hanya ingin membantu suaminya untuk makan, dia tidak mungkin meracunimu didepan matamu, ayo buka mulutmu" ucap bu bianca dengan penuh penekanan
Mau tidak mau zayyan membuka mulutnya dan menyantap makanannya hingga ludes.
"bagus, makan yang banyak agar ingatanmu cepat kembali" entah kenapa kata kata yang bu bianca lontarkan sedari tadi selalu mengandung sindiran.
setelah menyuapi anaknya yang sudah seperti bayi, bu bianca mengambil handphone nya yang sedari tadi berdering.
"hallo dad" ucap bu bianca setelah menjawab panggilan dari suaminya
"mom, bisahkah kau kembali? kepalaku terasa sangat sakit dan pusing mungkin tekanan darahku naik" pinta tuan richard
"oh tuhan dad, baiklah mommy akan segera pulang" ucap bu bianca dan langsung memutuskan sambungan telepon itu
"ziva sayang, mommy harus segera pulang daddymu tiba tiba pusing karena tekanan darahnya naik lagi" ucap bu bianca yang terlihat panik
"baiklah mom, jaga dirimu dan jika terjadi apa apa dengan daddy segera hubungi aku ya mom" ucap ziva
"tentu sayang, dan ingat pesan mommy ini nak jangan terlalu lembut padanya, keluarkan juga sikap dinginmu oke" pesan bu bianca dan hanya diangguki oleh ziva
Setelah kepergian bu bianca ruangan itu menjadi hening bagaikan dua orang asing yang disatukan dalam satu ruangan. Ziva benar benar tidak tahan dengan situasi seperti ini, ia lalu bangkit dari duduknya dan menghampiri zayyan yang masih terbaring diranjangnya .
"hmm kau butuh sesuatu suamiku?" tanya ziva karena ia melihat zayyan yang hanya diam siapa tahu suaminya itu segan untuk meminta bantuannya.
"jika aku perlu sesuatu aku akan memanggil perawat" ucap zayyan dengan ketus
" baiklah suamiku, pinggangku terasa sakit jadi aku akan berbaring diranjang itu, jika kau butuh sesuatu panggil saja aku karena tombol alarm diranjangmi itu sedang rusak jadi tidak akan ada perawat yang masuk" jelas ziva panjang lebar
"what" zayyan lalu menengok pada tombol yang ada diranjangnya yang tidak terlihat kerusakannya karena tidak percaya dengan ucapan ziva ia mencoba menekam tombol itu dan benar saja ia bahkan sudah menunggu hingga 15 menit tidak ada tanda tanda orang yang masuk ke dalam ruangannya itu.
"oh sial" maki zayyan
Sore hari, perut zayyan kembali berbunyi bahkan suaranya hingga terdengar oleh ziva dan itu benar benar memalukan.
"kau lapar suamiku?" tanya ziva
Zayyan tidak menjawab ia malah memalingkan wajahnya kelain arah entah karena ia benci pada wanita yang mengaku sebagai istrinya itu atau karena ia terlanjur malu.
"baiklah karena kau tidak menjawab aku akan mengambilkan makananmu dan menyupimu" ucap ziva
Tetapi zayyan masih tetap dengan mode diamnya.