My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Berpisah



"masuklah" ucap ziva yang mengira itu adalah greis


"sayang kau baik baik saja kan? Aku sangat khawatir" zayyan berjalan cepat langsung memeluk ziva


Sontak ziva langsung kaget saat zayyan memeluknya, ia langsung teringat pada kehamilan silvi, air matanya langsung tumpah.


"hey ada apa kenapa menangis hum?" ucap zayyan saat merasakan pundaknya basah


"menjauhlah" ucap ziva mendorong tubuh zayyan


"ziva" zayyan kaget mendapat perlakuan ziva


"pergi dari sini" pungkas ziva


"tapi kenapa? Apa salahku" ucap zayyan tidak mengerti


"seharusnya kau bisa menyadari apa kesalahanmu" ucap ziva sambil menghapus air matanya


"aku benar benar tidak tau" ucap zayyan sungguh sungguh


"maka pergilah dari sini lalu pikirkan sendiri apa kesalahanmu" ucap ziva


"ziva sudah ku bilang jika aku punya salah padamu katakan jangan mendiamiku seperti ini" suara zayyan meninggi


"turunkan suaramu, kesalahan sebesar ini tidak mungkin kau tidak sadar" ucap ziva


"hubungan kita cukup sampai disini, dan pergi dari ruanganku" ucap ziva dengan mendorong kasar tubuh zayyan menuju pintu


Karena tidak terima dengan perlakuan ziva, zayyan menarik paksa tubuh ziva lalu ******* bibir ziva.


"umptt... Brensek" bentak ziva mendorong keras tubuh zayyan


"menjijikkan" umpat ziva mengelap kasar bibirnya


"apa kau bilang" zayyan meremas pergelangan tangan ziva yang ia pakai mengelap bibirnya


"pergi dari sini dan jangan pernah muncul dihadapanku" teriak ziva


"aku tidak akan pergi" ucap zayyan tegas


"aku akan panggil security" ucap ziva mengambil ponselnya namun dengan cepat zayyan merebut ponsel ziva


Tidak habis akal, ziva menuju telepon kabel yang ada di mejanya belum juga ziva berbicara kabel telepon itu sudah di putus oleh zayyan.


"apa yang kau lakukan" pungkas ziva


"aku melakukan yang seharusnya aku lakukan, kau itu selalu marah marah tidak jelas, tanpa aku tau apa kesalahanku kau main mengakhiri hubungan ini, kau sudah gila ziva" sentak zayyan


Ziva melemparkan tamparannya kepipi kanan zayyan.


"kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau perbuat pada kakakku" teriak ziva


"hehe kau masih bertanya lagi" ucap ziva dengan tawa sinisnya


"aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan ini ziva" keluh zayyan


"berhentilah berpura pura zayyan richard kau pikir aku tidak tau kalau selama ini kau telah membohingiku" ucap ziva sambil menunjuk nunjuk dada bidang zayyan


"what?" zayyan tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan ziva


"saat ini kak silvi sedang mengandung anakmu" ucap ziva tanpa bisa membendung lagi air matanya


"jadi kalian sudah tau silvi hamil?" tanya zayyan


"ya kami sekeluarga sudah tau dan sebentar lagi kalian akan menikah" ziva berusaha menghapus air matanya yang terus tumpah


"ziva hey dengarkan aku" zayyan mengangkat dagu ziva agar ia bisa menatap mata ziva


"aku tidak butuh penjelasan, yang aku mau kau pergi dari sini jangan ganggu aku lagi" ucap ziva tegas


"ziva kau salah faham sayang" ucap zayyan


"dan ingat kita sudah tidak punya hubungan apapun" ziva mendorong tubuh zayyah hingga keluar dari ruangannya.


Ziva lalu mengunci pintu ruangannya lalu menangis sejadi jadinya.


"ziva sayang ziva" panggil zayyan dengan menggedor pintu ruangan ziva


"ada apa pak?" panggil greis mengagetkan zayyan


"tidak apa apa greis, hmm greis bisa aku minta tolong" ucap zayyan


"ya pak, apa yang bisa saya bantu" ucap greis sopan


"ini ambil kartu namaku, dan tolong kau hubungi aku pada nomor yang tertera dikartu itu, kabari aku jika ziva keluar dari ruangannya dan kau tanyakan pada ziva kemana dia akan pergi ya" pinta zayyan


"baik pak" ucap greis


"aku pergi dulu" pamit zayyan dengan buru buru


zayyan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, amarah telah membakar jiwanya, tujuan zayyan saat ini adalah perusahaan Smith.com.


"permisi nona silviana ada diruangannya?" tanya zayyan pada resepsionis


"ada pak sedang diruangannya" jawab resepsionis


Zayyan dengan langkah lebar menuju lift, setelah sampai pada lantai yang dituju, zayyan melangkah melewati sekertaris silvi yang memberi hormat padanya, ia mendorong pintu ruangan silvi.


Terlihat silvi sedang duduk pada kursi kebesarannya dengan menopang kepalanya dengan kedua tangannya, wajahntya juga terlihat sedikt pucat


"silvi apa yang kau lakukan" ucap zayyan dengan suara tinggi sontak mengagetkan silvi