
Hari ini adalah hari ketiga pasca silvi melahirkan putranya, dan ia belum juga membuka matanya. Ya silvi sampai saat ini masih nyaman dengan tidur panjangnya ia masih enggan untuk membuka mata melihat orang disekelilingnya yang menunggunya dengan khawatir, sementara keadaannya bayinya berangsur angsur membaik, disamping itu syaquel selalu melihat setiap perkembangan yang terjadi pada putra semata wayangnya itu, ia begitu sangat bersyukur pada tuhan karena telah menyelamatkan nyawa putranya.
"kakak aku mohon lekaslah bangun, kau harus melihat putramu" lirih ziva
Diruangan itu hanya ada ziva dan juga zayyan yang selalu sigap menemani istri kecilnya yang sedang mengandung buah hatinya, walau harus meninggalkan pekerjaannya ia rela dari pada membiarkan ziva pergi sendirian.
"sayang tenangkan dirimu" zayyan mengelus pundak ziva
"sudah 3 hari tapi kakak belum juga sadar" ucap ziva dengan penuh kekhawatiran
"lalu apa yang bisa kita lakukan selain berdoa pada tuhan" ucap zayyan
"kau benar suamiku, hmm aku ingin melihat putranya kakak" pinta ziva
"baiklah ayo" zayyan menuntun ziva untuk keluar dan menuju keruangan rawat bayi
Selepas kepergian ziva dan zayyan, syaquel masuk ke ruangan rawat silvi, ia menatap wajah istrinya yang ia persunting 7 tahun lalu, istri yang ia siksa pisik dan batinnya, istri yang telah mengandung dan melahirkan putranya dengan bertaruh nyawa.
"silvi weak up please" rintih syaquel dengan dada yang sesak
"bangunlah demi putra kita aku mohon" ucap syaquel lagi
"jika kau membenciku kau bisa menceraikanku tapi buka matamu dulu sil" lirih syaquel dengan berat hati
Seketika jari jemari silvi yang sedang digenggam oleh syaquel bergerak, sudut mata silvi mengeluarkan air mata, syaquel tersentak ia menatap wajah dan tangan silvi yang bergerak tadi secara bergantian.
perlahan lahan syaquel mendengar suara silvi yang seperti tercekat.
"pe..m..bu..nu..h" kata pertama yang keluar dari bibir silvi
Terlihat silvi menarik nafasnya dengan susah payah, ia belum juga membuka matanya namun bibirnya terlihat gemetar dan terdengar merintih. Syaquel berteriak memanggil dokter, salah satu perawat yang memang ditugaskan untuk memantau keadaan silvi langsung mendekati ranjang, ia juga berlari untuk memanggil dokter.
syaquel mundur untuk mempersilahkan dokter dan timnya memeriksa keadaan silvi. Ia tidak keluar dari ruangan itu karena ia ingin memastikan keadaan istrinya.
Syaquel memejamkan matanya untuk berdoa memohon pada tuhan agar memberikan mukjizatnya pada silvi, ia juga teringat pada kata pertama yang diucapkan oleh silvi tadi, ia benar benar sangat yakin bahwa istrinya sangat membencinya saat ini.
Semua alat yang terpasang ditubuh silvi dilepaskan dan itu menandakan hal yang baik telah terjadi pada istrinya.
"tuan syukurlah keadaan istri anda sangat baik dari sebelumnya semuanya terlihat stabil, tolong jaga nyonya silvi dengan baik" ucap dokter aleesya
"terima kasih dokter" ucap syaquel dengan tulus
setelah kepergian dokter dan para perawat, syaquel pelan pelan mendekati ranjang silvi, terlihat istrinya itu mulai membuka matanya, jantung syaquel berdebar tak karuan membayangkan bagaimana reaksi silvi saat melihatnya.
silvi hanya tersenyum tipis melihat adiknya yang langsung memeluknya.
"sayang perutmu" tegur zayyan melihat perut istrinya yang terhimpit ranjang.
"oh kakak akhirnya kau sadar juga, bagaimana? Apa yang kau rasakan kak? Apa ada yang sakit?" tanya ziva mewakili hati syaquel
"ya, disekitar purutku terasa sedikit sakit" jawab silvi dengan menyentuh perutnya yang sudah rata
"oh iya kak karena di sini ada bekas operasi cesar mu" ucap ziva dengan pelan juga menyentuh perut silvi yang terbalut baju.
"anakku?, apa anakku selamat?" tiba tiba silvi menjadi frustasi
Silvi mengedarkan pandangannya saat mencari keberadaan anakknya dan langsung saja tatapanya bertemu dengan syaquel yang juga sedang menatapnya. seketika silvi kehilangan akal sehatnya, ia berteriak juga memberontak seperti orang gila.
"pembunuh" teriak silvi
"kenapa pembunuh itu ada disini, pergi kau" silvi berteriak sambil menunjuk kearah syaquel yang berdiri mematung
"sil" suara syaquel terdengar bergertar
"diam, jangan.. jangan bicara, jangan pangil namaku, jangan" silvi masih tidak menurunkan nada bicaranya bahkan saat ini ia menjambak jambak rambutnya sendiri
"kakak dia suamimu, tidak ada pembunuh disini" ucap ziva berusaha menenangkan kakaknya
"dia..dia lah pembunuhnya, dia yang membunuh anakku, anakku sudah tiada semua itu karena perbuatannya" silvi menangis sejadi jadinya dia jugs terus menunjuk syaquel
"silvi tenangkan dirimu, luka bekas operasimu masih belum sembuh" ucap syaquel menghawatirkan keadaan istrinya bahkan ia hendak maju mendekati silvi namun suara silvi kembali menggemah diseluruh ruangan itu
"jangan mendekat, pergi aku mohon pergi, jangan ambil nyawaku lagi sudah cukup kau merenggut nyawa anakku yang tidak berdosa itu" teriak silvi disela sela tangisnya
"anak kita masih hidup sil, putra kita ada disini silvi, dia tidak meninggalkan kita" ucap syaquel
"iya kak putramu masih hidup" timpal ziva
"tidak, tidak, kalian bohong" suara silvi memekik ditelinga mereka
"zayyan, yan tolong, tolong kau usir pembunuh itu, usir dia, suruh dia pergi dari sini, aku takut, dia akan membunuhku..dia akan mengambil nyawaku" pinta silvi dengan terisak, ia bahkan mencekik lehernya sendiri saking frustasinya.
"el, pergilah dulu, kau tidak kasihan melihatnya seperti itu?" ucap zayyan setelah ia mendekat pada syaquel, dan pria itu menjawabnya dengan sebuah anggukan
Syaquel keluar dari ruangan itu dengan langkah yang berat, hatinya sangat sakit mendengar istrinya memanggilnya sebagai pembunuh, namun lebih sakit lagi ia melihat keadaan silvi saat ini dan semua itu karena dirinya yang brensek.