
Zayyan terus menggeser layar ponsel milik ziva dengan semangat agar dapat melihat gambar lainnya yang ada dialbum galeri itu, namun tiba tiba muncul lah foto saat ia dan ziva selaku istrinya sedang berciuman dengan latar belakang menara eiffel sontak saja membuat zayyan tersedak air susu yang kebetulan sedang ia teguk.
Uhukk..uhukk..
Zayyan terbatuk batuk karena tersedak susu.
"ada apa? Pelan pelan" ziva mengambil alih susu yang masih ada ditangan zayyan lalu ia menepuk nepuk punggung suaminya itu
"ah tidak tidak, aku baik baik saja" zayyan mengambil selembar tisu untuk membersihkan mututnya
"ada apa? Memangnya apa yang kau lihat?" ziva bergeser untuk melihat apa yang suaminya lihat diponselnya sehingga zayyan bereaksi seperti tadi
"oh jadi karena itu" ucap ziva dengan tersenyum penuh arti
"tidak bukan karena gambar ini, aku saja yang tidak hati hati tadi meneguk susunya" alasan zayyan
"suamiku kau tidak perlu malu, lihat pipimu jadi merona seperti itu jika kau terus mengelak" goda ziva
Zayyan mengalihkan tatapannya dari wajah istrinya yang telihat menyebalkan saat sedang menggodanya seperti itu.
"kau, untuk apa kau menyimpan gambar seperti ini?" ucap zayyan yang terlanjur keki
"tentu saja untuk kenang kenangan" jawab ziva
"kenang kenangan? Maksudmu?" tanya zayyan yang pura pura bodoh
"ya, seperti sekarang ini saat kau amnesia kau tidak lagi memberiku ciuman seperti itu maka aku akan melihat kembali foto foto itu untuk mengobati kerinduanku" ucap ziva dengan genit, ia bahkan dengan berani menyentuh bahu zayyan sembari mengelusnya dengan lembut
"kau ini ada ada saja" zayyan merasa bulu romanya berdiri ia bahkan memegang tekuknya yang terasa menegang
"hmm memangnya kau bisa mengulangnya kembali suamiku?" tanya ziva dengan sorot mata yang menantang
"aku ingin istirahat saja" zayyan mengalihkan pembicaraan yang semakin lama semakin tidak normal
"oke biar ku bantu" ucap ziva sambil terkekeh kecil
ziva membantu zayyan untuk kembali berbaring diranjang pasiennya.
"kau juga tidurlah kembali" ucap zayyan
"aku akan tidur nanti setelah kau sudah isttirahat dengan tenang dan nyaman" ucap ziva yang kembali mendaratkan bokongnya pada bangku yang ada disamping ranjang pasien milik zayyan
"hmm..kalau kau mau, tidurlah bersamaku" tawar zayyan
Sontak ziva langsung menatap suaminya itu dengan intens, apakah tadi itu serius ataukah hanya bercanda pikir ziva dalam batinnya.
Cukup lama beradu pandang, zayyan lalu memutus tatapannya dan menggeser tubuhnya kesamping hingga menyisakan tempat untuk satu orang lagi diranjang pasiennya itu.
"mau tidak?" tanya zayyan sembari menepuk tempat yang masih kosong diranjangnya itu.
"tentu saja, aku tidak pernah menyianyiakan kesempatan emas seperti ini" ziva langsung naik keatas ranjang yang berukuran sedang dengan sangat girang
"boleh aku menyentuhnya?" tanya zayyan meminta izin sebelum menyentuh perut ziva
"ck, untuk apa minta izin" ziva menarik lengan kiri zayyan lalu ia letakkan diperut buncitnya
"oh woww" ucap zayyan dengan exicited sebab ia baru saja merasakan pergerakan yang begitu lincah dari dalam perut ziva
"boy, kau semangat sekali hum? Apa kau rindu dengan daddymu?" ucap ziva berbicara dengan sang putra yang masih dalam kandungannya
"jadi dia laki laki?" tanya zayyan
"ya, dia pasti tidak kalah tampan darimu" ucap ziva
"cepatlah keluar man, kita akan bermain bersama" ucap zayyan sambil mengelus perut istrinya
"good night suamiku" ucap ziva menatap kedua mata indah milik zayyan
"sweet dream" ucap zayyan yang juga menatap kedua mata teduh milik istrinya
Saling bertukar pandang hingga akhirnya mereka tertidur dan masuk kedalam mimpi masing masing.
Pukul 5 dini hari, ziva kembali terbangun ia merasakan sakit pada perutnya, ia berusaha menenangkan dirinya dan berfikir bahwa ia sedang ingin buang air besar.
Namun setelah drama bolak balik kamar mandi, sakit pada perutnya semakin menjadi jadi dengan durasi waktu yang semakin pendek sakit itu terus saja menyerangnya. Ziva meringis tertahan agar tidak membangunkan suaminya yang masih tertidur lelap.
"oh tuhan bantu aku, jika memang sudah saatnya tolong permudahlah" gumam ziva meringis kesakitan
Bulan pun berganti dengan mentari, cahayanya bahkan menembus gorden yang ada diruang itu, zayyan mengucek matanya saat matahari menyilaui penglihatannya, ia meraba tempat disebelahnya namun ia tidak menemukan siapapun.
"ziva" panggil zayyan saat matanya tidak menemukan keberadaan istrinya
"ziva, kau dimana?" panggil zayyan lagi namun tidak ada sahutan
Baru saja zayyan ingin turun dari ranjang pasiennya, suara pintu kamar mandi menghentikannya dan ziva pun keluar dari balik pintu itu dengan wajah pucat sambil memegangi perutnya.
"ziva ada apa?" tanya zayyan heran
"entahlah" jawab ziva ambigu
"apa kau sakit?" tanya zayyan
Namun ziva tidak memberikan jawaban, ia hanya berjalan dengan pelan karena kakinya terasa gemetar, ia berusaha meraih ujung ranjang pasien milik zayyan untuk menopang dirinya yang kini kian lemas akibat menahan sakit.
"ziva ada apa? Katakan?" tanya zayyan dengan cemas
"aaaah aduuuh" akhirnya ziva mengeluarkan rintihannya
Tak terduga cairan bening mulai bercucuran dengan cukup deras tanpa bisa ziva tahan, cairan bening itu membasahi dress yang dikenakan ziva disusul dengan darah segar yang mulai mengalir di sela sela kaki ziva.
Dengan panik zayyan turun dari ranjang, namun selang injeksi membuatnya tidak bisa bergerak bebas, dengan kesal zayyan mencabut jarum injeksi yang menempel dipinggung tangannya alhasil darah mulai menetes karena jarum infus yang ditarik paksa mengakibatkan luka terbuka.
"ziva, apa kau akan melahirkan?" tanya zayyan dengan panik, bahkan wajahnya tidak kalah pucat dari ziva
"hmm sepertinya, aaaah" ziva memekik saking sakitnya
"oh my god, bagaimana ini?" zayyan sangat panik sampai tidak tau harus berbuat apa
Zayyan menahan tubuh ziva dengan kedua tangannya agar tubuh ziva tidak merosot ke lantai, walau tangan kanannya masih terasa sedikit nyeri namun ia paksa untuk digunakan.
"panggil seorang perawat" pinta ziva
"hmm, baiklah apa kau bisa duduk?" tanya zayyan
"ah cepatlah suamiku" pekik ziva
" baiklah, berpegangan yang kuat" perintah zayyan
namun baru saja zayyan akan menuju ke arah pintu, seorang perawat membawa nampan muncul dari balik pintu itu
"tuan kenapa anda.." ucapan perawat itu langsung dipotong oleh zayyan
"cepat bantu istriku, dia akan melahirkan" ucap zayyan dengan cemas
Perawat itu menoleh pada ziva yang berpegangan pada ujung ranjang pasien dengan tubuh bergetar menahan sakit dan darah yang mengalir di sela sela betis kakinya.