My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Bonchap 2



"oh my god, sayang ada apa denganmu? kau hampir saja memecahkan gendang telingaku" protes zayyan


"puas kau sudah mempermalukanku didepan kak ale? Kau itu benar benar sudah gila" geram ziva


"sayang jangan kau pikirkan, wanita seperti alesha itu memang harus sedikit dikasari seperti tadi kau tidak dengar tadi mulutnya jauh lebih pedas dari ada kata kataku" ucap zayyan


Ziva hanya menggeleng sambil menghela nafas panjang.


"besok aku yang akan menemanimu kerumah sakit" ucap zayyan tidak bisa diganggu gugat


.


.


.


Pagi ini vanya dan putrinya datang kekediaman richard sebab naya sudah berulang kali merengek pada ibu dan ayahnya untuk bermain bersama Nio.


"Kakak" pekik gadis kecil berusia 2 tahun itu


"Naya jangan lari" teriak vanya


Ziva yang sedang didalam kamar dapat mendengar keributan yang terjadi dilantai bawah, ia memegangi kepalanya yang terasa berdenyut dan dengan pelan berjalan keluar dari kamar.


"siapa yang datang bi ani?" tanya ziva pada wanita paruh baya yang bekerja dirumah itu


"dibawah ada nyonya vanya dan nona kecil sedang bermain dengan dek nio" jawab bi ani


"oh baiklah, jika kak vanya mencariku katakan saja aku sedang ada dikamar" pinta ziva


"baik nyonya" jawab bi ani


Tidak lama kemudian muncullah vanya dari balik pintu kamarnya, wanita itu langsung mengguncang tubuh lemah ziva yang sedang terbaring diranjang.


"ziva" pekik vanya


"aku pikir kau pergi ke butikmu" lanjutnya


"aku kurang enak badan hari ini" sahut ziva


"wait wait, ziva wajahmu pucat sekali memangnya kau sakit apa?" tanya vanya


"entahlah kak, aku merasa kepalaku bekunang kunang tubuhku lemas juga sedikit mual" jawab ziva


"sepertinya aku kenal gejala ini, coba kau ulangi keluhanmu tadi?" pinta vanya


"ada apa kak? kau tiba tiba menjelma menjadi seorang dokter" ziva terkekeh


"ya dokter cinta hehe" vanya ikut tertawa


"ish, tidak lucu" ziva mendesis


"memang tidak lucu kau pikir aku ini pelawak, cepat katakan lagi keluhanmu?" ketus vanya


"hmm tapi kak kau jangan membuatku over dosis yaa soalnya kau bukan lulusan kedokteran aku takut kau akan merampas paksa nyawaku" kontan ziva


"enak saja kau kalau bicara jangan sampai aku mengeluarkan sumpah serapahku ya" vanya dan ziva memang kadang tidak akur seperti ini


"Kepalaku terasa pusing juga berdenyut denyut, badanku lemas lelah dan letih, aku merasa mual tapi aku tidak muntah" ucap ziva mengulangi keluhannya


"tadi kau bilang kepalamu berkunang kunang sekarang berdenyut denyut, yang benar yang mana?" ucap vanya kesal


"loh bukannya sama ya?" tanya ziva


"bisa jadi sih" jawab vanya


"ish kak kau itu" ziva mentoyor kepala vanya sengan telunjukya


"oke fix, sekarang apa kau punya setok test pack?" tanya vanya


"untuk apa alat itu kak? Kau ini ada ada saja aku sedang tidak enak badan begini kau malah bertanya alat tes kehamilan" ucap ziva dengan ketus


"oh my zivaa kau ini bawel sekali, ada tidak? Tinggal jawab saja susah" ucap vanya kesal


"ada, disana" ziva menunjuk nakas yang ada dibawah TV


Vanya lalu melangkah dan menarik laci itu lalu mengambil satu buah test pack disana


"bangun dan gunakan ini" ucap vanya memberikan test pack itu


"ck, kurang ajar sekali anak ini" gerutu vanya


Vanya lalu menarik paksa ziva dan menuntunnya ke kamar mandi.


"cepat tidak pakai lama, aku akan menunggu disini" vanya lalu menutup pintu kamar mandi itu


Didalam sana ziva sangat kesal sambil memijat kepalanya yang terasa kembali berdenyut. Tidak ingin berlama lama dikamar mandi ziva segera menggunakan alat itu agar sang kakak puas dan sadar dengan kehaluannya.


Ziva menunggu reaksi dari alat itu dengan tidak sabar, jantungnya juga berdebar tak menentu padahal tadinya ia biasa saja. namun sekarang ia seakan sangat menaruh harapan pada hasilnya nanti.


"ziva sudah belum" pekik vanya dari luar sambil terus mengetuk pintu kamar mandi dengan keras


"sebentar kak" teriak ziva dari dalam


Dengan perlahan ziva mengangkat benda yang ia celupkan tadi kedalam wadah, jantungnya berdegup semakin kencang. Ia lalu menajamkan penglihatannya saat melihat dua garis terpampang nyata disana.


"benarkah ini?" ucap ziva seolah tak percaya


Ia mengedip ngedipkan kedua matanya bahkan ia mengucek ngucek matanya untuk dapat melihat dengan jelas hasilnya.


"oh my god, positif" ucap ziva dengan seulas senyum yang terbit dibibirnya


Dengan buru buru ia keluar dari kamar mandi untuk memperlihatkan hasil test pack miliknya pada vanya.


"kak, lihat ini" ziva memberikan benda itu pada vanya


"benar kan, kau hamil wah selamat yaa" vanya memeluk ziva dengan gembira


Ziva dan vanya menuruni anak tangga dengan raut bahagia, terlihat putranya arsenio dan keponakannya kanaya sedang bermain bersama. Entah kenapa setelah mendapat kabar gembira tadi badannya seketika menjadi sangat fit.


"hay mom" sama kanaya


Kanaya azalea richard biasanya dipanggil naya, vanya dan rayyan memutuskan untuk mengasuhnya saat menemukannya disalah satu kamar yang ada dihotel milik vanya. Entahlah siapa yang sengaja meninggalkan bayi kecil itu, tubuhnya masih merah bahkan tali pusarnya masih utuh dengan plasentanya. Vanya dan rayyan juga memutuskan untuk tidak menyelidiki perkara ini sebab walau mereka tahu siapa orang tua kandung naya mereka tidak akan mau mengembalikannya pada orang tua yang dengan tega meninggalkan anaknya sendirian.


"oh my god putriku ini semakin hari semakin cantik" puji ziva pada gadis yang baru berusia 2 tahun itu


"maaci mom" celoteh naya


"sama sama sayangku" ziva benar benar sangat sayang pada naya walau tidak memiliki hubungan darah namum ziva menganggap naya seperti putri nya sendiri.


"Nio kemarilah, aunty ingin beritahu sesuatu" ucap vanya yang kini telah duduk disofa


"apa aunty?" tanya nio yang telah berada dipangkuan vanya


"tapi ini rahasia ya, kau tahu rahasia kan?" tanya vanya


"iya aunty, lahasia belalti halus disembunyikan tidak boleh dibeli tahu olang olang" celoteh nio dengan gaya cadelnya


"ahaa kau pintar juga ya" puji vanya


"iya dong aunty" sahut nio dengan percaya diri


"tadi kau bilang kan rahasia itu tidak boleh diberi tahu ke orang orang, berarti kau tidak boleh beritahu daddymu juga yaa" ucap vanya memperingati nio


"tapi kenapa daddy tidak boleh tahu?" jiwa kepo nio kembali meronta ronta


"ya karena tidak boleh" jawab vanya apa adanya


"apa alasannya aunty?" desak nio


"alasannya karena biarkan mommy mu saja yang beritahu daddy mu" jawab vanya


"kenapa mommy boleh tapi aku tidak boleh?" tanya nio


"haha rasakan itu" ziva terkekeh melihat vanya yang terus diserang pertanyaan oleh putranya


"oh yaampun ziva kau beri makan apa anakmu ini? bawel sekali" gerutu vanya


"aunty aku bukan bawel tapi aku hanya ingin tahu saja" koreksi nio


"iya iya nio, jadi kau ingin tahu tidak rahasianya?" ucap vanya


"mau aunty" jawab nio


"kau tahu nio, sebentar lagi kau akan punya adik" ucap vanya pelan


"adik? benal mommy?" tanya nio pada ziva