My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Foto pernikahan



"ya hallo, ada apa ray?" ucap ziva setelah menjawab panggilan dari iparnya


"ziva, apa mommy sudah pulang?" tanya rayyan dari seberang sana


"iya, sekitar 20menit yang lalu" jawab ziva


"begini ziv, kemungkinan aku tidak bisa kembali ke rumah sakit karena aku harus lembur dan akan selesai larut malam" dusta rayyan


"oh ya sudah selesaikan saja pekerjaanmu, lantas apa yang membuatmu risau?" ucap ziva


"tentu saja dirimu, tidak ada yang menjagamu disana bagaimana jika kau tiba tiba melahirkan" ucap rayyan


"haha.. kau tenang saja ray, disini ada suamiku dan jika aku akan lahiran maka aku akan memanggil seorang perawat untuk membantuku" ucap ziva


"kau yakin?" tanya rayyan memastikan


"ya sangat yakin, sudah jangan buang waktumu lekas selesaikan pekerjaanmu dan kau tenang saja semua akan aman terkendali" ucap ziva


"baiklah, jaga dirimu" ucap rayyan sebelum ia memutus panggilannya.


Setelah menerima panggilan dari ipar nya itu, ziva lalu bangkit dari duduknya ia meregangkan tulang pinggulnya yang terasa sedikit nyeri karena terlalu lama duduk, sebelum pergi ziva menyempatkan mengecup dahi suaminya yang kini sedang tidur nyenyak.


"good night suamiku, lekaslah sembuh sayang aku rindu dengan suamiku yang dulu, yang super perhatian dan pengertian, aku juga rindu kau mengusap usap perutku saat mau tidur, i love you so much my husband" ucap ziva setelah mengecup kening suaminya


Ia lalu menuju ranjangnya dan merebahkan dirinya. tidak menunggu lama ziva pun tertidur dengan lelapnya.


Saat ini pukul 2 dini hari, tiba tiba zayyan terbangun dari tidurnya sebab perutnya yang tidak bisa diajak berkompromi.


"oh sial, kenapa kau berbunyi diwaktu yang tidak tepat" gumam zayyan dengan dongkol karena perutnya yang terus berbunyi karena kelaparan


Ia melirik ke arah kiri dimana ziva sedang tidur dengan sangat amat damai, ia merasa tidak mungkin membangunkan wanita itu.


Ia pun mencoba untuk turun dari ranjangnya dengan hati hati tidak lupa ia meraih sebuah tiang untuk menggantung cairan injeksinya. Dengan langkah yang pelan zayyan mendekati sebuah kulkas yang ada diruangan itu.


Mendengar seperti ada suara suara asing membuat tidur ziva menjadi terusik, ziva membuka matanya dan menatap sekelilingnya, ia melihat suaminya sudah tidak ada diranjangnya, dengan panik ia bangun dari tidurnya dan betapa leganya ia melihat pria yang ia cintai itu ternyata sedang duduk disebuah kursi sambil menyantap roti dan segelas susu.


"apa aku mengusik tidurmu?" tanya zayyan, sedari tadi pandangannya memang tertuju pada wanita itu jadi ia tau jika ziva itu telah bangun.


"tidak, kenapa kau tidak membangunkan aku jika kau lapar?" ziva bertanya balik


"karena aku ingin mandiri" jawab zayyan


"oh ya? Bagaimana jika tadi terjadi sesuatu denganmu?" tanya ziva dengan kesal


"aku akan bertanggung jawab pada diriku sendiri" jawab zayyan


"ck, aku tidak bisa percaya itu" ziva lalu bangkit untuk mendekati suaminya


"aduh" ziva merintih sambil berpegangan pada ujung ranjang


"ada apa?" zayyan spontan berdiri dan hendak mendekati ziva


"apa? Benarkah? Kau akan melahirkan?" tanya zayyan jujur saja jantungnya tiba tiba berdebar debar


"sakitnya sudah hilang, sepertinya hanya kontraksi palsu" ucap ziva


"sudah berapa usia kandunganmu?" tanya zayyan


"9bulan" jawab ziva menarik kursi yang ada didekat zayyan dan mendaratkan bokongnya


"berarti sebentar lagi kau akan melahirkan" tebak zayyan


"ya tinggal menunggu harinya saja" ucap ziva


Zayyan hanya mengangguk sembari menelan salivanya dengan berat, entah mengapa ia seperti punya fealing yang buruk.


"ada apa? Kau masih lapar? biar ku buatkan sesuatu" ziva mengajukan tawaran


"ah tidak, tidak perlu sebaiknya kau kembali istirahat kau pasti lelah seharian mengurusiku" ucap zayyan dengan tidak enak hati


"oh ayolah suamiku kau tidak perlu sungkan seperti itu" ziva memberanikan untuk merayu suaminya yang amnesia itu


"benarkah aku ini suamimu?" tanya zayyan dengan tampang serius menatap kedua manik mata ziva


"jadi sampai saat ini kau masih meragukan hal itu" ucap ziva dengan sendu


"tidak tidak, bukan itu maksudku" ucap zayyan ia merasa telah salah bicara pada wanita yang sedang mengandung keturunannya itu


"aku tidak akan mungkin berada disini sampai sekarang kalau bukan karena kau adalah suamiku" ucap ziva penuh penekanan


"ziva kau sudah salah mengerti akan kata kataku tadi" sahut zayyan


"lantas apa maksud dan tujuanmu mempertanyakan hal itu lagi?" tanya ziva


"aku..hmm..aku hanya ingin melihat foto pernikahan kita, apa ada?" ucap zayyan dengan hati hati


ziva menatap zayyan dalam dalam, ia takut suaminya itu mengalami stres jika ia menuruti permintaannya, namun bukankah ini hal yang bagus saat zayyan sendiri yang meminta hal tersebut. pertanyaan pertanyaan seperti itu terus muncul dipikiran ziva.


"hmm apa aku tidak boleh melihatnya?" ucap zayyan saat melihat ziva tidak bergeming


"tentu, tentu saja boleh tunggu sebentar" ziva langsung bangkit dari duduknya dan hampir saja perutnya yang buncit terbentur meja makan.


"hey pelan pelan saja" gerutu zayyan saat melihat tingkah ziva yang tidak hati hati


Ziva berjalan menuju nakas dimana ia menyimpan ponselnya tadi, lalu ia kembali duduk disamping zayyan sambil memperlihatkan foto foto dirinya bersama suaminya sebelum terjadi kecelakaan yang membuat zayyan amnesia.


"kau bisa melihat semua album itu, disana tidak hanya ada foto pernikahan kita, ada juga beberapa gambar yang diambil saat kita honeymoon" ucap zia menyerahkan ponselnya


Zayyan menerima benda pipih itu dari tangan ziva, ia mulai melihat lihat gambar yang ada di dalam album galeri ponsel itu, sesekali ia tersenyum saat melihat betapa bahagianya ia pada waktu itu, saat ia bersama istri tercintanya.