My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Pernyataan vanya



"dia hanya menemaniku saat terapi saja bun, selebihnya entahlah, dia bahkan sudah sangat jarang memberiku kabar" ucap ziva yang semakin menyayat hatinya.


"sayang tenanglah jangan berfikiran macam-macam" ucap bu liza berusaha menenangkan putrinya itu


"hai, seru sekali berpelukan seperti teletubies" ucap vanya yang baru saja tiba dan melihat bu liza memeluk ziva


"kau kapan datang sayang?" tanya bu liza melihat vanya berjalan kearah mereka


"baru saja bun, aku lapar" keluh vanya sambil mengerucutkan bibirnya


"yasudah bunda memang baru saja habis masak, ayo kita makan" ajak bu liza juga meminta persetujuan ziva,


setelah mendapat anggukan dari ziva bu liza segera mendorong kursi roda ziva menunju meja makan. Makan siang hari ini sangat nikmat diiringi canda tawa, bu liza bersyukur bisa berkumpul dengan anak-anaknya seperti ini.


selepas makan siang ziva dan vanya kembali menikmati angin sepoi-sepoi diteras belakang sedangkan bu liza bersama bibi beberes rumah.


"dek, aku melihat zayyan masuk ke hotelku" lapor vanya


"hah? Kak vanya serius?" tanya ziva memastikan


"ya dan ini bukan pertama kalinya aku melihatnya tetapi sudah ketiga kalinya semenjak kau keluar rumah sakit" ucap vanya jujur,


jika baru sekali dua kali ia mungkin tidak akan memberitahu ziva namun sudah ketiga kalinya vanya tidak ingin menyimpan ini sendiri lebih baik ia katakan pada ziva.


ziva diam tanpa menjawab ucapan vanya, ia hanya menatap lurus kedepan dengan jantung berdegup cepat.


"apa kau tau dia ada urusan apa di mark hotel?" tanya vanya, menurut vanya sebagai sepasang kekasih tentu akan saling berbagi kesibukan yang ia lalui setiap hari.


"tidak, kami sudah jarang bertukar kabar" ujar ziva datar


"tetapi dia datang dengan kak silvi, mungkin saja ada urusan pekerjaan" ucap vanya berusaha berpositif thinking


Mendengar nama kakak pertamanya disebut seketika ziva teringat masalah yang terjadi diantara ia dan zayyan sebelum terjadi tragedi jatuh dari tangga.


"ya mungkin" ziva berpura-pura sepemikiran dengan vanya


"dan alangkah baiknya kau tanyakan pada zayyan untuk memperjelas semuanya" saran vanya


"iya kak" ucap ziva


"yasudah aku kembali dulu ke hotel ya" pamit vanya


"hati-hati kak" ziva mencium pipi kiri vanya dan dibalas oleh vanya sebaliknya


"bunda makasih untuk makan siangnya, vanya mau ke hotel lagi" pamit vanya pada bu liza yang sedang mencuci peralatan makanya


"iya sayang hati-hati dijalan" bu liza mencium pipi kiri kanan dan kening vanya sebagai tanda perpisahan mereka


setelah kepergian vanya, ziva kembali sibuk dengan pikirannya, ia merasa tidak puas jika berbicara hal serius ini lewat telepon, kebetulan besok adalah jadwal terapinya yang ke 3 jadi ia berencana akan membicarakan itu besok.


dimalam hari yang dingin ini ziva duduk di atas kasurnya sambil berselonjor kaki, ia menonton film lewat ponselnya ia tertawa-tawa melihat lelucon yang ditampilkan film tersebut, namun harus terhenti karena sang kekasih melakukan video call.


"malam sayang" sapa zayyan dengan gaya khasnya


"malam kak" jawab ziva sambil memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan


"sedang apa?" tanya zayyan


"tidak, hanya duduk saja" jawab ziva seperti biasanya


"I miss you" ucap zayyan membuat bulu kuduk ziva berdiri


"are you okay?" tanya zayyan


"iam okay" jawab ziva


"besok jadwal terapimu kan?" tanya zayyan


"iya kak" jawab ziva


"aku akan menjemputmu" ucap zayyan tulus


"terima kasih" ucap ziva


"iya, ngomong ngomong malam ini kau cantik sekali" gombal zayyan menetralisir suasana


"iya kemarin kemarin aku kan jelek" ucap ziva mengerucutkan bibirnya


"hahaha, menggemaskan, kalau kau ada disampingku aku akan menciummu" ucap zayyan


"dan aku akan lapor pada bunda" ucap ziva


" kau tidak akan lapor pada bunda karena kau akan ketagihan" ucap zayyan menggoda


"ish mesum" gerutu ziva


" tidurlah besok aku akan menjemputmu" ucap zayyan


"kak boleh aku bertanya 1 hal?" ucap ziva


"silahkan, seribu hal pun tidak masalah" canda zayyan


"tadi kakak dimana?" tanya ziva


"maksudmu tadi apa? pagi siang atau sore" ucap zayyan masih dengan candaan


"siang tadi kakak dimana?" tanya ziva lagi


"oh dikantor sayang, ada apa?" zayyan beetanya balik


"selain dikantor?" tanya ziva menginterogasi


"no sayang aku hanya dikantor seharian ini" jawab zayyan


"baiklah kak aku tutup ya" ucap ziva


"good night sayang"


setelah sambungan telepon itu terputus ziva benar-benar tidur ia tidak sabar hari esok tiba.


Keesokan harinya bu liza dan ziva sedang sarapan dimeja makan.


"nak hari ini zayyan akan menjemputmu atau bunda yang mengantarmu?" tanya bu liza


"kak zayyan akan jemput bun" jawab ziva


"yasudah nikmati sarapanmu, sebentar lagi pangeranmu itu pasti akan datang" goda bu liza hanya dibalas senyuman dari ziva


"pagi bunda, pagi cantik" ucap zayyan sambil berjalan kearah bu liza dan ziva yang sedang sarapan