
Ziva yang tadinya sudah berhenti menangis karena melihat kakaknya yang masih menangis ia pun juga ikut menumpahkan lagi air matanya yang masih tersisa, mereka saling berpelukan sambil sama sama menangis.
"kak ayah kritis kak, ayah tidak sadarkan diri" ucap ziva dengan lirih
"aku ingin lihat ayah" ucap silvi hendak akan mencabut jarum infus yang melekat di punggung tangannya
"tidak nak jangan kondisimu juga masih belum stabil" tahan bu bianca
"tapi mom ayahku.." ucapan silvi terpotong
"silvi jangan keras kepala" ucap zayyan dengan tegas
"kak istirahatlah, jangan cemas kakak berdoa saja semoga kakak dan ayah lekas pulih dan bisa berkumpul lagi oke" ucap ziva dan diangguki oleh silvi
"kak mommy ingin pulang untuk ganti baju, adikmu dimana ya?" tanya bu bianca
"ray masih diluar ruangan ayah tidak jauh dari sini, mommy lurus dan belok kanan saja, ray sedang berdiri didepan pintu" ucap zayyan
"baiklah, sil mommy pulang dulu jangan banyak pikiran ya fokus pada bayimu " ucap bu bianca mengelus pucuk kepala silvi
"zivani sayang" bu bianca memeluk ziva, entah mengapa berpelukan dengan ziva bu bianca merasa jiwanya sangat damai
"mommy pulang ya, jaga dirimu baik baik sayang ya" bu bianca mengecup kening ziva
Melihat kasih sayang bu bianca pada ziva sangat tulus membuat hati silvi kembali bergetar, betapa teganya ia menghancurkan kebahagiaan adiknya itu.
"mommy hati hati ya" ucap ziva sembari mencium punggung tangan bu bianca
"ayo mommy aku antarkan pada rayyan" ajak zayyan namun ditolak dengan halus oleh bu bianca
"tidak usah kak, mommy bisa sendiri, kau disini saja jaga zivani juga yang lainnya" ucap bu bianca dan berlalu pergi
setelah kepergian bu bianca dan silvi tertidur lelap bu liza menyuruh zayyan dan ziva pulang terlebih dahulu untuk ganti baju dan membawakan bu liza dan juga vanya pakaian ganti.
"kita kemana dulu?" tanya zayyan saat mereka sudah dalam perjalanan
"kerumah ku dulu" jawab ziva
"okey" sahut zayyan
sesampainya dirumah, ziva meminta zayyan untuk menunggunya sebentar diruang tamu.
"kak tunggu disini yah aku mau mandi" ucap ziva
"kau tidak mengajakku?" ucap zayyan mencairkan suasana
"ihh mesum" pekik ziva lalu berlari ke kamarnya
setelah selesai, ia mengemas pakaian ganti untuk bu liza, juga pakaian vanya yang sempat tertinggal dirumah ini ada beberapa setelan.
"selesai ayo" ajak ziva
"aku lapar" keluh zayyan
"sebenarnya aku akan kembali kerumahku, tetapi kalau kau lebih senang di apartemenku kita Lets go" ucap zayyan girang
"tidak tidak kita akan tetap kerumahmu, ayo" ziva menggandeng tangan zayyan untuk segera keluar dari rumahnya dan pergi dari sana
diperjalanan ziva merasa ada yang aneh karena jalan yang mereka lalui bukan jalan menuju rumah zayyan melainkan menuju apartemen.
"kak kenapa malah ke apartemen?" tanya ziva
"memangnya kenapa? Apartemenku kan juga rumahku" jawab zayyan
"tapi kak kalau hanya ganti baju kan bisa dirumah saja lebih dekat jaraknya" ucap ziva
"kan kau bilang ingin masak" ucap zayyan
"tapi kan.." ucapan ziva langsung dipotong zayyan
"sudahlah sayang, apa kau tidak ingin mengulang malam itu?" ucap zayyan dengan mengedipkan sebelah matanya
"ish" ziva mencebik kesal sedangkan zayyan tertawa puas melihat reaksi ziva.
Sesampainya diapartemen zayyan langsung menuju kamar untuk mandi dan ganti baju sedangkan ziva menuju dapur untuk menyiapkan makan siang sederhana untuk mereka berdua.
"apa yang kau masak?" tanya zayyan yang berjalan menuju meja makan
"aku hanya membuat spageti, maaf ya" ucap ziva sembari menghidangkan dua piring yang telah terisi spageti buatannya
"melihatnya saja sudah lezat" puji zayyan lalu melahap makananya
"enak?" tanya ziva yang terlihat kurang berselera
"sangat" jawab zayyan yang sudah seperti orang tidak pernah makan
"pelan pelan kak" ucap ziva melihat zayyan begitu tergesa gesa
"kenapa punyamu hanya diacak acak seperti itu?" tanya zayyan saat melihat makanan ziva belum berkurang sedangkan miliknya sudah hampir ludes
"aku tidak selera makan, aku kepikiran ayah" ucap ziva lesu
"yaampun zivani ku sayang, kau harus berfikiran positif untuk ayah kau harus yakin bahwa ayah akan sehat seperti sedia kala, jangan memikirkan hal hal negatif yang akan terjadi itu hanya akan mempengaruhi dirimu" ucap zayyan lalu melahap sisa spageti dipiringnya
"ayo biar ku suapi" zayyan lalu mengambil alih piring ziva
"aaa buka mulutmu" zayyan berusaha menyupi ziva
"tidak kak, aku sudah kenyang" ziva menolak suapan dari zayyan
"yang benar saja, kau bahkan belum mencobanya satu sendok pun, ayo kau jangan keras kepala kalau kau tidak makan kau akan sakit, kalau kau sakit siapa yang akan menjaga ayahmu" kali ini ziva menerima suapan dari zayyan
"seharusnya kakak jangan memberitahu ayah soal ini" lirih ziva
"semua ini sudah sepantasnya terbongkar ziva, sepandai pandainya tante elen menyimpan barang yang busuk pasti akan tercium juga" ucap zayyan sambil terus menyuapi ziva