
Pranggg...
suara benda yang pecah berserakan dilantai, ya zayyan dengan sengaja menepis piring yang ada ditangan ziva dan membuat barang pecah itu jatuh hancur berkeping keping sama dengan hati ziva saat ini.
"aku sudah bilang, aku tidak mau makanan darimu dan dengan beraninya kau menyuapi aku" bentak zayyan
Air mata ziva tidak dapat ia bendung lagi, ia menangis menatap pecahan piring yang berserakan dilantai.
"oke fine" batin ziva sembari menarik nafas dalam dalam
ziva melangkah untuk mengambil alat bersih bersih yang ada didekat kamar mandi, lalu ia berjongkok untuk memunguti serta membersihkan puing puing pecahan itu dengan hati hati tanpa bersuara hanya ada air mata yang terus menetes dipipi merahnya.
Setelah semua selesai, tanpa basa basi lagi ia lalu memanggil salah seorang perawat untuk mengurusi kebutuhan suaminya, walau merasa terluka dengan sikap suaminya itu tapi ia tidak pernah terfikir untuk meninggalkan suaminya yang masih dalam pemulihan itu dirumah sakit ini. Wajar saja suaminya bersikap seperti itu karena ingatannya yang sedang terganggu.
"nyonya apa tidak apa apa?" tanya perawat itu karena zayyan meminta nya untuk menyuapinya tetapi sang perawat sangat tidak enak hati pada ziva selaku istri pasiennya
"tentu saja sus, ayo dia sudah kelaparan" ucap ziva dengan setengah berbisik
Ziva lalu berjalan ke sofa, terlalu banyak berdiri membuat punggungnya terasa nyeri, ia menatap dari kejauhan suaminya yang sedang makan sambil disuapi oleh seorang perawat. Sungguh sangat aneh, ia merasa tidak ada gunanya menjadi seorang istri namun apalah adanya.
"sudah selesai tuan, sebaiknya anda istirahat" ucap suster tersebut
ziva lalu berdiri saat perawat tadi berjalan mendekat kearahnya.
"suster terima kasih" ucap ziva dengan ramah
"tidak perlu begitu nyonya, melayani pasien memang tugas saya" jawab perawat itu dengan sopan
"kalau begitu saya pamit nyonya" lanjutnya
"iya sus" ucap ziva
Sekepergian perawat tadi, suasana diruangan itu kembali hening, ziva hanya memainkan ponselnya sambil sesekali melirik kearah suaminya, sedangkan zayyan sekarang ia malah merasa bersalah karena perbuatannya tadi, apalagi ia telah membentak wanita hamil itu ia merasa sangat keterlaluan.
"walau dia sedang hamil besar ia tetap ingin merawatku disini, ck keterlaluan sekali diriku" zayyan membatin sendirian
"apa salahnya menurunkan ego sedikit, lagi pula dia bilang dia istriku jadi tidak sepatutnya seorang suami bersikap seperti itu" zayyan mulai menyesali perbuatan kasar nya tadi
"hmm" zayyan berdehem membuat ziva langsung meletakkan ponselnya
"ada apa? Kau perlu sesuatu?" tanya ziva dengan sigap
"ah tidak" jawab zayyan
"oh" ucap ziva singkat lalu menggenggam lagi ponselnya
"aku ingin minta maaf" ucap zayyan setelah mengumpulkan keberanian
"for what?" tanya ziva heran, ada apa lagi dengan suaminya ini
"soal tadi" jawab zayyan
"bisa tolong ambilkan aku air" pinta zayyan, enta itu sebagai bentuk basa basi ataukah ia benar benar haus
"tentu, tunggu sebentar" ziva berjalan kearah dispenser untuk mengambilkan air untuk suaminya
"ini" ziva memberikan gelas itu pada suaminya
"aku perlu pipet" ucap zayyan bete, memangnya wanita ini tidak lihat kalau dia masih dalam posisi berbaring belum bisa duduk, lalu bagaimana ia akan minum langsung dari gelas
"oh yaampun, maafkan aku" ucap ziva dengan menepuk jidatnya dan zayyan merasa sangat gemas melihat tingkah lalu wanita hamil itu
"ini" ziva membantu zayyan untuk minum dari pipet itu.
"ziva aku bawakan makan malam" ucap rayyan yang tiba tiba masuk tanpa mengentuk pintu ataupun memberi salam
rayyan menatap dua orang dihadapannya dengan senyum yang mengembang, dalam hatinya ia berdoa semoga kakaknya segera pulih dan menyayangi istrinya seperti sedia kala
mendengar ada orang masuk zayyan menyudahi minumnya, ternyata yang datang adalah pria yang mengklaim dirinya sebagai adiknya.
"terima kasih ray" ucap ziva dengan ramah
"baiklah, ayo kita makan" ajak rayyan
"iya kau taruh disana saja" ziva menunjuk meja makan yang ada dipojok ruangan itu
"aku mau makan sebentar, kalau kau butuh sesuatu jangan segan untuk memanggilku oke" ucap ziva dan diangguki oleh zayyan
Ziva lalu menyiapkan makan malamnya dengan rayyan, ia juga mengambilkan makanan dipiring rayyan yang masih kosong, mereka memulai makan mereka dengan mengobrol.
"ziva, akhir akhir ini aku kesulitan untuk bertemu dengan vanya" curhat rayyan
"apa dia menjauhimu?" tanya ziva, ia tidak heran jika ini terjadi karena ia tau kakaknya begitu menolak perjodohan ini
"ya sepertinya begitu" jawab rayyan dengan raut wajah yang tak terbaca
"apa kau sudah setuju dengan perjodohan ini?" tanya ziva lagi
"apalah dayaku ziv, semua sudah dipersiapkan" jawab rayyan dengan bahasa ambigunya
"berarti aku anggap kau sudah menerima perjodohan ini" ucap ziva menurut pendapatnya
"ya terserah padamu" ucap rayyan sambil mengunyah
"nanti aku akan bicara dengan kak vanya" ucap ziva
"itulah kalimat yang ingin aku dengar sedari tadi" ucap rayyan dengan jujur
"ck, kau itu" ucap ziva dengan tertawa pelan
Zayyan menatap kedua manusia yang sedang berinteraksi, ia tidak bisa mendengar dengan jelas karena mereka berbicara cukup pelan, yang ia dapat simpulkan saat ini adalah hubungan keduanya sangat dekat melebihi sekedar hubungan ipar. dan zayyan malah mencurugai hal itu.