My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Kedatangan bunda



"ish rasanya ingin muntah melihat kalian itu" caci vanya karena merasa jadi obat nyamuk


"cukup kak" ucap ziva menyudahi makan nya


"sudah kenyang?" tanya zayyan lalu mendapat anggukan dari ziva


"okey sekarang minum obatmu" zayyan membantu ziva untuk meminum obatnya


setelah semua selesai, zayyan ziva dan vanya mengisi waktu mereka dengan bersenda gurau karena ziva belum mengantuk


"kak kau tidak punya teman lelaki yang cocok untuk tipe wanita seperti kakakku itu?" tanya ziva pada zayyan


"hei kau gila ya aku tidak mau dijodoh-jodohkan" ucap vanya tidak terima


"ada, lelaki yang tampan, mapan, dan humoris" ucap zayyan


"wah siapa itu kak? Sepertinya lelaki seperti itu memang cocok untuk kak vanya yang galak itu" ucapan ziva membuat mata vanya langsung melotot


"astaga vanya matamu itu akan keluar pada tempatnya" ucap zayyan diiringi gelak tawa


"kau itu sedang sakit tetapi mulutmu tidak berhenti mengata-ngataiku ya" geram vanya


"ayo kak siapa lelaki itu, siapa tau cocok kan?" tanya ziva penasaran


"kau penasaran sekali sayang" ucap zayyan mencolek dagu ziva


"uuuueek, menggelikan. Ayo zayyan katakan dulu namanya, aku akan menilai dari namanya" reaksi vanya


"yayaya, dia adikku namanya Rayyan Richard" jelas zayyan


"what?" respon vanya


"ya aku rasa rayyan cocok, yang satunya bawel dan satunya galak hahaha" tawa ziva


"no no no, rayyan richard aku menolaknya, berikan aku pilihan yang lain" sungguh vanya tidak ingin berurusan dengan pria gila itu lagi


"kenapa? memangnya kau sudah mengenal adikku?" tanya zayyan


"ya tentu aku kenal, dia yang membooking hotelku untuk perayaan ulang tahun perusahaannya" jelas vanya


"oke, kalau kak vanya sudah kenal dengan rayyan berarti kita adakan saja kencan buta untuk mereka iya kan kak?" ucap ziva pada zayyan antusias


"iya, tetapi kau harus sembuh dulu sayang" ucap zayyan mengelus rambut ziva yang tergerai


Ziva langsung sadar akan kondisinya saat ini, ia sudah bukan ziva yang dulu yang bisa kemana saja ia mau, sekarang ia akan menyusahkan orang lain jika ia ingin melakukan apapun. Sebelum suasana menjadi sendu vanya langsung mengalihkan pembicaraan agar suasana menjadi seru lagi


"lupakan kencan buta sialan itu, aku tidak akan datang titik" kesal vanya


"sepertinya kau punya dendam tersendiri pada adikku" selidik zayyan


"tentu saja, adik gilamu itu hampir saja ..." ucapan vanya terpotong ia sadar kalau ia hampir saja membuka aib nya dengan rayyan


"tidak-tidak aku sudah ngantuk, aku tidur duluan" ucap vanya melangkahkan kakinya kesofa lalu membaringkan tubuhnya


"ish kak vanya menyebalkan" gerutu ziva


"ayo kau juga tidurlah" zayyan menurunkan sandaran kepala ziva agar ziva berbaring dengan nyaman


"tapi aku belum ngantuk kak" ucap ziva


"tapi begadang tidak baik untukmu cantik" goda zayyan


"kak nanti kakak tidur dimana?" tanya ziva karena tidak melihat sofa lain selain sofa yang ditiduri vanya


"kenapa? Kau mau mengajakku tidur diranjangmu juga hum?" goda zayyan


"ish mesum" ucap ziva


"haha, aku akan tidur disini disampingmu" jawab zayyan sambil melirik kursi yang ia tempati


"dikursi itu?" tanya ziva memastikan


"iya sayang" jawab zayyan


"kak lebih baik kau pulang saja, nanti tubuhmu sakit kalau tidur sambil duduk" ucap ziva cemas


"astaga kau itu bawel sekali, ayo cepat tidur jangan banyak ngoceh" ucap zayyan mulai mengelus elus pucuk kepala ziva


"kak kalau tidak nyaman pulanglah kerumah jangan memaksakan" ucap ziva lagi


"tidak akan sakit sayang, ayo tidur lah" ucap zayyan


Setelah ziva tertidur zayyan mengecup pucuk kepala ziva lalu ia menyandarkan kepalanya diujung ranjang ziva dan ia pun tertidur.


Keesokan harinya..


"nak kenapa kau jadi begini? Kenapa dirumah itu kau selalu saja terluka" ucap bu liza melihat kondisi anaknya saat ini


Ya semalam bu liza diberi kabar oleh silvi kalau ziva masuk rumah sakit, jadi pagi-pagi sekali bu liza sudah ada di rumah sakit.


"ziva yang ceroboh bun, ziva terpeleset dari tangga" jawab ziva


"ziva sudah cukup kau bohong pada bunda, bunda tau ada orang yang tidak suka padamu dirumah itu hingga terus mencelakaikmu seperti hari ini, setelah kau sembuh kau akan tinggal dirumah bunda, bunda sendiri yang akan bicara pada ayahmu" keputusan final bu liza


"bunda jangan khawatir ..." ucapan ziva terpotong


"jangan khawatir kau bilang nak? Kau lihat kondisimu sekarang, bagaimana kau akan kuliah kau harus menggunakan kursi roda, masa depanmu sudah direnggut ziva sadarlah, cukup kau menutupi semua kejahatan seseorang hanya untuk kebahagiaan orang lain, hatiku saja sebagai orang yang melahirkanmu sangat hancur melihatmu saat ini bagaimana denganmu sendiri, bunda tau kau hanya berpura-pura kuat didepan semua orang" tangis bu liza pecah


"dengar baik-baik ziva kalau bunda menemukan bukti siapa orang munafik yang ada dibalik semua ini bunda akan memberinya pelajaran" geram bu liza


Ziva hanya bisa diam sambil menatap zayyan yang ada diujung ranjangnya