My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Berpamitan



Dan tanpa membuang waktu pak william langsung beranjak dari sana untuk melihat sang cucu. Sedangkan bu bianca mendekati ranjang sang putra yang menatapnya dengan penuh tanya.


"nak, bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?" tanyaDan tanpa membuang waktu pak william langsung beranjak dari sana untuk melihat sang cucu. Sedangkan bu bianca mendekati ranjang sang putra yang menatapnya dengan penuh tanya. bu bianca pasalnys sedari pagi ia terus disibukkan oleh urusan menantu dan cucunya yang baru saja hadir di dunia ini


"aku jauh lebih baik" jawab zayyan


"baguslah jika begitu, apa kau butuh sesuatu? Kau lapar? Ingin makan? Atau ingin ke kamar mandi hem?" tanya bu bianca bertubi tubi


"aku tidak butuh apapun" jawab zayyan


"oh baiklah, kalau begitu istirahatlah dulu nak" pinta bu bianca


"hmm bagaimana dengan mereka?" tutur zayyan dengan ragu ragu


"siapa nak?" tanya bu bianca yang berpura pura tidak tahu


"ziva dan putranya" jawab zayyan masih dengan keraguan dihatinya


"oh baik, ziva hanya tinggal pemulihan saja, dan putra kalian yang tampan itu dia sangat sehat" jawab bu bianca dengan penuh penekanan


Zayyan mengangguk setelah mendapatkan jawaban atas keresahan yang sedari tadi menghantui pikiran juga hatinya.


"ah cucuku yang sangat lucu, Nio tampan kesayangan oma" cicit bu bianca sambil memandangi ponselnya yang tertera foto cucu semata wayangnya.


Zayyan menoleh kearah kiri dimana mommy nya sedang duduk disana, ia kembali dibuat penasaran dengan nama yang disematkan pada putra kecil itu.


"Nio? apa ziva sudah memberinya sebuah nama?" zayyan malah bertanya pada dirinya sendiri


Bu bianca yang sedang selonjoran kaki disofa menatap sang putra yang kembali memasang wajah kusut karena rasa penasaran yang menguasai dirinya.


"nak ada apa? Kau tidak istirahat? Apa kau ingin sesuatu?" tanya bu bianca


"tidak mom" jawab zayyan dengan gengsi


"oh baiklah, jangan banyak berfikir nanti kepalamu sakit, lebih baik istirahat agar kau segera pulih" ucap bu bianca tanpa beranjak dari posisi awalnya


"hmm iya mom" sahut zayyan


Zayyan memijat pangkal hidung sambil memejamkan mata, ia merebahkan tubuhnya untuk ia rehat sebentar.


Keesokan harinya..


pagi ini ziva sudah diizinkan untuk pulang setelah pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter alesya menunjukkan bahwa ibu dan anak itu sehat dan tidak ada keluhan apapun terlebih ziva melahirkan secara normal jadi tidak ada yang harus dikhawatirkan.


"bun aku ingin pergi ke kamar suamiku dulu sebelum aku kembali" ucap ziva menatap bu liza yang sedang mengemas barang putranya


"boleh, nanti bunda akan antarkan kalian kesana" tutur bu liza


"ziva, sepertinya nio haus beri dia asi" vanya memindahkan baby nio dari gendongannya kepada ziva


Dengan bantuan kursi roda ziva didorong oleh bu liza menuju ruang rawat zayyan sedangkan baby nio berada dalam gendongan vanya yang juga mengekor dibelakang ziva.


"permisi" ucap ziva saat ia mendorong pintu ruangan zayyan


Terlihat zayyan sedang makan sambil disuapi oleh bu bianca, seulas senyum mengembang dibibir zayyan saat melihat wanita yang menghantui pikirannya sedari kemarin datang menemuinya.


"sayang, kau kemari nak" ucap bu bianca yang beranjak dari duduknya


"iya mom, kami akan pulang jadi aku datang untuk berpamitan" tutur ziva


Senyuma yang semula mekar kiri hilang saat mendengar bahwa ziva akan pergi dari rumah sakit itu.


"kau akan meninggalkanku?" pertanyaan bodoh itu tiba tiba saja keluar dari bibir zayyan, dan membuat situasi disana menjadi kaku.


Semua orang yang ada disana saling pandang, namun bu bianca berusaha mencairkan suasana.


"aduh cucu oma sayang" bu bianca meletakkan piring yang masih berisikan makanan zayyan dan mengambil alih sang cucu dari tangan calon menantunya itu.


"eh kalian sudah sarapan belum? Disana banyak makanan" ucap bu bianca sembari menunjuk meja makan yang ada disudut ruangan itu


"kebetulan memang belum" sahut bu liza yang juga ikut mengalihkan pembicaraan


"yasudah kalau begitu kalian sarapan dulu liza, ayo vanya sayang" ajak bu bianca


Mereka bertiga pun menjauh dari ranjang zayyan menuju meja makan yang letaknya cukup jauh dari tampat dimana ada zayyan dan ziva, mereka memang sengaja melakukan hal itu agar ziva dan zayyan bisa berbicara dari hati ke hati.


"kau mau makan lagi? Biar aku suapi" ucap ziva turun dari kursi roda dan hendak mengambil piring makanan zayyan namun zayyan malah menahan lengannya agar tidak perlu menyentuh piring itu


"aku sudah kenyang" zayyan menuntun ziva agar duduk diranjang nya dan tentu saja zayyan mengikis jarak diantara mereka


"aku tidak bermaksud meninggalkanmu, tapi jika aku tidak kembali siapa yang akan mengurus nio" ucap ziva sembari menggenggam tangan suaminya yang menatapnya dengan sendu


"siapa? kau memberi nama putramu siapa?" tanya zayyan


"dia putramu juga" tekan ziva


"maaf" ucap zayyan seolah menunjukkan ketidak berdayaan


"Arsenio Albert Richard, dulu suamiku ini telah menyiapkan nama itu saat usia kandunganku menginjak 9 bulan, namun seminggu kemudian musibah datang dan merubah semuanya" ucap ziva dengan sendu


"apapun itu aku aku akan menyayangi kalian dengan segenap hatiku" tutur zayyan diiringi dengan senyuman yang sangat ziva rindukan


Tidak tahan lagi ziva pun memeluk dengan sangat erat pemilik tubuh kekar itu, ia menumpahkan air matanya didada bidang suaminya.


"ziva kenapa kau menangis" zayyan mencoba mengurai pelukan itu agar dapat melihat wajah istrinya namun ziva enggan melepas pelukannya


"aku hanya ingin kau cepat pulih suamiku, aku ingin kita merawatnya bersama sama, aku tidak sanggup jika tanpamu" ucap ziva ditengah tengah isaknya