My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Memalukan



Ziva berpindah dan duduk dipangkuan zayyan sambil melingkarkan kedua tangannya dileher zayyan, sudah lama mereka tidak bermesraan seperti ini.


"ziva, bukannya memaksa tapi setelah semua badai yang kita lalui aku menjadi sangat takut untuk menghadapi badai yang lebih besar lagi, aku ingin secepatnya menjadikan mu milikku, milikku seutuhnya dan selamanya, apalah arti cincin yang tersemat dijarimu setelah pertunangan itu bukan sebuah pengikat untuk kita, tapi akad yang aku ucapkan dihari pernikahan kita itulah pengikat sesungguhnya" ucap zayyan sambil menyelipkan rambut ziva ke belakang telinganya


"ya? Kau mau ya menikah denganku?"tambah zayyan dan dijawab anggukan oleh ziva


Zayyan perlahan mendekati bibir ziva hendak memberikan kecupan dibibir manis itu namun greis malah menganggu aktivitas mereka, ia membuka pintu ruangan ziva tanpa mengetuk


"astaga" pekik greis saat melihat adegan yang cukup intim itu


spontan ziva yang sedang duduk dipangkuan zayyan langsung berdiri dan tidak sengaja kepala mereka ikut terbentur bersama.


"aw" pekik ziva dan zayyan bersamaan sambil mengelus kepala mereka yang sakit


"maaf kak seharusnya aku mengetuk dulu" ucap greis menundukkan pandangannya


"tidak papa greis, apa ada yang penting" ziva berusaha bersikap biasa saja padahal ia sangat malu saat ini


"tidak begitu penting kak, aku akan kembali sejam kemudian" greis langsung saja menutup kembali pintu ruangan ziva


"omg sangat memalukan" ucap ziva menutup wajahnya dengan kedua tangannya


"hey kenapa harus malu, seharusnya kau lah yang harus marah padanya karena dia sudah tidak sopan menerobos ruanganmu" ucap zayyan


"dia masuk tanpa mengetuk dulu itu sudah biasa, yang masalah disini adalah kita mesum dikantor" ucap ziva sambil mempelototi zayyan


"ah kau itu lebay sekali, wanita dan pria berciuman itu hal yang lumrah untuk orang dewasa tekecuali dia itu anak anak SD" ucap zayyan dengan santainya


"terserah kau saja dan cepat pergi ke kantor ini sudah siang" ucap ziva memperlihatkan jam tangannya


"oke sayangku, aku kerja dulu jaga diri mu ya, eh dan satu lagi aku akan usahakan pernikahan kita terlaksana paling lambat minggu depan oke" ucap zayyan tidak lupa ia mengecup kening ziva sebelum ia pergi


keesokan harinya, ziva dibantu oleh bu liza bersiap siap untuk mengemas beberapa barang karena hari ini pak leon telah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.


"nona zivani ini resep obat yang harus dibawa pulang dan jangan lupa untuk mengurus administrasi nya ya" ucap perawat itu sembari memberikan selembar kertas resep obat


"baik sus terima kasih" ucap ziva ramah


"bunda tolong jaga ayah sebentar ya" pinta ziva karena ia harus mengurus biyaya rumah sakit ayahnya


"saya mau melunasi biyaya administrasi atas nama bapak leonardo smith" ucap ziva pada perawat yang berjaga


"sebentar ya" ucap perawat itu dan diangguki oleh ziva


"atas nama bapak leonardo smith sudah dibayar lunas bu" sambung perawat itu


"hah? siapa yang bayarkan? Dan kapan?" tanya ziva heran


"baru saja dan untuk pembayarnya disini tertera nama pak zayyan richard" jawab perawat itu


"ayo ayah bunda kita pulang" ucap ziva sambil menggandeng tangan ayahnya


Sesampainya dirumah besar keluarga smith, kedatangan pak leon langsung disambut hangat oleh silvi dan vanya mereka mendekorasi rumah mewah itu dengan dekorasi yang cukup sederhana.


"selama datang ayah" pekik silvi dan vanya bersamaan


"ayah sehat selalu yaa" ucap vanya sembari memeluk pak leon


"terima kasih nak" ucap pak leon membalas pelukan vanya


"ayah, jaga kesehatan yah maaf karena silvi ayah jadi sakit" ucap silvi sambil meneteskan air matanya


"sayang semua ini bukan karenamu jadi jangan pernah menyalahkan dirimu, dan bukan hanya ayah yang harus menjaga kesehatan kau juga harus menjaga dirimu baik baik karena ada cucu ayah disini" ucap pak leon sembari mengelus perut silvi yang sudah sedikit terlihat membuncit


"silvi sayang ayah" ucap silvi memeluk pak leon dengan erat


"dan my princess ayah ucapkan terima kasih karena kau selalu setia menemani ayah dirumah sakit, semoga kau selalu bahagia" ucap pak leon merangkul ziva


"liza maafkan aku kalau semasa aku dirawat selalu merepotkanmu, bahkan ucapan terima kasih pun aku rasa tidak cukup untuk apa yang telah kau lakukan untukku" ucap pak leon pada bu liza


"sudahlah mas tidak perlu bicara begitu, semua yang terjadi padamu juga ada keterkaitannya dengan anak anakku jadi aku juga ingin turut membantu mereka" ucap bu liza dengan tulus


"hmm ngomong ngomong apa kita terus berdiri disini?" tanya ziva


"astaga iya, ayo semuanya kita masuk" silvi turut menggandeng ayahnya


"halo bibi, apa kabar?" sapa bu liza pada IRT yang masih setia bekerja dirumah itu


"ya tuhan ibu" bibi kaget melihat keberadaan bu liza karena sudah lama tidak bertemu


"hahaha bibi sehat ?" tanya bu liza


Bu liza memilih mengobrol bersama bibi didapur sedangkan yang lainnya duduk diruang keluarga.


"ziva" panggil pak leon


"iya ayah" jawab ziva


"bagaimana hubunganmu dengan zayyan?" tanya pak leon karena sejak ia sadar zayyan sudah tidak pernah melihat zayyan


"kami baik ayah" jawab ziva


"maksud ayah, apa kalian masih bersama?" tanya pak leon memastikan


Silvi juga ikut menyimak dengan serius jawaban ziva, karena ia juga penasaran sekaligus takut jika ziva dan zayyan tidak kembali rujuk.