My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Pergi terapi



"pagi bunda, pagi cantik" ucap zayyan sambil berjalan kearah bu liza dan ziva yang sedang sarapan


"ayo sarapan bersama nak" ajak bu liza


"terima kasih bunda, aku sudah sarapan dirumah" tolak zayyan dengan halus


"aku selesai" ucap ziva membersihkan mulutnya dengan tisu


ziva lalu menjalankan kursi rodanya sendiri namun dengan sigap zayyan langsung membantu ziva mendorong kursi rodanya


"bunda ziva pamit" ucap ziva berpamitan dengan bu liza


"hati-hati nak, semangatlah untuk sembuh ya" ucap bu liza dilanjutkan mengecup wajah ziva


"bunda kami pergi dulu" pamit zayyan sambil mencium punggung tangan bu liza


zayyan menggendong ziva untuk masuk ke dalam mobil lalu ia melipat kursi roda ziva untuk ia masukkan ke dalam bagasi. Kemudian ia masuk kemobil duduk dibelakang kemudinya.


selama perjalanan ziva terlihat diam saja, akhirnya zayyan memulai percakapan. Menurutnya ziva sedikit aneh sejak tadi malam, biasanya ziva sangat periang, juga cerewet dan manja namun sekarang ia hanya diam dan menjawab seperlunya


"sayang" panggil zayyan


Ziva tidak menjawab namun ia langsung menengok ke arah zayyan.


"kenapa? Apa ada masalah?" tanya zayyan dan dijawab gelengan kepala oleh ziva yang artinya tidak ada


"kau menyembunyikan sesuatu padaku" ucap zayyan to the point


"aku bilang tidak ya tidak" jawab ziva mulai tersulut emosi


"bohong" balas zayyan semakin memancing ziva


"terserah" ziva berusaha meredam emosinya, ia akan mengeluarkan unek-uneknya nanti saat pulang terapi saja


"oke, berarti sekarang kau mulai tertutup padaku, kalau begitu jangan salahkan jika aku juga akan...." ucapan zayyan dipotong oleh ziva


"stop, aku tidak mau dengar apapun" ziva menyudahi sebelum zayyan mengatakan kemungkinan kemungkinan buruk itu


"hey ayolah kau itu kenapa? Sejak semalam kau aneh sekali" ucap zayyan menyentil ziva


"aneh katamu? Ya aku memang wanita yang aneh, gila dan tidak tahu diri, turunkan saja aku disini aku bisa pergi terapi sendiri siapa yang menyuruhmu untuk datang menjemputku" oceh ziva


Zayyan menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan


"mungkin dia sedang PMS" gumam zayyan yang dapat terdengar oleh ziva


"aku tidak sedang PMS, jangan sok tau" bantah ziva sungguh moodnya sangat berantakan pagi ini


"ya maafkan aku" zayyan menyudahi perdebatan mereka karena sudah sampai di lingkungan rumah sakit


"ziva pelan-pelan" bentak zayyan saat ziva memaksakan kakinya untuk turun dari mobil dengan buru-buru sedangkan zayyan baru akan membawakan kursi rodanya


"aku bisa kak" tekan ziva merasa diremehkan


"cukup ziva jangan memancingku" ucap zayyan hanya dibalas dengan tatapan sinis oleh ziva


"kau harus bisa berjalan secepatnya, ingat sebentar lagi kau akan menjadi seorang sarjana" bisik zayyan sambil mendorong kursi roda ziva menuju ruang terapi


"selamat pagi nona ziva pak zayyan" sapa dokter laura


"bagaimana nona ziva setelah terapi kedua minggu kemarin apa ada progres?" tanya dokter laura


" iya dok sekarang kakiku sudah tidak berat lagi jadi sudah bisa digerakkan" jelas ziva


"baguslah itu progres yang sangat baik, hari ini kita akan buka gipsnya ya jadi tinggal dibiasakan saja kakinya untuk diajak berpijak, walau belum bisa diajak melangkah paling tidak bisa untuk berdiri dulu ya" ucap dokter laura


"iya dok" jawab ziva


"oke mari kita mulai terapinya" ajak dokter laura


Zayyan hanya melihat ziva yang sedang terapi dari kejauhan. Setelah menjalani terapinya ziva diajak untuk berdiri agar kaki ziva tidak kaku.


"pak bisa mohon dibantu" pinta dokter laura pada zayyan


"baik dok" zayyan menggenggam tangan ziva agar ziva tidak jatuh saat berdiri


"apa masih nyeri?" tanya dokter laura saat ziva berhasil berdiri sempurna


"sedikit dok" jawab ziva


"lepas pegangannya pak" pimta dokter laura pada zayyan agar ziva bisa menyeimbangkan tubuhnya


"bisa?" tanya dokter laura pada ziva


"bisa dok" ziva berdiri sempurna dengan kedua kakinya sebagai pijakan


"bisa dicoba untuk melangkah? Dua langkah dulu" tanya dokter laura


Pelan pelan ziva melangkah sedangkan zayyan tetap berjaga disamping ziva jangan sampai ziva jatuh, satu langkah dua langkah berhasil ziva lalui, senyum lebar terpampang diwajah ziva dan zayyan.


"oke nona ziva, nanti bisa dicoba dengan perlahan dirumah yaa, kalau melihat progres saya menafsirkan sebulan lagi pasti nona ziva sudah bisa berjalan" ucap dokter laura memberi semangat pada ziva


"terima kasih dok" ucap ziva


"obatnya tetap diminum ya" ucap dokter laura


"iya dok" jawab ziva


"oke, semangat ya untuk sembuh" ucap dokter laura


"iya dok, kami pamit ya dokter" ucap ziva berpamitan


"iya silahkan" ucap dokter laura


zayyan lalu mendorong kursi roda ziva menuju mobilnya. Ziva lalu masuk ke mobil tanpa di gendong zayyan.


"kau dengar sebulan lagi kau akan berjalan normal" ucap zayyan sangat bahagia


"aku dengar" ucap ziva datar


"kau tidak senang kau akan berjalan?" tanya zayyan


"mana ada orang lumpuh yang tidak senang saat dia sudah bisa berjalan" gerutu ziva


"kau itu dari tadi marah marah terus, kalau aku punya salah ya katakan" pungkas zayyan


"menurutmu?" ziva bertanya balik