
"uuh" lagi lagi suara **** itu keluar dari bibir ziva
Mendengar itu zayyan semakin menggila, ia melepas kausnya karena merasa panas disekujur tubuhnya, bibir zayyan turun ke leher jenjang ziva ia mengecup dan meninggalkan banyak tanda kepemilikan dileher mulus ziva.
Tidak puas sampai disitu, zayyan hendak membuka satu persatu kancing kameja ziva namun suara ziva langsung menghentikan aktifitasnya
"kak sebentar, aku haus bisakah kau ambilkan aku minum"pinta ziva
Zayyan mengangguk patuh, ia berdiri tidak lupa memungut kausnya yang sempat ia lepaskan tadi dan keluar dari kamarnya menuju dapur.
Ia mengambil gelas lalu menuangkan air mineral ke gelas itu namun karena melamun memikirkan bagaimana ia bisa lari dari ziva ia tidak sadar kalau gelas telah penuh hingga tumpah membasahi kakinya sendiri
"omg" zayyan kaget dan buru buru mengambil tisu dan mengelap tumpahan air itu
Zayyan lalu membuka lemari gelasnya untuk memgambil gelas baru namun tiba tiba suatu benda kecil jatuh dari lemari itu lalu zayyan memungut benda itu dan ternyata itu adalah obat tidur yang beberapa hari lalu ia simpan dilemari itu.
Seketika otaknya bekerja, ia lalu menuangkan jus jeruk digelas yang baru dan ia mencampurkan bubuk obat tidur tadi.
"maaf ziva, tapi ini tidak benar dan aku takut aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri" batin zayyan
Tidak lama kemudian zayyan kembali dengan membawa gelas berisi air.
"loh aku kan mintanya air kok jadi jus?" protes ziva saat zayyan kembali dengan membawa segelas jus jeruk
"bukannya berterima kasih malah protes" ketus zayyan
Ziva mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan zayyan yang ketus.
"ini, istirahatlah dulu nanti kita akan lanjutkan lagi" zayyan mengedipkan sebelah matanya membuat ziva salah tingkah
"terima kasih tuan richard yang baik hati" puji ziva setelah menerima jus itu
zayyan lalu keluar dari kamarnya ia mencoba menenangkan diri diruang kerjanya.
"huh benar benar menyiksa" ucap zayyan
Zayyan meminum beberapa kaleng minuman bersoda tanpa alkohol, sudah berjam jam ia menghabiskan waktu di ruangan kerjanya itu untuk menjaga jarak aman antara ia dan ziva namun ia tersadar akan waktu yang sudah menunjukkan jam 11 malam, ia teringat ziva yang masih ada dikamarnya, ia harus memulangkan ziva sebelum bu liza merasa khawatir.
Zayyan memutar knop pintu kamarnya perlahan lahan, terlihat ziva tertidur dengan pulasnya masih menggunakan selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya hingga leher, zayyan mengurungkan niatnya tidak mungkin ia membangunkan ziva teringat ia telah memberikan obat tidur dosis tinggi yang ia campurkan di air minum ziva tadi.
Tiba tiba muncul ide dikepala zayyan, zayyan memotret gambar ziva yang sedang tertidur itu lalu ia keluar dari apatemennya, tujuannya saat ini adalah kediaman smith.
"halo" ucap zayyan yang saat ini sedang menelepon silvi
"ya halo yan, ada apa?" jawab silvi diseberang sana
"bisa keluar sebentar? Aku didepan rumahmu" ucap zayyan dengan suara datarnya
"apa? Kau didepan yan? sebentar tunggu disitu" jawab silvi dengan semangat
"ya" zayyan langsung memutus sambungan teleponnya
terlihat silvi berjalan setengah lari keluar dari rumahnya menuju mobil zayyan, silvi lalu mengetuk jendela mobil zayyan yang masih tertutup rapat dan masuk ke dalam mabil setelah dipersilahkan oleh zayyan.
"ada apa yan? Ini sudah cukup larut"ucap silvi saat ia sudah berada dalam mobil zayyan
"hari ini kau mengirim ziva ke apartemenku untuk membuatku setuju dengan pernikahan sialan ini, aku ucapkan selamat karena caramu berhasil wow hebat sekali" zayyan bertepuk tangan disertai senyum sinisnya
"ziva keapartemenmu? Aku berani sumpah zayyan aku tidak menyuruhnya untuk menemuimu, dia sendiri yang kasihan melihat kondisiku jadinya ia menemuimu" silvi berusaha menjelaskan pada zayyan
"intinya maksud dan tujuannya adalah dirimu" sangga zayyan
silvi diam tanpa membalas perkataan zayyan, dalam hatinya ia cukup senang ziva menepati janjinya dan membuat zayyan bersedia menikah
Zayyan lalu membuka ponselnya dan memperlihatkan foto ziva yang sedang tertidur dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya hanya menyisakan kepalanya saja.
"zayyan kau apakan adikku?" silvi terkejut melihat gambar tersebut