My Promise Is Your Happiness

My Promise Is Your Happiness
Mommy Sikembar



Ziva hanya bisa diam sambil menatap zayyan yang ada diujung ranjangnya


Dikediaman richard


"bi tolong panggil zayyan dikamarnya untuk sarapan" perinta bu bianca


"maaf bu nak zayyan belum pulang dari semalam" ucap bibi


"apa?" teriak bu bianca


"dek kau telfon kakak mu cepat, tanyakan dimana dia sekarang" pinta bu elen pada rayyan


Rayyan menghentikan sarapannya lalu mencoba menghubungi zayyan dan dijawab oleh zayyan


"halo kak.." ucapan rayyan terputus saat ponselnya direbut bu bianca


"kak kau dimana? Kenapa tidak pulang semalaman?" tanya bu bianca cemas


"aku di rumah sakit mom" jawab zayyan


"apa? kau kenapa nak? Kenapa bisa masuk rumah sakit? dan kenapa tidak mengabari kami dirumah" cecar bu bianca karena panik


"mom tenanglah dulu, bukan aku yang sakit, tetapi pacarku jadi aku menemaninya disini" jelas zayyan yang mengerti kekhawatiran mommy nya


"oh yaampun, mommy kira kau kenapa-kenapa nak, boleh mommy menjenguk pacarmu?" tanya bu bianca


"boleh lah mom, nanti akan aku kirimkan alamat dan nomor kamarnya ya" jawab zayyan


"baiklah nak, habis sarapan mommy langsung kesana ya" ucap bu bianca


"iya mom" ucap zayyan memutus sambungan telepon


"Dad habis ini mommy mo kerumah sakit ya" ucap bu bianca


"ya terserah mommy saja" jawab pak will


"dek mommy boleh nebeng nggak?" tanya bu bianca pada rayyan


"it's okey mommy" jawab rayyan


Setelah semua selesai bu bianca buru-buru bersiap untuk ke rumah sakit, dari tadi rayyan sudah menjerit karena ia yang kelamaan dandan.


"mommy ayolah cepat sedikit aku akan telat" teriak rayyan dari bawah tangga


"lets go baby" sahut bu bianca yang mulai menuruni tangga


"mommy ini mau jenguk orang sakit apa mau fashion show" gerutu rayyan sambil melangkah lebar menuju mobil


"yaampun dek, tentu mommy harus terlihat elegant didepan calon menantu mommy yakan?" ucap bu bianca tanpa digubris rayyan


setelah satu jam dalam perjalanan sampailah dirumah sakit yang di tuju, bu bianca berjalan sendirian tanpa diikuti rayyan atau pengawal, ia mencari kamar yang dikirimkan rayyan padanya dan ia menemukan kamar itu ia pun mulai memutar knop pintu kamar rawat itu.


"permisi" ucap bu bianca


"mommy ayo sini" sahut zayyan yang sedang duduk disofa dekat tempat tidur pasien


"dimana pacarmu?" tanya bu bianca saat melihat tempat tidur itu kosong


"sedang ditoilet" ucap zayyan


"dia bersama kakak mom, lagian aku tidak bisa membawanya ke toilet dia itu wanita kan tidak sopan" ucap zayyan dibenarkan oleh bu bianca


Tidak berselang lama terdengar kursi roda yang di dorong keluar dari toilet, pandangan ziva dan bu bianca bertemu.


"loh zivani kan?" tanya bu bianca yang mengenali ziva


"iya bu" ucap ziva tersenyum namun ia bingung mengapa bu bianca bisa ada dikamar rawatnya


vanya mendorong kursi roda ziva menuju kasurnya lalu zayyan menggendongnya untuk dibaringkan kekasurnya


"nak kau kenapa bisa seperti ini? bukannya baru kemarin kita bertemu?" tanya bu bianca melihat kondisi ziva


Belum sempat ziva menjawab zayyan lebih dulu memotongnya


"sebentar, kalian sudah saling kenal?" tanya zayyan heran


"ia kak kemarin terjadi insiden kecil dimall saat mom belanja dan zivani yang menolong mommy" jelas bu bianca


"ziva kau juga sudah mengenal mommyku?" tanya zayyan saat melihat raut muka ziva yang juga keheranan


"aku mengenal ibu ini kak, tetapi aku tidak tau kalau ibu ini adalah mommymu" ucap ziva


"ah iya aku mommy nya zayyan, awalnya mom ingin menjodohkanmu dengan anak bungsuku namanya rayyan eh ternyata kau kekasihnya anak sulungku, tetapi tidak apa-apa yang penting kau tetap jadi menantuku" ucap bu bianca apa adanya


Zayyan dan ziva terperangah mendengar ucapan bu bianca, tidak terkecuali dengan vanya dia kaget ternyata ibu yang didepannya ini juga orang tua dari pria gila yang hampir saja merenggut kesuciannya.


"hai nak, itu kakak mu ziva?" tanya bu bianca saat ketiga orang itu masih sibuk dengan lamunan masing masing


"ah iya bu itu kakak ku" ucap ziva membuyarkan lamunan vanya


"aku zivanya bu kakak kedua nya ziva" ucap vanya memperkenalkan dirinya


"zivani dan zivanya nama yang indah" puji bu bianca tiba-tiba muncul ide jahil dikepalanya


"bu duduklah dikursi ini" tawar vanya mempersilahkan bu bianca untuk duduk dikursi yang ada didekatnya


"ah terimakasih zivanya sepertinya memang kau cocok untuk menjadi calon menantuku" ucap bu bianca yang langsung membuat mata zivanya melotot


Sementara dikediaman smith saat ini suasana menjadi tegang karena kedatangan bu liza saat pak leon, bu elen dan juga silvi sedang menikmati sarapan.


"jadi apa tujuanmu datang kesini liza?" tanya leon dengan sorot mata serius


"aku ingin membawa ziva tinggal bersamaku setelah dia keluar dari rumah sakit" ucap bu liza dengan dingin


"tidak bisa bunda, aku tidak setuju" sahut silvi membuat semua mata tertuju padanya


"mas kau jangan lupa, dulu saat bercerai kita tidak mengurus perihal hak asuh ziva, dan kau hanya mengatakan bahwa aku punya hak yang setara dengan keluarga besarmu atas ziva dan vanya" pungkas bu liza


"iya liza aku ingat itu, tetapi aku membesarkan ziva sampai ia sebesar itu rasanya menyakitkan jika aku harus kehilangan dia dirumah ini" keluh pak leon berharap sikap toleran dari bu liza


"membesarkan ziva sambil menyiksanya begitu? dengar mas ziva seperti itu bukan pertama den kedua kalinya tetapi berkali-kali dan itu terjadi dirumahmu ini, kau ingat terakhir saat ziva tinggal dirumahku kau datang membawanya pulang dengan janji bahwa kejadian demikian tidak akan terulang lagi, jika terjadi lagi ziva berhak memilih dimana ia ingin tinggal agar ia merasa aman tanpa ada tekanan dari siapapun" bu liza mengingatkan kembali


"aku ingat liza, tetapi cobalah mengerti perasaanku aku sangat menyayangi ziva dia princessku dan aku tidak sanggup jika tidak ada dia dirumah ini"lirih pak leon


bu liza sangat geram dengan pak leon yang tidak bisa memegang kata-katanya.