
Sesampainya direstoran pilihan silvi, syaquel langsung memilih tempat untuknya dan silvi karena ia meminta pada ziva agar ia bisa berbicara empat mata dengan silvi awalnya ziva menolak namun lagi lagi silvi bisa diajak untuk kompromi jadi ia bisa menenangkan adiknya yang galak itu agar memilih tempat duduk yang sedikit berjauhan dari tempat mereka agar syaquel bisa merasa leluasa.
"tuan maaf jika aku kurang sopan karena aku sambil makan" ucap silvi
"ah silahkan sil lakukan sesukamu" ucap syaquel dengan ramah
"baiklah, katakan saja apa yang ingin dibicarakan tuan aku akan mendengarkan" ucap silvi, ia memang sengaja memanggil syaquel dengan sebutan tuan agar memperjelas jarak diantara mereka yang sudah begitu jauh
"sebelumnya aku ingin mengatakan bahwa aku benci dengan kau panggilanmu itu kepadaku" ucap syaquel dengan tatapan teduhnya
"oh ya? Apa aku salah? Aku hanya menghormatimu" ucap silvi sambil mengunyah makanannya
"kau seakan mempertegas status kita bagai orang asing"ucap syaquel dengan raut kekecewaan
"aku tidak bermaksud demikian" ucap silvi
"aku merindukanmu sil" syaquel langsung pada inti perasaannya
"what?" silvi langsung kaget, bagaimana tidak orang yang membuangnya bagai sampah malah mengatakan rindu padanya.
"apa kau tidak percaya?" tanya syaquel
"hahaha el sudahlah jangan bercanda, aku tidak punya waktu kau lihat sana bodyguard ku sudah mulai gelisah" ucap silvi sambil menunjuk kearah ziva
"aku serius sil, aku sangat merindukanmu, dan entah kenapa aku merasa sangat kosong saat kau pergi dari hidupku" ucap syaquel sembari memegang tangan silvi
"el puisimu sangat bagus" ucap silvi
"sil, aku sedang tidak bercanda, percayalah" ucap syaquel bersungguh sungguh
"hey el ayolah aku ini hanyalah sampah yang telah kau buang lantas untuk apa kau merindukanku" ucap silvi dengan mode serius
"sil jangan berbicara seperti itu, maafkan aku karena aku sudah keterlaluan padamu" ucap syaquel yang tiba tiba liputi rasa bersalah
"aku selalu memaafkanmu" ucap silvi dengan tegas
"menikahlah denganku" ucap syaquel spontan
mata silvi lansung membulat sempurna, detak jantungnya berdebar kencang lebih kencang dari pada saat syaquel memegang tangannya tadi, ia kaget setengah mati dengan kata yang dilontarkan oleh syaquel.
"ayo menikahlah dengan ku, aku berjanji tidak akan mempermasalahkan bayi yang sedang kau kandung aku akan menerimanya seperti darah dagingku sendiri" tambah syaquel
"el aku....."ucapan silvi langsung terhenti saat ziva sudah menarik tangannya hingga ia bangkit dari duduknya
Sejak tadi ziva sudah sangat gelisah melihat gerak gerik kakaknya bersama dengan pria bajingan itu, ia tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan keduanya dan saat syaquel memegang tangan silvi, ziva langsung naik pitam ia langsung bangkit berdiri ingin menghentikan pembicaran kedua makhluk tuhan itu namun tiba tiba ponselnya berdering ternyata suaminya menelponnya, ia kembali duduk lalu menjawab panggilan dari suaminya itu dan tentu saja ia mengurungkan aksinya.
"hallo suamiku ada apa?" tanya ziva dengan nada kesal
"hey kenapa kau marah sayang? Apa aku membuat kesalahan hari ini?" tanya zayyan diseberang sana
"suamiku cepat katakan ada apa?" ucap ziva tergesa gesa
"kau dimana sayang? Aku sedang dibutik tapi kata greis kau sedang keluar? Dan kenapa kau bicara terburu buru seperti sedang dikejar seseorang?" tanya zayyan bertubi tubi
"aku sedang dimall suamiku, aku pergi bersama kakak, dan aku akan menghubungimu lagi setelah kami pulang oke? bye i love you" ucap ziva lalu memutus panggilan itu.
Tanpa pikir panjang ia langsung menuju meja dimana silvi dan syaquel tempati.
"hey zivani sebentar" tahan syaquel
"waktumu sudah habis tuan syaquel" ucap ziva menekan setiap perkataannya
"ayolah nyonya richard 2 menit lagi" ucap syaquel memohon
"No" ketus ziva
Ziva menggandeng tangan silvi dan membawanya pergi dari sana menuju mobil.
"kita akan pulang?" tanya silvi
"yes" jawab ziva singkat
Sesampainya dimobil ziva tiada henti hentinya menginterogasi kakaknya
"kak apa yang tadi dia katakan?" tanya ziva sambil fokus menyetir
"tidak ada dek" jawab silvi
"jangan menyembunyikan apapun dariku kak" ucap ziva
silvi tidak menjawab ia hanya memijit pelipisnya, ia merasa pening saat ini.
"kakak ayo katakan dia berbicara apa?" ziva meninggikan suaranya
"ziva itu bukan urusanmu" jawab silvi
"kakak kau jangan lupa dia itu bajingan, jangan sampai kakak terpengaruh atas apa yang keluar dari mulut kotornya itu" ucap ziva kesal
"dia ayah dari bayiku ziva, kau tidak pantas menghinanya" bentak silvi
"hah? Oh jadi kakak sekarang membelanya? bagus" ucap ziva dengan tersenyum sinis
"dia mengajakku menikah" ucap silvi sambil memalingkan wajahnya kearah jendela
"lalu?" tanya ziva
"aku tidak menjawab" jawab silvi
"kenapa kakak tidak tolak saja?" tanya ziva
"aku tidak sempat menjawab karena kau sudah mengajakku pulang" ucap silvi
"jika kakak punya kesempatan lagi cepatlah tolak ajakan bodohnya itu" ucap ziva
"aku pikir tidak ada salahnya jika kami mencoba membangun rumah tangga, dengan begitu bayiku bisa mendapat kasih sayang ayahnya" ucap silvi
"kakak kau jangan tertipu dengannya" ucap silvi kesal
"apanya yang menipu? Dia mengajakku menikah, dan aku sedang mengandung anakknya bukanlah itu hal yang bagus? Dengan begitu kami tidak lagi jadi aib dikeluarga kita" ucap silvi
"aku tidak habis fikir denganmu kak" ziva kehabisan kata kata untuk menasehati kakaknya itu
Ziva lalu memarkirkan mobil dipekarangan rumahnya, ia hanya ingin mengantarkan silvi pulang tanpa mampir dulu karena ia harus segera pulang mungkin saja suaminya sudah dirumah saat ini.