
"Hay" ziva menyapa suaminya yang terlihat sedang menatap foto pernikahan mereka yang ada dikamar itu
Zayyan lalu menoleh pada sumber suara, terlihat wanita yang cukup ia rindukan beberapa hari ini.
"kemari" zayyan merentangkan tangannya agar ziva dapat masuk kedalam dekapannya
Dengan senang hati ziva berlari memeluk sang suami yang sangat ia rindukan, benar benar merindu.
"aku merindukanmu suamiku" ucap ziva menghirup aroma tubuh sang suami.
zayyan tidak menjawab ia hanya terus memeluk erat ziva dan mengelus rambut halusnya.
"kau tidak marah pada ku kan?" tanya ziva dengan mendongakkan kepalanya
"memangnya kau salah apa?" zayyan malah bertanya balik
"aku..aku kan tidak memberimu kabar kemarin" ucap ziva dengan polos
"kau kan punya alasan" sahut zayyan
"terima kasih" ziva kembali mereebahkan kepalanya didada zayyan
"dimana dia?" tanya zayyan
" siapa?" alis ziva berkerut
"si jagoan" ucap zayyan
"ah dia sedang tidur" jawab ziva
"kau meninggalkannya sendiri?" tanya zayyan
"tidak, ada bi ani yang membantuku" jawab ziva
"oh syukurlah" zayyan menetralisir perasaannya
"aku ingin menghabiskan waktuku bersama suamiku ini" ucap ziva duduk dibibir tempat tidur
"oh ya? Memangnya apa yang akan kita lakukan hari ini?" tanya zayyan
"kita bisa melakukan apapun sayang" goda ziva dengan mengedipkan sebelah matanya
"ck, aku jadi merinding" Zayyan menyapu tekuknya
"ish kau ini benar benar tidak romantis" gerutu ziva
"haha, lalu aku harus seperti apa mommy nya nio?" zayyan menjadi gemas melihat tingkah ziva
"cium aku" pinta ziva tanpa dosa
"apa?" zayyan cukup terkejut dengan permintaan konyol ziva
"ya cium aku, kau tadi seharusnya menyambutku dengan ciuman" tekan ziva
"kau ini ada ada saja" zayyan terkekeh
"sayang ayolah" ziva menarik narik kameja yang dipakai oleh zayyan
"hey, ziva kalau nio menangis bagaimana?" zayyan mencoba mengalihkan pikiran kotor ziva
"memangnya kenapa dia harus menangis? kan dia sedang tidur" ucap ziva
"kalau dia bangun dan kau tidak disampingnya maka dia akan menangis" jawaban bodoh yang diberikan zayyan membuat ziva terkekeh
"haha, nio masih bayi suamiku jika diberi Asi dia akan diam" berang ziva
"tapi akan Asinya ada padamu" tunduk zayyan pada dada ziva
"kau tenang saja, aku sudah memompa Asi" ucap ziva
"memompa? Maksudmu?" pikiran zayyan malah traveling entah kemana
"iya suamiku tidak usah kau pikirkan hal hal seperti itu adalah urusanku" ziva jadi geram dengan zayyan yang mengulur waktu
Dengan cepat ziva menarik tubuh zayyan agar mereka naik ke ranjang.
"tapi ziva .." belum terselesaikan ucapannya ia sudah lebih dulu jatuh keatas ranjang dengan posisi mengukung tubuh ziva
penglihatan zayyan menjadi sayu saat melihat bibir ziva yang kini menjadi candunya setelah ziva mencuri ciumannya dirumah sakit kala itu.
perlahan zayyan pun mendekati wajah ziva hendak memberikan satu kecupan dibibir ranum itu, ziva dengan cepat mengikis jarak itu namun baru saja kedua bibir akan bersatu suara ketukan pintu malah mengganggu aktivitas mereka.
Zayyan pun dengan cepat bangkit dari posisinya, ia juga melangkah mendekati pintu untuk melihat siapa yang datang, sementara ziva mengerucutkan bibirnya karena kesal aksinya untuk melepas rindu malah gagal.
"zay aunty memanggilmu untuk makan siang" ucap claree dengan penuh kelembutan
"ya kami akan kesana" jawab zayyan
"kami?" claree mengerutkan keningnya
"iya mommy memanggil aku dan ziva kan? Kami akan segera datang" ucap zayyan lalu tanpa permisi menutup pintu kamar itu.
"siapa?" tanya ziva
"wanita itu.. Entahlah aku tidak tau namanya" jawab zayyan yang memang tidak ingat jika wanita itu adalah sepupu sekaligus mantannya dulu
"oh claree?" ucap ziva
"siapa namanya?" tanya zayyan
"Claree, dia sepupumu" ziva berusaha mengenalkan claree pada suaminya
"sepupuku?" zayyan bagaikan orang linglung jika mengenal orang yang baru baginya
"iya, ayahnya dan mommy kakak beradik" jelas ziva
"oh, kalau begitu ayo sudah waktunya makan siang" zayyan menarik pergelangan tangan ziva agar wanita itu bangkit
"tapi yang tadi bagaimana?" tanya ziva seolah sangat frustasi
"apanya?" zayyan kembali dibuat bingung dengan tingkah ziva
"itu loh" ziva memonyongkan bibirnya sebagai perumpamaan dari kata katanya
"oh yaampun, mungkin kau lapar ziva makanya otakmu jadi mesum terus seperti itu" zayyan menarik pergelangan ziva dan mencengkram pelan bahunya untuk menuntunnya agar segera keluar dari kamar yang hawanya entah kenapa menjadi panas.
"tapi suamiku.." ucapan ziva bagai menggantung diudara saat zayyan mempercepat langkah mereka.
Dimeja makan, satu keluarga itu menikmati makan malam mereka dengan saling bercengkrama.
"zayyan kau masih ingat tidak dengan sepupumu ini, claree? Claree valerie brown, ingat tidak?" bu bianca bicara dengan santai namun seakan penuh penekanan disetiap kata katanya.
zayyan hanya menjawab dengan gelengan kepala, ya jangan kan mengingat claree yang sudah bertahun tahun tidak bertemu bahkan ziva dan orang tuanya saja sempat terhapus dari ingatannya.
"tidak apa apa nak" jawab bu bianca diselingi raut kekecewaan
"claree ini anaknya uncle berend dan aunty cesiee, jadi kalian adalah saudara sepupu" lanjut bu bianca
"ya mom" zayyan hanya menjawab seperlunya saja
"dulu sewaktu kau dan adikmu memutuskan untuk kuliah dibelanda, kalian bertiga sangat dekat terutama kau zayyan, kalian selalu pergi bersama sama, tidak ada ada waktu yang kalian lewati tanpa claree, jika kau ingin pergi maka kau akan selalu membawa claree bersamamu, dan begitupun dengan rayyan" ucap bu bianca membayangkan masa lalu
"ya aku juga ingat saat diam diam zayyan membawa clar pergi kencan, haha" rayyan berbicara tanpa dosa
Seluruh anggota keluarga menatap penuh arti putra bungsu keluarga richard itu, ada yang menatapnya heran, ada yang menatapnya dengan tegang, ada juga yang menatapnya dengan berbahagia.
"bagus ray, kau sudah lebih dulu melakukannya sebelum aku bergerak" gumam claree dalam hatinya.
"oh yaampun anak ini kenapa ember sekali" bu bianca mengerutuki anaknya dalam hati, menurutnya rayyan benar benar ceroboh
"apa yang dia katakan?" isi hati zayyan sambil mentap rayyan dengan mengintimidasi
"kencan? apa maksud rayyan?" sementara ziva malah bertanya tanya dalam hatinya
"oh bagus anak bodoh itu malah membocorkannya" batin pak william juga mengerutuki kebodohan putranya
"ahahaha maaf, kenapa kalian malah menatapku begitu" rayyan merasa seperti tersangka saat semua orang menatapnya
"ah tidak apa apa nak, ngomong ngomong persiapan pernikahanmu sudah rampung belum?" tanya bu bianca sengaja mengalihkan arah pembicaraan
"what? Ray akan menikah?" claree cukup terkejut mendengarnya
"iya sayang, seharusnya awal bulan ini mereka sudah harus menikah, tetapi karena musibah yang menimpa zayyan kami sepakat untuk menundanya" jawab bu bianca
"siapa wanita beruntung itu ray?" tanya claree pada rayyan
"dia saudarinya ziva" rayyan menunjuk ziva melalui sorot matanya
"wah beruntung sekali mereka mendapatkan pria pria hebat seperti kalian" claree melontarkan kalimat yang bermuat sindiran
"kami lah yang beruntung memiliki mereka" bela rayyan
Claree tersenyum penuh arti sambil melirik kearah zayyan yang diam saja tanpa ada pembelaan, dan malah rayyan lah yang pasang badan untuk wanita wanita itu.