
Zayyan mengirim sebuah pesan kepadanya. Dengan semangat ia pun berdiri dan mendorong pintu ruangan zayyan. Yang benar saja didalam ruangan itu ada sikembar.
"kak maaf untuk yang tadi" ucap ziva sambil mendekat kearah zayyan yang sedang duduk di sofa bersama rayyan
"tidak masalah untuk apa minta maaf, duduklah" ucap zayyan sambil menepuk-nepuk tempat disampingnya
Ziva melirik pada rayyan yang juga sedang melihat padanya. Namun ia tetap menurut untuk duduk disamping zayyan.
"kenapa hem? Ada yang ingin kau katakan" ucap zayyan sambil merentangkan tangan kirinya kebelakang ziva
"iya ada yang ingin aku katakan" ucap ziva lalu ia melirik lagi kearah rayyan
"anggap aja aku patung kakak ipar" ucap rayyan mengerti lirikan ziva
"bukan begitu rayyan" sanggah ziva
"ayolah tidak perlu pedulikan dia" ucap zayyan mengikis jarak antara ia dan ziva
ziva sudah terbiasa dengan sikap zayyan yang seperti itu, setelah mengenal zayyan selama sebulan ini salah satu sikap zayyan yang menggemaskan bagi ziva ternyata zayyan sangatlah manja.
"kak terima kasih untuk yang itu" ucap ziva menatap mata coklat zayyan
"bicara yang jelas ziva" ucap zayyan gemas ingin sekali ia menggigit ziva saat ia sedang malu-malu seperti itu
"uummm kak sebenarnya tidak seperti ini konsepnya tapi ada rayyan disini aku tidak enak" bisik ziva ditelinga zayyan
Rayyan bertambah geli melihat kelakuan dua insan itu.
"rayyan kalau sudah tidak ada yang kau butuhkan pergilah" ucap zayyan mengibaskan tangannya pertanda menyuruh keluar
"yaampun kalian itu, makanya dikantor jangan messum dulu. Menggelikan" ucap rayyan sambil mengemas berkas-berkasnya kedalam tas nya
"makanya rayyan jangan menjomblo terus" singgung ziva
"memangnya situ udah nggak jomblo" singgung rayyan yang mengetahui hubungan ziva dan zayyan tanpa status saat ini
"ish" ziva memutar bola matanya malas
"rayyan cepatlah kenapa kau jadi lamban" protes zayyan saat rayyan belum pergi juga
"iya iya, ingat ini kantor jangan terlalu vulgar mana tau ada yang masuk" singgung rayyan sebelum pergi
"enak saja" ucap ziva tidak terima
"ayo katakan" desak zayyan saat melihat pintu ruangannya sudah tertutup kembali
Ziva langsung menghambur pelukan. Zayyan pun dengan hangat membalas pelukan itu.
"terimakasih untuk bangunannya" ucap ziva yang masih memeluk zayyan dengan erat
"kau sudah tau?" ucap zayyan santai
ziva lalu melepas pelukannya dan memainkan jari-jari zayyan seperti biasanya
"maaf ya aku tidak mengajakmu survei dulu, jadwalku akhir-akhir ini cukup padat dan aku berniat untuk menjadikan itu surprise agar aku mendapatkan hal yang spesial darimu" ucap zayyan dengan senyum khasnya
"umm, kakak ingin jawaban?" tanya ziva pahan dengan tatapan zayyan
"mungkin saja kalau kau mau memberinya" ucap zayyan
"ya aku mau menjadi pacarmu" ucap ziva pelan
"apa? Bisa kau ulangi" ucap zayyan menjahili ziva. Sungguh ia sangat senang ziva menerima cintanya yang sudah beberapa minggu ia terus ungkapkan, namun ia tidak ingin ziva berpikiran bahwa ia meminta imbalan atas bangunan yang ia hadiahkan pada ziva.
"ish tidak ada siaran ulang" kesal ziva memukul dada hari pelan
"hey aku bercanda begitu saja ngambek, jadi benar aku diterima?" tanya zayyan lagi
"iya" ucap ziva singkat sungguh ia sangat malu saat ini untuk menatap zayyan
"ziva dengar aku dulu, aku tidak membelikanmu bangunan itu supaya kau bisa menerimaku, no kau salah faham" ucap zayyan sambil menggenggam tangan ziva
"aku tau itu kak, aku hanya memberikan jawaban yang kau tunggu-tunggu" ucap ziva
"well, jadi kita terikat, dan kau tau kan kau tidak bisa dekat-dekat lagi dengan semua pria di dunia ini karena kau milikku" ucap zayyan
"wow mengerikan juga yaa, kalau dengan ayahku? Dia kan juga pria" ucap ziva
"ayahmu pengecualian" ucap zayyan sambil mengelus rambut hitam ziva
" oh ya, kalau rayyan?" tanya ziva
"tergantung" ucap zayyan
"what? Jawaban apa itu?" ucap ziva tidak mengerti
"tergantung keadaannya, kalau kau jalan berdua saja dengannya tentu tidak diperbolehkan, kalau kau bertiga boleh lah" jelas zayyan
"ish, dia itu saudaramu" ucap ziva
"tapi dia pria, bagaimana kalau dia menyukaimu, aku lihat kalian cukup akrab, sepertinya aku harus mengawasi rayyan" ucap zayyan
"astaga orang ini, yasudah aku kerja dulu" ucap ziva dan berdiri dari duduknya
"buru-buru sekali, seharusnya hari ini kita merayakan hari jadian kita" ucap zayyan sambil menahan tangan ziva yang akan pergi
"nanti malam saja, sekarang bekerja dulu" ucap ziva
"benar ya nanti malam" ucap zayyan
"aku janji, uuummmach aku pergi" ucap ziva berlari setelah memberi satu kecupan di pipi zayyan
"I love you baby" teriak zayyan saat ziva pergi dari ruangannya